Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #99

Gangster

Tiga puluh enam hari setelah babak seleksi dimulai, dan karena sudah banyak peserta yang menyerah akibat kelakuan serta kekacauan yang dibuat Ihsan dan saudara-saudaranya, babak seleksi akhirnya dihentikan sebelum waktunya. Bahkan babak final dipercepat karena adanya ketimpangan yang jelas di arena.

“Eh, hari ini tidak ada liga lagi,” ucap Yudi yang baru saja selesai mandi pagi itu.

“Iya, Yudi. Lima tim itu mengacaukan podium skor. Kelihatannya mereka akrab sekali sehingga tidak berusaha mengganggu satu sama lain. Mereka nampaknya telah merencanakan semua ini,” ucap Jack.

“Dugaanmu itu sepertinya benar. Aku dapat informasi kalau lima anak terkuat dari masing-masing tim itu adalah petinggi grup bisnis bernama Kailash. Aku tidak heran kalau mereka sekuat ini. Aku belum pernah melihat pejuang sekaligus pebisnis besar seperti mereka. Mereka pasti punya banyak sekali agenda. Jujur saja, setelah melihat susunan perusahaan mereka, aku lumayan kaget melihat cara operasi mereka. Kini mereka bahkan sudah beroperasi di dua negara besar dan sedang membuat bandara. Lima anak itu bahkan sudah punya pushpaka vimana pribadi saat baru lulus dari sekolah. Seiring dengan inovasi bisnis mereka, mereka pasti juga mengembangkan berbagai macam fitur untuk memperkuat diri sendiri. Mereka lebih pantas disebut gangster daripada prajurit,” ucap Yudi.

Sementara itu di sisi Sakra.

“Anak-anak itu mengacaukan rencana kita. Seharusnya ada tiga bulan waktu seleksi, dan sekarang malah hanya sebulan lebih sedikit. Pasukan kita masih belum siap. Menggunakan sanjivani juga memerlukan waktu untuk mendapatkan kendali penuh. Kalau sampai pasukan maharaja di masa lalu diberikan kesadaran, mereka pasti memihak negara mereka. Apalagi gara-gara pertempuran sepuluh tahun lalu, kakek Dharmakusuma tidak lagi bisa dibangkitkan. Ruwatan mahishasuramardini memang sangat sulit untuk dipecahkan,” keluh Dira.

“Tenang saja, bu. Kita masih punya tiga maharaja lainnya serta mayat Damar. Ini memang tidak akan mudah, tapi kita bisa melakukannya,” ucap Seno menghibur.

“Dengan waktu persiapan sesingkat ini, kita harus benar-benar fokus membunuh maharani. Tidak ada waktu untuk main-main dengan para pejabat korup itu. Kalau kepalanya hilang, badannya akan jatuh dengan sendirinya,” ucap Sakra sambil terus memantau siaran.

Di gerbang utama, para kelompok yang terpilih seleksi segera berkumpul setelah sebelumnya diumumkan bahwa babak seleksi telah selesai dan delapan tim sudah terpilih untuk berkompetisi di babak tanding. Mereka adalah tim bhudevi dari Reksanara dengan 1376 poin, tim pingala dari Manikabuana dengan 1456 poin, tim mitra dari Satyabala dengan 1501 poin, tim ashurantaka dari Sahasradwipa dengan 6000 poin, tim kali dari Sahasradwipa dengan 6115 poin, tim satya dari Sahasradwipa dengan 7414 poin, tim dharma dengan 8084 poin, dan juga tim sidhi dari Panditanagara dengan 10833 poin.

Kumandang tantangan perang dari lima tim asal Kailash telah mengacaukan perolehan poin, sehingga apabila babak seleksi dilangsungkan selama tiga bulan, akan ada banyak tim yang putus asa. Tiga tim yang kebetulan masuk ke podium delapan besar saja masih meringkuk ketakutan akibat babak seleksi yang terasa seperti padang pembantaian dan teror karena ulah lima tim tersebut.

Sebagian besar peserta mengungsi ke wilayah barat dan timur, tempat dua tim memilih menantang diri mereka sendiri dengan tidak mengumpulkan poin dari tim lain dan hanya dari akshauhini penguji. Meski demikian, cerita horor tentang hujan darah dan tumpukan mayat yang menggunung tetap menjadi hal yang wajar di sana, bersamaan dengan bau anyir yang masih melekat di tubuh mereka yang memerah. Tidak ada satu hari pun mereka bisa berjalan dengan tenang tanpa terbasahi darah.

Meski tak sebanding dengan tiga wilayah lainnya, di wilayah selatan tim satya mengubah daerah itu menjadi tempat uji coba berbagai senjata perang untuk persiapan memasuki final. Di wilayah utara, tim dharma sibuk berburu naga untuk santapan garuda, serta melakukan beragam eksperimen pengobatan oleh Shifa. Belum lagi penampakan pengembara berpedang yang tak lain dan tak bukan adalah Bagas.

Hal itu menyisakan sedikit tempat di antara wilayah-wilayah tersebut, tepat di sekitar inti galaksi. Namun tidak ada yang berani memasuki patala ataupun rasatala karena gema genderang perang dan tawa dari tim kali yang menari-nari sambil membabat lawan dengan kegembiraan yang mengerikan. Beberapa tim yang tak beruntung terjerumus hingga ke patala harus menyaksikan mimpi buruk dari tatapan mata naranetra milik Shafa, sehingga seluruh wilayah patala dan rasatala tidak berani dijamah sejak hari ke tiga puluh.

Semua orang tahu bahwa ini adalah arena untuk bertempur dan nyawa mereka telah diamankan dengan sistem khusus. Namun tetap saja semua itu meninggalkan trauma mendalam di dalam hati mereka. Mereka mengerti bahwa situasi akan kacau sejak lubang hitam di inti galaksi diledakkan tepat setelah penerjunan, tetapi tak seorang pun menyangka mereka akan terlihat seperti udang-udang kecil yang bergerombol, hanya untuk dijadikan santapan paus.

Sementara itu Ihsan dan saudara-saudaranya melakukan perjalanan untuk melihat berbagai potensi bisnis di sana.

“Hmm Steve, gimana caramu dapat sepuluh ribu poin, rekor tahun kemarin empat ribu lima ratusan loh,” tanya Lintang.

“Strategi dari Ihsan sangat efektif untuk menjebak musuh dalam kekacauan dan kebingungan, apalagi kita adalah atirathi, baru tahun ini ada atirathi yang berkompetisi di devasena,” jawab Steve.

“Timku cuma enam ribu poin loh, padahal ada dua atirathi,” balas Lintang.

“Hhh meski di timmu ada dua atirathi tapi kalian tidak punya pelacak sebaik kami sehingga hanya mengandalkan kecepatan dan kekuatan kalian untuk memburu musuh, di timku ada Zahra yang punya lokanetra untuk membuat peta terperinci sebuah tempat, kalau kita kelilingi kuadran kita saja sudah akan cukup untuk memantau seluruh tempat, selain itu kami juga ada pasukan robot pengejaran dari Iqbal untuk meratakan pasukan yang cukup kecil, lumayan untuk tambah-tambah, lagian kau bikin enam ribu poin itu agar terlihat jadi angka cantik aja kan,” ucap Steve.

“Hmmm iya deng,” ucap Lintang.

“Eh itu, toko topeng, waah bagusnya, kayaknya cocok deh buat Shafa,” ucap Ihsan.

“Heh untuk apa anak itu pakai topeng, kayaknya tidak ada yang perlu ditutupi dari wajahnya itu,” tanya Yusuf.

Lihat selengkapnya