Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #103

Hiranyagarbha

"Lagi ngapain Suf," tanya Gibran.

"Biasalah lagi ngotak-atik hiranyagarbha untuk inti zirah viranci, aku dapat beberapa inspirasi baru untuk ini," ucap Yusuf.

"Kenapa tidak mengotak-atik zirah viranci secara keseluruhan," tanya Gibran lagi.

"Yusuf mindsetnya agak beda dengan kita," ucap Sekar yang tiba-tiba masuk dan membawa perangkat baru untuk meningkatkan program di zirahnya.

"Heh, model baru lagi Kar, hmmmh zirahmu itu sudah tak lagi bisa disebut viranci sih sekarang, aku juga sudah memodifikasi zirahku dengan berbagai fitur baru, tapi nggak sampai merancang ulang zirah ini," ucap Gibran.

"Sebenarnya sistemnya masih sama, jujur saja aku hanya menambahkan sedikit dibandingkan sistem operasi zirah viranci yang sangat kompleks, entah apa yang ada dipikiran Yusuf untuk merancang zirah lunak seperti milikku ini, anehnya zirah ini bisa mengeras saat dialiri energi tempur," ucap Sekar.

"Itu wajar aja Sekar, properti dari logam emas memang seperti itu, lunak tapi bisa menjadi konduktor energi yang bagus, sehingga bisa dikeraskan dengan cepat saat dialiri energi," ucap Yusuf.

"Ehh begitu ya, cocok buat pertempuran dong, kok punya kita gaada lapisan emasnya juga," ucap Gibran.

"Punya kita memerlukan sifat berbeda untuk itu, zirahmu perlu sistem pengolahan data untuk pemetaan dan juga penampilan gambar wilayah, aku lebih memilih bahan yang bisa memantulkan banyak cahaya dan ringan seperti perak dan ya gak kukasih emas karena laki-laki gaboleh pakai emas sebab dikhawatirkan akan meracuni tubuh dengan serpihan logam berat yang masuk ke pori-pori, kalau punyaku pakai besi yang didominasi partikel prajapati agar mudah kumodifikasi ulang mengingat aku juga memahami konsep bongkar pasang dari zirah ini, anggap saja zirah viranci dariku itu kertas kosong yang bisa kalian gambari apa saja, aku tidak akan menghalangi kalian untuk melakukannya," ucap Yusuf saat terus memodifikasi hiranyagarbha miliknya.

"Eh apa itu di inti hiranyagarbha," tanya Gibran.

"Ohh ini lingga yoni, alat buatan Ihsan untuk menghasilkan energi dalam jumlah besar, yang mengelilinginya itu sistem kelola energi, keduanya membentuk hiranyagarbha yang sempurna, teknologi reaktor energi super kuat dengan pengaturan elemental, benda yang menjadi inti dari viranci yang sedang kalian pakai saat ini, kalau aku bisa terus memodifikasinya maka memodifikasi viranci selama bertempur akan jadi lebih mudah," ucap Yusuf.

"Jadi itu alasanmu membuat sebuah model zirah yang lebih mendasar, karena dirimu lebih memilih untuk memodifikasi sumber energi dan pembentukannya, aku suka caramu berpikirmu itu Yusuf," ucap Sekar.

"Waaah mulai lagi mesra-mesraan, taik kucing kalian ini," ucap Gibran.

"Santai aja Gibran, kalau Yusuf sedang fokus dengan teknologinya aku tidak bisa mengganggunya, belum bisa mengganggunya lebih tepatnya," ucap Sekar.

"Terserah kalian lah, aku mau mengedit data arena lagi, dibabak kedua arena sudah berubah lagi, mana lawan kita kabarnya ada putra presiden Satyabala," ucap Gibran.

"Itu tidak masalah Gibran, kita akan mengubahnya sesuai dengan keinginan kita nanti saat kita bertempur," ucap Yusuf dengan penuh keyakinan.

Keesokan harinya penonton sudah menunggu, meski kali ini agak sepi dari sebelumnya karena negara tuan rumah sudah dipulangkan. Uniknya, kali ini banyak sekali saudagar kaya yang ingin menonton karena melihat inovasi Yusuf selama babak seleksi. Mereka mulai tertarik dengan Yusuf sejak awal. Bahkan ayahanda dari Edward, sang presiden Satyabala, sudah tiba dengan rombongannya, bukan hanya untuk melihat anaknya bertarung tapi juga melihat inovasi dari Yusuf.

“Hhh anak ini nampaknya sangat menjanjikan, bisnis Kailash ya, berapa memangnya kekayaan yang mereka miliki saat ini,” ucap seorang pemuda di samping presiden.

“Anakku Charles, pernahkah engkau berpikir kalau lima anak itu datang dengan lima pushpaka vimana ke sini. Keluarga mereka tidak jelas dan hanya Steve itu saja yang berasal dari keluarga pebisnis, itupun hanya bisnis kecil. Tapi sekarang lihatlah, bisnis mereka sudah mulai menjamur di Sahasradwipa dan anak yang kau lihat kali ini adalah kepala bidang riset dan teknologi mereka. Di usia sebelia itu dia sudah bisa duduk bersama para ilmuwan dan bahkan memerintahkan mereka. Dia lebih dari sekadar anak kecil, otak jeniusnya itu bukanlah hal yang akan sering kita temukan,” ucap sang presiden.

“Sahasradwipa bukanlah tempat orang-orang jenius. Bukankah pada Dharmayudha kedua kita sudah melihat mereka berseteru dengan para ilmuwan mereka. Bukan tidak mungkin kalau sebenarnya anak itu adalah satu-satunya pengembang teknologi di sana suamiku. Lagipula anak kita tidak akan dikalahkan semudah itu. Coba kau pikirkan lagi Peter, memangnya sekuat apa anak itu. Kurasa dia tidaklah sekuat dua temannya yang lain. Kalau saja dia tidak diberikan waktu untuk membuat peralatannya mungkin anak kita bisa menang,” ucap istri presiden Satyabala.

“Hhh itu benar juga Olla, tapi kita lihat saja. Aku sebenarnya tidak percaya anak kita bisa menang,” ucap Peter.

Lihat selengkapnya