Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #106

Vaikuntha

Shubuh sebelum pertandingan kedua di babak semifinal.

"Yusuf, kita berada dalam masalah, jangan beritau Ihsan, Alim, atau Lintang dulu karena mereka sedang fokus berkompetisi, tapi aku punya firasat buruk. Aku melihat banyak sekali orang dari negeri Devaloka memasuki wilayah pertarungan dan berdasarkan laporan dari Iqbal dan Zahra mereka sedang mengumpulkan persenjataan," ucap Steve.

"Mengumpulkan senjata?, ini bisa jadi masalah, kita harus melaporkan hal ini agar bisa dilakukan investigasi lebih lanjut oleh pihak negara," ucap Yusuf.

"Itulah yang kumaksud, ini datanya. Persiapkan senjata juga Yusuf, aku sedang mengerjakan milikku juga serta melakukan investigasi lanjutan," ucap Steve sembari meninggalkan tempat itu.

"Pejuang abadi swargapati Sakra, kita pernah bertemu dulu tapi kita belum sempat berkenalan. Tanda aneh di dada Alim itu adalah bukti kekuatanmu, aku perlu mempersiapkan diri. Kalau ini memang sebuah tantangan perang, setidaknya aku bisa siap. Prabhasataka yang kubeli dari pedagang dari negeri Ashoka ini mungkin bisa membantu," pikir Yusuf sembari membawa satu koper berisi logam langka prabhasataka di tangannya.

Sementara itu di bangku penonton.

"Tuan Sakra, pasukan kita sudah memasuki wilayah di sekitar arena, kapan kita akan mulai menyerang," tanya Dio yang baru saja datang.

"Lakukanlah saat kompetisi sudah selesai. Tujuan kita mengeksekusi maharani, bukan memicu perang. Lakukan sesedikit mungkin kerusakan. Kalau sampai dua pria itu mengincar kita, kita akan kerepotan, mungkin seluruh Devaloka bisa diratakan dengan tanah. Pergilah siapkan pasukan orang kepercayaanku," ucap Sakra.

"Apa makhluk yang bisa membuat tuan Sakra sangat berhati-hati seperti itu, aku perlu waspada," pikir Dio sembari meninggalkan Sakra untuk menyiapkan pasukan.

...

Sementara itu di kemah, Alim dikejutkan oleh ayahnya yang tiba-tiba datang bersama Pak Buwang.

"Halo bro, apa kabar," tanya Khan pada anaknya.

"Eeehhh ayah, mau nonton ya," ucap Alim.

"Iya dong, gak mungkin ayah gamau lihat jagoan ayah bertanding, kalahkan lawan-lawanmu nak hahaha," ucap Khan.

"Sayangnya ini takkan mudah ayah, lawanku Mas Lintang yang pernah kuceritakan dulu," ucap Alim.

"Emangnya ada orang yang lebih kuat dari kau dan Ihsan, bukannya kalian berdua membersihkan kota Tirtawangi dari penjahat," ucap Pak Buwang.

"Ada kok mbah, banyak sekali yang lebih kuat dari kami berdua saat ini," ucap Alim dengan riang.

"Wiiii buyuuut, mbah Khaaan, kalian datang, mana yang lain," sapa Ihsan dengan sangat riang dan langsung memeluk buyutnya itu.

"Ututututu, dah gede aja kau nak, bisa jalan-jalan sendiri, dulu dikejar angsa terus kalian berdua, buyut pula yang harus ngusir," ucap Pak Buwang.

"Ehehehe maaf yut, sekarang kami bisa melindungi diri kami sendiri, angsa dulu itu kecil ternyata dibandingkan angsa Yusuf," ucap Ihsan.

"Waaahaaha, segimana sih besarnya," tanya Pak Buwang.

"Eee, kepalanya serumahku," jawab Ihsan.

"Mak, kupikir setengah meter aja udah besar itu angsa, kau menang kah sama anak bernama Yusuf ini," tanya Khan.

"Eee bingung juga njelasinnya mbah, sebenarnya kalau satu lawan satu aku kalah, tapi kalau timku menang ke babak final, nanti Alim tanding, eh ini Mas Lintang yang bakal ngelawan Alim nanti," ucap Ihsan sembari menunjukkan Lintang yang datang bersama ibundanya dan beberapa orang lain.

"Weh Ihsan, siapa mereka, baru saja aku mau memperkenalkan ibuku, hmm ini ibuku. Ibu, ini Ihsan, itu Alim, dan ee mohon maaf siapa kalian pak," ucap Lintang.

"Oh mereka ayahku dan juga ini Pak Buwang, buyutnya Ihsan, meski gak langsung sih, lebih tepatnya adiknya buyut Ihsan, ee ah bingung," ucap Alim.

"Ehh jadi kalian kesini juga buat melihat anak kalian, saya Ine, ibunya Lintang. Hmm gak bawa keluarga lainnya pak," tanya ibunda Lintang.

"Niatnya sih gitu bu, tapi Dek Ikal itu ada aja kerjaan di sawah, para ibu-ibu di kampung kami juga takut naik vimana, jadinya saya dan Pak Buwang saja yang ikut," ucap Khan.

Lihat selengkapnya