Malam hari tanggal 16 Oktober 2011 tim Ashurantaka naik ke podium sebagai juara.
“Aku mengakuimu, Lintang, engkau pantas menjadi juara lebih dariku, penakluk kompetisi ini, sang devasenapati Lintang,” ucap Sandi saat menyalami Lintang di podium.
Kemudian dipanggillah para Ishvara ke atas untuk menyerahkan medali kepada para tim pemenang beserta hadiah yang mereka dapatkan dari memenangkan kejuaraan.
“Itu dia para Ishvara, orang-orang terkuat telah berkumpul,” bisik Alim pada Ihsan yang saat itu juga berada di atas panggung.
“Heeeh, Ishvara ya, para pemimpin negara, orang-orang yang meluangkan waktunya untuk memimpin, gimana rasanya ya, mungkin itu jauh lebih berat dari memimpin perusahaan sepertiku, ah lagipula yang ngurus kan kalian, hihihi,” ucap Ihsan dengan senang.
“Ihsan, yang sopan di depan mereka,” pinta Shafa.
“Eh iya-iya, maaf, kebablasan,” ucap Ihsan.
“Hhh, kau ini, malu ah,” ucap Shafa.
“Datang dan berkahi kami, oh Ishvara yang agung,” ucap presenter saat itu sembari berlutut, diikuti oleh para orang-orang lainnya, kecuali Ihsan dan Alim yang tidak paham apa-apa tentang tradisi itu dan malah menganggapnya aneh.
“Kenapa mereka, ngapain sampai berlutut, hmm siapa orang-orang ini,” pikir Ihsan kebingungan, sampai dia merasakan lima aura yang sangat kuat seolah menekannya.
“Apa!!?, jadi seperti ini para Ishvara, sungguh berbeda dengan yang kupikirkan, satu-satunya yang bisa kukenali hanyalah Maharani Sukma, itupun sudah jauh berbeda dari yang biasanya dia pancarkan, lalu empat lainnya itu apa-apaan, kukira Maharani sudah sangat mengerikan, tapi sekarang ada lima di antara mereka,” pikir Alim saat melihat dirinya berada di bawah bayangan kelima orang itu yang berdiri tepat di depannya lalu mengambil tempat duduk di takhta masing-masing.
Begitu mereka duduk, orang-orang mulai berdiri seraya mulai memberi salam sebelum kemudian presenter memperkenalkan mereka pada para peserta dan tamu.
"Berikan hormat pada para Ishvara, wahai Dewa Panditanagara, Salman Ra," ucap seorang presenter.
Ucapan itu diikuti oleh orang-orang di sana yang membungkukkan badan.
"Saya juga menghormati kalian, wahai para pejuang," balas sang dewa.
"Dia, buta kah, cak Alim? Matanya putih semua," tanya Ihsan.
"Kurasa iya, Ihsan. Tapi gimana caranya? Bukannya kita bisa menyembuhkan diri sendiri?" balas Alim.
"Wahai para juara, aku sengaja membutakan diriku agar tidak perlu berpikir dua kali saat memberikan hartaku," jawab sang dewa begitu saja dengan senyuman ringan.
Senyuman itu membuat Ihsan dan Alim kagum, sekaligus menarik perhatian orang-orang yang kini tertuju pada mereka berdua yang masih berdiri dengan polosnya.
"Hh, dasar anak-anak nakal," pikir Sandi.
"Lalu sambutlah presiden dari Satyabala, Saint Peter," ucap presenter.
"Salamku juga untuk kalian," ucap sang presiden.
"Saint!? Itu aneh, dia tidak terlihat seperti orang suci," bisik Alim.
Ihsan hanya mengangguk pelan.
"Kalian benar, nak. Aku memang bukan orang suci. Kenyataannya aku mungkin hanya cukup bengis untuk mengatur negeriku yang kejam," pikir sang presiden yang mendengar Ihsan dan Alim berbisik pelan.
"Lalu dengan semua doa, kami doakan engkau panjang umur, wahai tsar negeri Reksanara, Agustus Nostradamus," ucap sang presenter.
"Matane, namanya sepanjang tubuhnya itu kah?" ucap Ihsan.