Malam hari setelah pertarungan Yusuf, di pasar malam Steve dan Lintang bertemu untuk sekadar minum kopi bersama sebelum pertandingan esok hari.
“Jadi kita akan bertanding juga ya, nampaknya undian memutuskan agar kita bertarung esok hari,” ucap Lintang.
“Ya begitulah, sesuai rencana di awal kita perlu untuk membuat banyak kejutan, tapi kurasa kita tidak perlu memikirkan lagi kapan kejutan akan dikeluarkan. Kita pasti akan mengeluarkannya selama di arena. Untuk saat ini siapapun yang memenangkan pertarungan antara tim kita akan bertemu dengan adik-adik kita yang lucu. Hmm, kita bisa mengeluarkan semua kemampuan kita sekarang dan menginspirasi mereka bertiga,” ucap Steve.
“Kau selalu saja sok bijak dengan menyebutkan berbagai rencanamu. Akui saja Steve, kita berdua memang sangat bersemangat untuk pertandingan kita berdua, tapi kau masih saja menutupinya dengan bungkus kebijaksanaan. Lepaskan aja Steve, lepaskan aja semua kekuatan kita nanti,” ucap Lintang.
“Tch, aku juga akan menikmati beradu tinju denganmu kok Lintang,” ucap Steve malam itu sembari tersenyum bersama Lintang.
...
13 Oktober 2011 dua saudara telah dipertemukan di medan laga, mereka sudah bersiap sedari hari pertama babak tanding. Bagi mereka ini bukanlah masalah siapa yang menang atau kalah, keduanya hanya ingin bertempur. Begitu shanka ditiupkan Steve dan Lintang melesat dan tinju mereka beradu dan menimbulkan ledakan yang begitu kuat dan menghancurkan tempat mereka berdiri.
“Tidak mungkin, arena ini dibuat dalam sebuah tempat di inti galaksi dan hanya dengan pukulan saja mereka menghancurkan planet sepadat itu, memangnya mereka benar-benar anak yang masih boleh berkompetisi, bukannya yang boleh berkompetisi hanya anak muda yang baru lulus sekolah dan setahun setelahnya, usia mereka harusnya maksimal dua belas tahun,” pikir Jack dengan bingung.
“Levelnya sangat berbeda dariku saat berkompetisi tahun lalu,” pikir Sandi melihat ledakan mahadahsyat itu.
Sementara itu di arena Steve dan Lintang mulai memanggil persenjataan mereka dan saling jual beli serangan hingga akhirnya Lintang mulai membentuk kayu-kayunya. Steve merespon dengan pasir miliknya yang sudah dia modifikasi lebih lanjut agar jauh lebih keras dan bercahaya. Keduanya membentuk serangan berbentuk pukulan di angkasa dan saling menyerang satu sama lain dengan sengit.
“Jangan terus melihati mereka berdua Rasha, kita masih harus memenangkan pertarungan di sini,” teriak Bowo yang sedang menggunakan gada dan kerbau miliknya untuk menghalau musuh sekuat tenaga.
“Apa kau pikir kita bisa membantu Steve, kelihatannya analisis dan pemetaan milikku takkan dibutuhkan jika tempat ini kosong dari bintang,” ucap Iqbal.
“Selalu ada cara untuk membantu,” ucap Zahra sembari mengaktifkan matanya dan melepaskan beberapa reaktor cahaya ke arah Steve dan Lintang yang sedang bertarung dengan sengit.
“Apa yang dia lakukan sebenarnya, oi Rasha, sadar dulu, atasi yang ini,” pikir Bowo sembari mengkonsentrasikan sebagian besar energinya di tangannya untuk menyerang Zahra dan Iqbal yang terlihat sedang melakukan sesuatu.
“Apakah kita benar-benar sama-sama atirathi, kenapa aku merasa tidak pantas mendapatkannya setelah melihat dua orang itu bertarung,” ucap Rasha saat melihat Lintang sedang bertarung dengan sengit lalu melesat ke arah Lintang untuk membantunya.
“Kau mau meningkatkan skalanya Steve,” tanya Lintang sembari membuat mudra.
“Banyak bicara kau, ayo saja,” ucap Steve yang mulai melapisi dirinya dengan zirah ganapati lalu mulai menerkam Lintang.
“Akhirnya kau memakainya juga Steve,” ucap Lintang sambil mengaktifkan adi vel miliknya yang mulai bersinar terang karena aliran energi yang sangat besar lalu melaju ke arah Steve seperti pemburu yang sedang menyerang binatang buas dan sempat memberikan luka pada Steve.
Meski pada akhirnya Lintang harus menerima bogem keras dari Steve dan mental ke belakang dan menghancurkan semua objek langit yang terkena efeknya. Tak mau kalah, Lintang menggunakan naga kayu miliknya dan melesat kembali ke arah Steve sembari memanggil merak miliknya yang mulai melepaskan jutaan bulunya yang berubah jadi senjata tajam. Tak tinggal diam Steve membuat perisai pasir untuk menahan serangan Lintang sembari membuat sebuah sabit dengan pasirnya dan mengayunkannya dengan keras ke arah Lintang yang melemparkan tombaknya dari samping untuk menghancurkan serangan Steve.
Namun itulah yang direncanakan Steve yang segera membuat hamburan pasir itu menjadi peluru kendali yang membombardir Lintang.
“Begini rupanya caranya mengendalikan pasir,” pikir Lintang yang tiba-tiba tidak bisa bergerak karena pasir di dalam tubuhnya mulai menjadi banyak dan memberikan tekanan yang mengerikan dari dalam tubuhnya.
Namun bukan Lintang namanya kalau menyerah begitu saja. Lintang langsung memanaskan tubuhnya dengan elemen magma dan mulai melelehkan pasir di dalam tubuhnya dan mengeluarkannya dalam bentuk bola yang mulai membesar dan pecah menjadi hujan meteor ke arah Steve. Steve menahannya dengan perisai pasir miliknya, namun dari belakang ada semburan energi dari naga kayu milik Lintang yang membuat Steve langsung membuat perisai pasir di segala arah.
“Aku harus menggunakannya, tantra,” pikir Steve sembari membaca mantra dan menyusun mudra.
Sementara itu Lintang membuat murugan di tangannya dan mengalirkannya ke adi vel miliknya lalu melemparkannya ke arah Steve, namun Steve saat itu menyelesaikan aktivasi tantranya dan memancarkan pasir ke mana-mana termasuk mementalkan tombak Lintang. Bersamaan dengan itu bola-bola cahaya Zahra sudah mengisi arena dan mulai melepaskan cahaya yang sangat menyilaukan dan membuat Steve dan Lintang tidak bisa melihat karena Zahra terus menerus membuat bola reaktor cahaya itu dan membuat arena mereka di patala menjadi begitu terang.
Kesempatan ini dimanfaatkan Iqbal untuk melepaskan ribuan robot untuk membantu Steve, namun beberapa pukulan angin menghentikan robot itu. Rasha datang memegang salah satu kepala robot itu dan merobeknya.
“Menyusahkan sekali wanita itu, cepat pula,” pikir Iqbal sembari mengeluarkan bermacam-macam senjata dan mulai membombardir Rasha.