Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #101

Naraka

Pagi hari 10 Oktober 2011 para finalis memasuki ruang persiapan mereka.

"Masihkah engkau marah Shafa," tanya Ihsan.

"Ini akan membuatku semakin kuat Ihsan, mungkin bertarung akan membuatku sedikit tenang," ucap Shafa.

"Ihsan, Shafa, pertandingan sudah ditentukan, lawan kita bhudevi, pertandingan pertama," ucap Rio.

"Kalau begitu kita berangkat menuju arena sekarang juga," ucap Shafa sembari mulai berjalan.

"Energinya belum pernah segelap ini Ihsan, ini hampir segelap energi tantramu," kata Rio sembari mengikuti Shafa dari belakang.

"Biarkan dia menuntaskan amarahnya dulu Rio, yang perlu kita lakukan hanyalah bertempur sekuat tenaga dan membantunya menuntaskan amarahnya itu," bisik Ihsan dengan tenang saat mulai berjalan keluar untuk menggetarkan medan laga untuk kesekian kalinya kali ini dengan nama barunya, Rudra.

Sementara itu di bangku penonton mereka melihat daftar pertandingan pagi itu dan mulai berbondong-bondong menuju arena pertandingan.

"Kau semangat sekali nampaknya Jack," ucap Yudi.

"Hmm misi kita juga bisa selesai dengan cara ini, lagipula babak pertama adalah pertandingan tim jagoanku, tim kali, babak kedua tim keponakanmu itu akan bertanding melawan tuan rumah, babak ketiga adalah pertandingan tim satya dengan orang-orang dari negara asalku terakhir adalah pertempuran antara dua tim penguasa kuadran timur dan barat, semuanya terlihat seru, aku ingin lihat juga wajah mantan presidenku, aku ingin sekali memukul wajahnya yang acuh tak acuh itu," ucap Jack.

"Kumohon jangan lakukan itu Jack, jangan memicu konflik untuk semakin besar, kita ada tugas disini, setelah kulihat pola energi Sandi kemarin hari datanya menunjukkan dua graha baru menjadikannya wadah dari empat navagraha, berarti sesuai dengan dugaan tuan Gifar, kita bisa menggabungkan semua kekuatan navagraha dan membangkitkan tantra dari Dharmakusuma dan menciptakan pejuang terkuat sekali lagi, seorang mahamaharathi Gifar," ucap Yudi.

Pagi itu para pasukan daru Devaloka juga sudah memasuki wilayah arena pertandingan final untuk melakukan misi mereka membantu tuan mereka menuntaskan dendamnya.

"Akhirnya kalian tiba juga, para pasukan apsara," ucap Dira dengan marah.

"Maafkan kami ibu ratu, kami tidak bermaksud untuk mengecewakanmu," ucap Dio.

"Ibu, mereka tidak salah, harinya memang maju," ucap Seno.

"Kalau anak-anak sialan itu tidak mengacaukannya mungkin semuanya akan jadi lebih mudah, persiapan kita akan lebih matang," keluh Dira penuh kekesalan.

"Tapi anak-anak itu juga membuat rencana kita berjalan dengan baik mengingat karena tindakan heboh mereka, orang-orang jadi jauh lebih fokus melihat aksi mereka daripada mengamati sekitar dan itu membuat kita bisa bergerak lebih senyap," ucap Sakra sembari mulai mengumpulkan energi yoginya bersama dengan pasukan apsara miliknya dan Seno putranya.

"Berkat tanda ini kita bisa mengakses kekuatan yogi tanpa harus bertapa dan hanya perlu membayarnya dengan energi biasa," ucap Dio.

"Kalau dengan itu saja kalian kagum lihatlah anak yang paling berbakat menggunakannya, diusianya yang masih belia ini anak itu sudah bisa mengaktifkan energi yogi miliknya dengan bantuanku, dia memiliki tanda segel yang berbeda dari kalian dan juga naranetra yang akan semakin kuat saat perasaan memuncak," ucap Sakra yang terus bergerak maju bersama Dira dan Seno untuk menyaksikan pertandingan.

Sementara itu para pasukan Devaloka mulai berpencar untuk mencari sudut yang pas untuk penyerangan.

Bangku penonton terlihat penuh hari itu karena ingin melihat cara bertempur tim finalis dari dekat.

Hari itu adalah tim kali dari Sahasradwipa melawan tim bhudevi dari Reksanara.

Sang juara tahun lalu juga memperhatikan dengan seksama bagaimana cara tim kali bertempur karena berdasarkan laporan merekalah tim yang paling ditakuti.

Begitu Shafa keluar dengan menenteng kedua pedang berantainya dan mata menyala merah darah, Sandi langsung pangling dan dibuat bingung setengah mati.

"Bagaimana wanita secantik itu bisa ditakuti," pikir Sandi.

"Bukankah dia yang dijadikan pimpinan tim," pikir Sandi.

"Bukankah dia wanita yang sama yang diceritakan oleh para peserta kalau mereka diteror olehnya," pikir Sandi.

"Bukankah dia juga yang katanya membuat beberapa peserta menjadi gila," pikir Sandi.

"Aku tidak menemukan alasan untuk takut padanya, tapi dia memang bisa membuat lelaki manapun tergila-gila," pikir Sandi.

Lalu keluarlah Rio dan saat itulah Sandi kembali melihat kejutan berupa rsinetra yang menatap musuh dengan penuh percaya diri.

Sampai saatnya tibalah Ihsan dan pada waktu itulah Sandi langsung mengerti kenapa mereka bisa meneror seluruh peserta lain.

"Energi anak lelaki itu sangat menakutkan dan gelap, padahal kemarin hari kulihat energinya begitu cerah," gumam Sandi.

"Apa yang sebenarnya terjadi," gumam Sandi.

"Siapa anak itu sebenarnya," gumam Sandi dari bangku penonton dengan seksama.

Arena sudah disiapkan dan kedua tim juga sudah berhadapan.

"Perkenalkan saya Yamamoto yang akan menjadi wasit kalian hari ini, bagi dua orang kapten tim saya minta untuk maju ke depan," ucap sang wasit.

Lalu majulah Shafa dan Niko ke depan.

Kemudian barulah sang wasit meminta kedua belah pihak melakukan perjanjian untuk tidak membunuh musuh.

Setelah selesai mereka akhirnya kembali.

"Urungkan saja niatmu menggoda mereka Gracia, wanita tadi bahkan mungkin lebih cantik dari bidadari," ucap Niko.

"Kita harus mencobanya, auranya sangat menakutkan seperti iblis, mungkin karena itu teman-temannya tidak mau menggodanya," balas Gracia.

Begitu shanka dibunyikan oleh Yamamoto kedua tim itu langsung mengambil posisi masing-masing.

Lihat selengkapnya