Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #109

Thunderstorm

Sukma terdiam melihat Sakra melayang di angkasa.

"Orang itu datang lagi. Kini apalagi yang dirinya bawa untuk membalaskan dendamnya? Sepuluh tahun lalu dia juga melakukan hal yang sama. Dia muncul berulang kali hanya untuk menuntut dendamnya. Swargapati Sakra, mungkinkah ini ajalku?" pikir sang maharani.

Hujan tiba-tiba turun disertai badai petir yang mencekam. Sakra tetap terlihat melayang di angkasa.

"Sakra, ingat! Kami hanya mengizinkanmu membunuh maharani. Kami tidak mentolerir kematian Ishvara yang lain dan kematian orang-orang setelah kematian maharani," ucap Yudi yang terlihat berbisik pada Sakra.

"Aku tahu hal itu," ucap Sakra.

Ia belum juga menyerang, sampai tiba-tiba sebuah kilatan cahaya hitam ditembakkan ke arahnya.

"Oi, Ihsan, kenapa kau malah memprovokasi orang itu? Dia orang yang sama yang membuat kita terdiam dulu. Kau ketakutan waktu itu," ucap Yusuf.

"Iya, Suf, aku takut waktu itu. Tapi yang membuatku terdiam bukan rasa takutku, melainkan bagaimana caranya seekor gajah sebesar gunung bisa terbang. Sekarang, saat sudah tahu caranya, aku tidak akan terdiam lagi," ucap Ihsan dengan wajah serius.

"Nampaknya dia jujur dengan perkataannya. Atau dia sudah menyiapkan kebohongan ini dari dulu. Ah, itu tidak penting. Yang penting bagaimana caranya agar kita bisa mengalahkan orang itu," pikir Yusuf.

"Yudi, apa yang kau lakukan di sana? Kenapa kau berdiri bersama orang itu?" tanya Khan.

"Kakak, kau tidak perlu ikut campur dalam hal ini. Ini urusan orang-orang kuat. Menghabisi Maharani Sahasradwipa saat ini, Suryanisukma, dan membawakan revolusi kepada dunia. Selain itu, tak boleh ada lagi orang tak kompeten yang memimpin negeri seluas Sahasradwipa," balas Yudi.

"Jadi dia paman Yudi yang selalu diceritakan ayah. Dia benar-benar kuat. Targetnya maharani… apa maksudnya?" gumam Alim yang masih kaget.

"Kenapa kalian masih kaget? Orang itu sudah menantang kita berperang. Yang bisa kita lakukan adalah menjawabnya saja. Menang atau mati!" teriak Ihsan.

Ia memanggil pasukannya dan mulai melesat ke arah musuh bersama mereka, lalu membombardir dengan bholenath.

"Dasar pengganggu, Ihsan ya. Hhh, kau selalu saja menggangguku, Nak. Bisakah kau diam sebentar?" ucap Sakra.

Ia menangkis beberapa bholenath milik Ihsan. Namun, sebuah trisula terlempar ke mukanya. Saat itu Sakra menangkapnya dan melemparkannya cukup jauh sebelum kemudian menatap risih Ihsan yang saat itu coba menarik kembali trisulanya.

"Heeeh, bisa juga kau, bapak tua!" ucap Ihsan kegirangan sambil terus coba memanggil trisulanya yang tak kunjung datang.

Namun, sebelum sempat Ihsan melakukan apa-apa, Sakra menyetrumnya hingga ia tak sadarkan diri.

"Pengganggu kecil itu diam juga akhirnya. Sekarang, Maharani, apakah dirimu mau mengakui kesalahanmu dan mati, atau kau mau melawan dan mengorbankan banyak orang?" tanya Sakra.

"Hentikan itu, Sakra. Dia hanya akan diam seperti itu. Apa kau masih mengingatku, Kakak?" tanya Dira dengan penuh amarah.

Trisula di tangannya tergenggam kuat, sembari berjalan penuh emosi ke arah Sukma.

"Maafkan aku, Adik. Aku melakukan banyak dosa pada kalian. Atas kemurahan hatimu, tolong maafkan kakakmu ini," pinta Sukma.

Lihat selengkapnya