Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #105

Brahmanda

Ditengah malam sebelum semi-final dibawah sinar rembulan Ihsan bermeditasi dan melatih ulang kemampuan elemen miliknya.

"Ei Ihsan, kenapa kau nampak serius sekali malam ini," tanya Rio.

"Penguasaan lima elemen dasar, zirah viranci dan yang paling berbahaya adalah pikirannya, Srsta yang mulia akan menjadi lawan yang sangat merepotkan bagi siapapun," ucap Ihsan.

"Jadi kau akan bermeditasi saja malam ini," tanya Rio.

"Kau mau ikutan kah Rio, aku sedang mempersiapkan diriku untuk menghadapi saudaraku itu," jawab Ihsan sambil tersenyum tenang.

"Baiklah, izinkan aku menemanimu Ihsan," ucap Rio.

"Kemarilah," ucap Ihsan.

Mendengar itu Rio langsung datang dan melihat puluhan atmasena milik Ihsan sedang berlatih.

"Sekeras inikah latihanmu setiap hari Ihsan," tanya Rio.

"Aku hanya hobi untuk melakukan ini, jangan bilang Shafa ya, dia akan memarahiku kalau dia tau," ucap Ihsan.

"Baiklah Ihsan, oiya bisakah dirimu melatihku menyempurnakan bholenath," ucap Rio.

"Baiklah," ucap Ihsan sembari bangkit dari tempat duduknya.

"Kau juga hanya kurang elemen tanah saja untuk dibangkitkan bukan, bagaimana kalau kita berlatih elemen tanah juga," ucap Rio.

"Ya aku juga mau melakukannya, makanya aku membawa Salsa kemari," ucap Ihsan sembari menunjukkan keberadaan Salsa ditempat latihannya dan sedang mengajar para atmasena Ihsan itu elemen tanah.

...

Sementara itu di tempat persiapan tim satya.

"Suf, gamau istirahat dulu," ucap Sekar sembari membawakan teh.

"Sabar dulu Sekar, aku sedang berusaha menyempurnakan elemen baterai milikku, eh terimakasih tehnya," ucap Yusuf.

"Kalau sudah selesai istirahat dulu ya," ucap Sekar sembari menuju kamarnya untuk beristirahat.

"Okok," ucap Yusuf.

...

Dini hari pun tiba.

"Hah akhirnya selesai juga, meski masih versi yang sangat dasar kurasa ini cukup untuk bertarung melawan Ihsan besok," gumam Yusuf sembari memejamkan matanya.

Shubuh telah tiba dan sebaskom air dingin menyiram Yusuf yang tertidur pulas ditempat latihannya.

"Kau ini kenapa sih, dibilang istirahat dulu malah disini, dikamar tau," ucap Sekar sembari merapikan teh tadi malam.

"Oi jam berapa ini Gibran," tanya Yusuf.

"Dah shubuh nih, siap-siap dulu," ucap Gibran.

"Kan kau udah kuminta buat membangunkanku jam dua pagi," ucap Yusuf.

"Aku sudah melakukannya, kau tak mau bangun, akhirnya aku tidur juga dan akhirnya aku kena siram juga baru aja," ucap Gibran.

"Dah selesai ngobrolnya, siap-siap dulu, ayo berangkat ke musholla," ucap Sekar.

"Iya bu," ucap Yusuf dan Gibran yang basah kuyup.

"Ganti baju dulu," ucap Sekar sembari melemparkan dua kaos ke Yusuf dan Gibran.

...

Keesokan harinya dihari kelima babak tanding tim kali dan tim satya berhadapan. Seluruh penonton bersorak gembira dan datang dari penjuru dunia. Dihari itu juga Ihsan sudah meminta Steve untuk mengurus para karyawan kailash untuk melakukan banyak perjanjian dan menjual berbagai macam makanan ringan di wilayah sekitar arena serta membuat kios pertama mereka di Manikabuana, namun ada yang aneh. Nampak banyak sekali orang-orang baru yang serupa sifatnya dengan saat para penduduk mulai membludak di Mataram.

"Hmmm kenapa aku merasa pernah mengenal orang-orang seperti ini, ada yang aneh, pihak negara kita juga sudah pulang," ucap Steve sesaat setelah menyewa beberapa kios disana serta mulai menata para karyawan disana.

"Apa maksudmu Steve, mereka cuma penonton," ucap Iqbal.

"Aku pernah melihat mereka dulu saat masih bersekolah di Manasasagara, mereka mirip dengan para orang yang ada di Mataram dulu," ucap Steve.

"Heh apa maksudmu, Mataram? mereka orang-orang bangsa aditya dari Devaloka, ngapain juga mereka jauh-jauh melancong ke Sahasradwipa apalagi ke Mataram sedangkan Devaloka sangat maju," ucap Iqbal.

"Itu bukan tidak mungkin Iqbal, mungkin saja mereka ingin berdagang di Mataram atau mereka adalah orang-orang aditya yang tidak sempat tinggal di Devaloka," ucap Steve.

"Itu tidak mungkin Steve, semenjak Dharmayudha kedua negeri Devaloka menutup diri dari dunia luar dan juga sebelum itu tidak ada bangsa aditya yang tercatat berada diluar Devaloka. Kalau mereka mendatangi negeri lain maka pasti akan menjadi masalah, mereka terkenal sangat kuat namun sangat arogan karena itu tidak ada satupun negeri yang mau menerima mereka sehingga mereka membuat negeri sendiri di Devaloka. Dulu memang pernah tercatat bangsa aditya di Sahasradwipa, tapi itu di wilayah Yamawrata dan semenjak Dharmayudha kedua mereka diusir karena dianggap bersekongkol dengan Sakra untuk menggulingkan pemerintahan Sahasradwipa, meski aku tidak bisa pungkiri keberagaman suku bangsa di Sahasradwipa sangat luas," ucap Zahra.

Lihat selengkapnya