Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #112

Vengeful spirit

Lintang menatap dengan seksama, masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Namun yang ada di depan matanya itu adalah ayahnya sendiri, menatap tanpa ekspresi sambil menghajar pasukan yang selama ini ia bela. Lintang harus menyerang. Meski hatinya masih berat, tak ada pilihan lain. Ia menerjang ke depan untuk membantu Steve, mulai mengisi vel miliknya dengan kekuatan penuh, lalu menusukkannya ke perut mayat hidup itu. Bersamaan dengan itu, pasir Steve membentuk sebuah pedang yang langsung dikibaskan ke leher sang prajurit alam baka. Namun leher itu ternyata cukup kuat untuk menahan serangan yang telah diperkuat berkali-kali.

“Huh? Hancur…?” pikir Steve saat melihat pedang pasirnya luluh tanpa membuat Damar bergeming.

Pada saat yang sama, instingnya langsung mengisyaratkannya untuk membentuk perisai di tangannya. Damar mengepalkan tinjunya, menangkap vel milik Lintang, lalu membanting tubuh Lintang menjauh. Pukulan berikutnya menghantam perisai Steve, menghancurkannya bersama tangan Steve, dan melemparkannya sangat jauh hingga dadanya hancur.

“Grrrhh… orang ini… untung saja aku membuat perisai tepat waktu,” pikir Steve sembari menahan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya.

Steve berusaha mengumpulkan kesadarannya dan mulai menyembuhkan tubuhnya, namun sebelum proses itu selesai, tubuh Lintang kembali dibanting ke arahnya. Keduanya terhempas jauh menembus ruang hampa. Dengan refleks, Lintang membentuk gelembung udara agar mereka tetap bisa bernapas, membuat mereka berdua selamat meski Steve terluka sangat parah dan Lintang kehilangan cengkeramannya atas vel.

Pada saat yang sama, Damar mengambil vel milik Lintang dan menyalakannya dengan kekuatan luar biasa.

“Tunggu dulu… dia juga sanggup menggunakan vel sekuat itu, padahal itu hanya aliran energi biasa tanpa teknik sama sekali. Apa itu karena tubuhnya yang sangat kuat sehingga vel bisa meresponsnya dan menjadi sekuat tubuhnya? Kau memang luar biasa, Ayah…” pikir Lintang dengan sorot mata gemetar menatap sosok di hadapannya.

Lintang menyaksikan saat Damar membidikkan vel ke arahnya dan Steve. Energi itu kemudian diluncurkan dengan kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, melesat melintasi bintang-bintang. Di saat genting itu, sebuah anak panah tiba-tiba membelokkan arah serangan tersebut, menyelamatkan mereka yang sudah berada di ambang kematian. Tak lama kemudian, sesosok wanita bertopeng berkelebat cepat dan menendang kepala Damar sekuat tenaga, membuat tubuhnya terhempas ke bawah.

“Jadi segini saja kekuatan kalian, hah?” ucap sosok bertopeng itu dengan nada meremehkan.

“Rin, itu wajar saja. Mereka masih anak-anak,” ucap Ine yang baru tiba di sana dengan suara tenang.

“Oi, kita tidak menyebutkan nama saat bertugas. Kau lupa itu, hah? Ya sudahlah, wajar saja. Sudah lama juga kau mengundurkan diri dari Vishkanya. Bahkan kau tidak mengganti suaramu,” ucap sosok bertopeng yang ternyata Rina itu dengan nada kesal.

“Aku lupa kodenya. Yang jelas, di depan kita adalah pemilik Boon Maharaga, manusia dengan tubuh sekeras Bajra, suamiku, Damar,” ucap Ine sambil menangis, lalu kembali menarik busurnya.

“Hei, jangan terbawa perasaan di saat seperti ini, Ine,” ucap Rina sambil mencuatkan senjata cakar pisaunya.

“Tidak, Rina. Maju saja. Ini seperti dulu, saat aku mengingatkannya untuk tidak bermain-main dengan Lintang yang masih bayi. Dia hanya mengajari anaknya, bahkan setelah kematiannya,” ucap Ine sebelum melepaskan anak panahnya.

“Hsssh… terserah kau lah,” pikir Rina sambil melesat cepat ke arah Damar.

Rina menghajar tubuh Damar dengan sarung tangan belatinya, menyayat-nyayat kulitnya tanpa henti. Namun perpaduan tubuh Maharaga dan efek pemulihan Sanjivani membuat luka-luka itu menghilang dengan sangat cepat. Damar membalas dengan menendang perut Rina, membuatnya terpental. Meski begitu, Rina sempat menancapkan cakarnya di kaki Damar dan melemparkannya ke arah Ine.

Dengan sigap, Ine memanggil tongkatnya lalu menghantam dada Damar sekuat tenaga hingga tubuh itu terpental ke belakang. Tak berhenti di situ, Ine segera membentuk tombak dari elemen kayunya dan melemparkannya. Damar menangkisnya, namun dari samping Rina kembali mendaratkan beberapa cakaran dan menendangnya lebih jauh.

“Cih, padahal sudah sepuluh tahun, tapi dia masih sekuat ini,” keluh Rina sambil mengatur napas.

“Sekarang kau tahu kenapa kita belum naik ke kelas Maharathi, kan? Perbedaannya memang sejauh itu,” ucap Ine dengan nada getir.

“Mengalahkan dua belas Atirathi bersamaan? Aku juga pernah menghajar ratusan Atirathi dalam sehari,” ucap Rina dengan nada menantang.

“Dua belas Atirathi yang bekerja sama dengan kekuatan penuh mereka, termasuk pasukan Akshauhini yang mereka pimpin. Sendirian baru kau bisa dapat rekomendasi,” ucap Ine sambil tetap fokus pada medan tempur.

“Kalau itu memang sulit. Batasku cuma sepuluh kalau mereka bekerja sama,” ucap Rina sambil menggeleng.

“Mirip. Aku juga bisa sepuluh,” ucap Ine.

Ine kembali menarik busurnya. Dua tangan tambahan terbentuk di punggungnya untuk membentuk mudra. Dalam sekejap, ribuan anak panah dilepaskan bersamaan. Pada saat yang sama, Ine menyemburkan api sangat kuat dari mulutnya, menciptakan hujan panah api yang menghujani tubuh Damar tanpa henti.

Meski diserang bertubi-tubi, Damar masih mampu bertahan. Ia membalas dengan melemparkan puing-puing bangunan ke arah mereka berdua. Ine dan Rina menghancurkan bebatuan itu satu per satu. Namun di tengah Rina membelah batu, sebuah pukulan mendadak menghantam wajahnya, membuat rahangnya bergeser dan kepalanya pusing.

Damar langsung melesat untuk menghajar Ine.

“Apakah memang sejauh ini perbedaan antar tingkatan pejuang? Ini terlalu jauh… kami berdua tidak berdaya saat ini,” pikir Ine sambil berusaha menghindari tinju Damar.

Pada saat itu juga, sebuah tembakan tiba-tiba menghantam tubuh Damar dan menghempaskannya ke belakang.

“Enak saja dirimu mengganggu guru putri kami dan berpikir kami akan diam saja,” ucap seseorang yang baru saja menembak.

Lihat selengkapnya