Sehari sebelum pertandingan para finalis terlihat berlatih dengan sangat keras.
“Anak-anak itu kabarnya sudah menjadi atirathi ya,” tanya salah satu kontestan dari tim bhudevi.
“Iya Salsa, nampaknya bukan hanya dirimu yang menjadi semakin kuat,” ucap temannya.
“Hhh anak-anak itu menjadi atirathi juga akhirnya, aku iri melihat mereka, aku tidak heran sih Salsa, Gracia,” ucap temannya yang satunya lagi.
“Apa-apaan sebenarnya mereka itu, aku tidak paham tentang hal ini Niko, tapi kabarnya mereka hanya tingkat satu, ini mirip seperti Lintang dan Steve tahun lalu yang juga masuk babak tanding bersama tim mereka dan mendapatkan promosi menuju atirathi, kabarnya dua bulan setelah itu mereka dilantik, tapi ini lebih mengerikan lagi, bukan hanya mereka dilantik sebelum babak tanding devasena di tahun pertama mereka ikut kompetisi, tapi mereka juga sangatlah menakutkan,” ucap Gracia.
“Itu karena kita main aman saja, kita malah bisa memanfaatkan amukan mereka dan tak perlu bersusah payah mencari poin, kita cukup menyerang beberapa pasukan yang kabur, lagipula menjadi atirathi itu bukan berarti lebih kuat dari kita,” ucap Niko.
“Masalahnya adalah mereka memang sangat kuat, aku sangat tertarik dengan lelaki bernama Ihsan itu, bagaimana jalan pikirannya sebenarnya sehingga dia tidak pikir panjang sebelum meledakkan inti galaksi, kalau menurutku kita mungkin bisa menggodanya agar mengalah,” ucap Gracia.
“Selalu ada cara untuk menenangkan pertandingan ini tanpa taktik murahan seperti itu Gracia, jangan memaksa untuk menggunakan kelemahan para pria untuk memenangkan perang ini,” ucap Salsa.
“Aku tau itu, tapi biasanya pria-pria itu tidak akan tahan untuk mendapatkan hadiah lain, hmm tubuh kita mungkin, iyakan Niko,” ucap Gracia.
“Kau benar nyai,” ucap Niko.
“Hhhh kalian berdua, terserahlah, aku mau berlatih dulu, siapkan aja strategi kotor kalian itu,” ucap Salsa sembari meninggalkan tempat itu.
Di perkemahan Satyabala mereka berkumpul untuk menyaksikan satu-satunya tim yang bertahan dari sisi mereka berlatih dengan sangat keras, bahkan meminta latih tanding dengan orang-orang di sana hingga siang hari tiba.
“Hari terakhir untuk persiapan menuju final dan kita masih selemah ini,” ucap kapten mereka.
“Edward, mungkin itu karena negeri mereka kekurangan prajurit sampai-sampai anak-anak seperti mereka dipaksa menjadi atirathi, kalau kita mau membuat kehebohan seperti itu kita juga bisa loh,” ucap temannya.
“Ayahku tidak akan senang dengan hal ini Luis, aku putra seorang penguasa dan aku masih selemah ini,” ucap Edward.
“Coba dipertimbangkan lagi Edward, kita masih menahan diri kita selama ini, kalau masalah menjadi atirathi kau akan mendapatkannya juga sebentar lagi, mana mungkin negara sekuat Satyabala mengangkat atirathi selemah mereka yang hanya bisa mengacau,” ucap temannya yang lain.
“Ada perbedaan antara benar-benar kuat dan hanya dipaksa terlihat kuat, kalau mereka dipaksa takkan ada orang yang lari dari wilayah patala dengan wajah ketakutan seperti yang terjadi waktu itu, mereka tidaklah lemah, mereka benar-benar kuat Lulu,” ucap Edward.
“Kita juga sudah berlatih baru-baru ini, harusnya kita sudah jauh lebih kuat lagi Edward, singkirkan saja ketakutan tak berdasarmu itu,” ucap Luis.
“Aku punya dasar untuk rasa takutku Luis, kau pikir mereka tidak akan bertambah kuat juga, apakah dirimu masih mau menolak fakta itu, fakta bahwa mereka kuat dan kau menolaknya hanya karena mereka lebih muda dari kita, apa kata kakak atau ayah kalau melihat hal ini, ini tidak wajar Luis, aku tau Sahasradwipa sedang kekurangan kekuatan militer tingkat tinggi tapi mereka tidak kekurangan rathi atau atirathi, kita harus menelan fakta bahwa mereka kuat terlebih dahulu baru kita bisa menyikapinya dengan bijaksana,” ucap Edward dengan getir pada anggotanya.
Di istana kerajaan Manikabuana nampak seorang pemuda melatih tiga orang anak dengan sangat keras.