Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #107

Bhoomi

Hari ketujuh sekaligus hari terakhir babak tanding, babak final antara tim Kali dan tim Ashurantaka. Ihsan sedang berada di ruang persiapan bersama Shafa, Rio, dan beberapa keluarganya dari Tirtawangi, sedangkan Lintang sedang bersama tim dan ibundanya di ruang persiapan.

“Ibu, doakan yang terbaik untukku,” pinta Lintang.

“Doaku akan selalu bersamamu, nak,” ucap Ine.

“Kenapa wajahmu terlihat sedih, Bu?” tanya Lintang.

“Hanya teringat ayahmu, nak. Andai saja dia melihatmu yang sekarang, dia mungkin akan bisa menjadi lebih baik. Saudara-saudaramu yang kau buat selama perjalanan hidupmu itu telah menjagamu menjadi manusia yang lebih baik. Hari ini aku melihat sendiri senyum cerah adikmu yang bernama Ihsan itu. Aku senang kau bersama mereka. Andai saja dulu ayahmu memiliki teman-teman sebaik teman-temanmu, dia mungkin akan dipenuhi senyuman sepertimu hari ini. Kalian sungguh mirip, tapi dirimu jauh lebih beruntung darinya. Kau memang tak terlahir sekuat ayahmu, tapi teman-temanmu itu turut menemani perjalananmu melintasi kehidupan dan membuatnya jauh lebih indah dan tak gersang seperti apa yang dirasakan ayahmu. Berterimakasihlah pada mereka, nak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, apalagi adikmu yang satu ini, yang membawa sinar rembulan yang lembut di rambutnya, yang memakai ular sebagai kalung. Dia anak yang ceroboh, nakal, namun begitu menyenangkan. Entah kenapa aku merasakan ketenangan di dekat tingkahnya. Yang akan kau hadapi sebentar lagi mungkin adalah orang yang akan mengubah dunia, yang kuharapkan semoga dia sempat melakukannya sebelum kejamnya dunia merenggut seluruh kebebasan dan kebahagiannya. Lindungi dia, sayang. Bimbing dia sebaik mungkin. Pastikan kau ikut dalam tariannya sampai akhir,” ucap Ine.

“Kau juga mengagumi anak itu ya, Ine. Mungkin setelah sekian lama akhirnya kita bisa sependapat lagi,” kata Rina yang baru saja masuk ke situ.

“Rin, apa kabarmu? Lama kita tidak berjumpa. Maafkan aku karena tak bisa menahan suamiku untuk pergi dan menghabisi suamimu,” ucap Ine.

“Itu sudah sepuluh tahun lalu, Ine. Aku sudah bisa menerima kematian Faisal sepenuhnya. Lagipula kau tidak bersalah dalam hal ini. Ada hal lain yang lebih penting untuk dibicarakan sekarang,” ucap Rina sembari mengajak Ine keluar.

“Hati-hati ya, nak. Ibu selalu mendoakanmu,” ucap Ine sembari meninggalkan ruangan persiapan anaknya bersama Rina.

Di luar ruangan persiapan, Rina tiba-tiba terlihat marah.

“Rina, kenapa dirimu? Kau masih menyimpan dendam padaku kah?” tanya Ine.

“Sedikit. Hatiku masih sedikit terluka. Maaf karena terus menyalahkanmu. Aku menemuimu karena ada kabar kalau pria itu ada di sini. Bajingan bernama Sakra itu ada di sini bersama orang-orang dari Devaloka. Aku ingin meminta bantuanmu, wahai vishkanya terbaik,” ucap Rina.

“Aku sudah lama tidak menerima perintah sebagai vishkanya, Rina. Mungkin aku tidak akan cocok untuk misi ini, tapi aku akan mencoba,” ucap Ine.

“Jangan merendah begitu, Ine. Aku juga dengar kabar tentang wanita penjaga Mandaraka. Dari cara bertarungnya aku tahu itu dirimu. Tidak ada satu pun orang yang bisa merencanakan pembunuhan sedetail itu dan sebersih itu kecuali para vishkanya. Ini make up-mu, berdandanlah dan jadilah penuntun menuju kepala pria itu,” ucap Rina.

“Sakra ya. Orang itu memang harus dimusnahkan sebelum terlalu banyak korbannya. Mungkin aku tidak selancar dulu lagi dalam berkoordinasi, tapi aku akan mencoba menyesuaikan. Jadilah komandanku dalam misi ini, nona merah,” ucap Ine sembari berlutut menerima peralatan perang vishkanya dari Rina.

“Aku juga mengharapkan bantuanmu, wahai pendekar hantu,” ucap Rina sembari melesat pergi menuju kemah vishkanya.

“Maafkan ibu, nak. Mungkin ibu tidak bisa menemanimu mengangkat piala kalau menang, tapi hanya ini yang ibu tau untuk menyambung hidup,” gumam Ine lirih sebelum mulai bergerak mengikuti Rina.

Jam tujuh tepat kedua tim akhirnya sudah sampai di arena.

“Lintang, aku mau protes. Kau tidak mengizinkan kami untuk bertarung sebelumnya. Kini giliran kami. Aku mau bertarung dengan anak bernama Ihsan itu. Ini keinginanku sejak tahun lalu. Kalian berdua boleh mengatasi dua yang lain, tapi sampai pertarungan antara diriku dengan Ihsan selesai, kalian jangan mengganggu,” ucap Rasha sembari berjalan keluar dari vimana yang mengantar mereka ke pusat arena.

“Ini pertandingan tim, Rasha! Jangan semaunya sendiri,” ucap Bowo.

“Biarkan saja, Bowo. Aku tidak masalah dengan keinginannya. Lagipula kita tetap diperbolehkan mengeliminasi adikku itu setelah pertandingan. Kurasa ini cukup adil,” ucap Lintang.

Lintang terus menyusuri lorong vimana itu hingga akhirnya mereka keluar dan melihat tim Kali juga baru turun dari vimana mereka. Lintang bertatapan dengan Ihsan sebentar sebelum suara shanka berbunyi sebagai tanda pertandingan dimulai. Secepat itu juga Lintang menepukkan tangannya dan memunculkan dua ekor naga kayu yang langsung menyerang Shafa dan Rio. Bersama Bowo, Lintang mengeliminasi Shafa dan Rio begitu saja, menyisakan Ihsan sendirian. Di hadapannya, Rasha sudah memasang kuda-kuda tempurnya.

“Ihsan, kudengar dirimu sangat dikagumi oleh orang-orang di sekitarmu. Aku ingin sekali saja bertarung denganmu tanpa gangguan,” ucap Rasha.

“Hmmm, kalian memang kuat sih. Baiklah, aku terima tantanganmu, kak. Setidaknya aku bisa berusaha mengeliminasi satu orang,” ucap Ihsan dengan senyuman manisnya.

Sementara itu di bangku eliminasi, Shafa dan Rio terbelalak kaget karena dalam sekejap mereka berdua tereliminasi.

“Jadi sekuat itu saudara-saudaramu, Ihsan. Mungkin aku bisa benar-benar percaya bahwa suatu hari kau akan melindungiku,” ucap Shafa yang malah semakin berseri.

Lihat selengkapnya