Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #113

Shinigami

Begitu Damar dibangkitkan dan menggenggam chandrahasa miliknya, ribuan pasukan musuh langsung berjatuhan dengan cepat, ditandai oleh tebasan-tebasan yang sangat rapi dan presisi, sementara di depannya Akhmad, Dani, dan Roni terus memberikan bantuan terbaik mereka untuk membuka jalan dan menahan serangan balasan.

“Ayah, kalau situasi di sini sudah terkendali, aku mau membantu adik-adikku,” ucap Lintang kepada Damar.

“Eh? Kau menikah lagi, Ine?” tanya Damar dengan wajah terkejut.

“Tidak, Mas. Lintang punya beberapa saudara seperjuangan saat sekolah. Salah satunya ini Mas Steve, lalu ada tiga adik tingkatnya yang banyak tingkah, namanya Ihsan, Alim, dan Yusuf. Kurasa kau perlu bertemu mereka,” ucap Ine sambil menjelaskan.

“Ooh, saudara seperguruan, ya. Mirip aku dan Faisal dulu, meski akhirnya buruk sih. Eh, Ihsan… kayaknya aku pernah dengar. Hmm, bukannya dulu dia… ah, pasti beda Ihsan dengan yang kutemui dulu dari Tirtawangi, masih belum lahir juga,” ucap Damar sambil mengingat masa lalu.

“Mungkin memang sama, Pak. Ihsan yang kami kenal juga dari Tirtawangi,” ucap Steve sebelum perlahan meninggalkan tempat itu.

“Kalau benar sama, kau harus melihatnya, Ayah. Dia membuat banyak sekali kebahagiaan, termasuk membawakan kekayaan pada keluarga kita,” ucap Lintang sambil mengepalkan tinjunya ke arah Damar.

Damar membalas kepalan itu dengan salam tangan sambil tersenyum, lalu menatap kepergian Lintang dengan perasaan hangat.

“Kurasa lima keping koin emasku tidak sia-sia,” pikir Damar.

Saat Damar kembali memusatkan perhatiannya ke medan tempur, tampak Endra dan Candro telah berdiri menghadangnya, bersiap menghalangi langkahnya, namun tanpa basa-basi Damar langsung melesat ke arah mereka berdua dan menebas keduanya dalam satu rangkaian gerakan cepat.

“Segel mereka,” ucap Damar dengan nada tegas.

Dani dan Roni segera bergerak, melepaskan teknik penyegelan yang langsung membungkus Endra dan Candro, membuat keduanya tak lagi mampu bergerak.

Dengan mata berkilat penuh tekad, Damar kembali melangkah maju, menembus barisan yang tersisa, menuju sang Swargapati Sakra yang sedang mengamuk dan mengeluarkan banyak sekali makhluk jadi-jadian dari tubuhnya.

Sementara itu Steve dan Lintang bergerak menuju area evakuasi untuk membantu Ihsan.

“Kau memang selalu saja menantang maut ya, Ihsan,” ucap Steve sambil tersenyum, lalu mengeluarkan pasir kacanya dan membentuk ruangan kaca dengan cepat.

“Eh mas Steve, mas Lintang, hmm terima kasih, cepat juga selesainya kalau ada arsitek hebat sepertimu, mas Steve,” ucap Ihsan.

“Eh, di mana Alim dan Yusuf,” tanya Lintang.

“Mereka ada di garis depan, mas, membantu Maharani Sukma,” jawab Ihsan.

“Cah, cah edan kalian bertiga, hsssh sekarang harus ada yang maju, di belakang saja sudah berbahaya,” keluh Steve.

“Biar aku saja, Steve, skill arsitektur ditambah elemen pasirmu akan sangat berguna di sana,” ucap Lintang sambil melesat pergi.

“Woi, bajingan lah Lintang ini, main lompat wae, maaak gimana ini, kan kemampuan pengobatannya lebih bagus dariku,” gerutu Steve.

“Mas Steve, bisa bantu buat melakukan operasi tidak,” tanya Ihsan.

“Woi, apa yang kau pegang itu, Ihsan,” tanya Steve.

“Eee ini beberapa peluru yang kudapatkan dari operasi,” jawab Ihsan.

“Hah, sejak kapan kau bisa operasi,” tanya Steve heran.

“Aku mengamati Shifa mengoperasi tadi, lalu aku mulai melatih elemen angin ku agar bisa digunakan sebagai pisau bedah,” jawab Ihsan.

“Eh, ada-ada saja anak ini, hhhh baiklah aku bantu, mana pasiennya,” ucap Steve sambil membentuk beberapa peralatan bedah dari pasirnya, lalu berjalan menuju para korban yang terluka.

...

Tak seberapa jauh dari situ, beberapa orang ternyata sedang mengamati mereka.

“Tuan Sakra bilang kalau kita tidak boleh menyerang para korban,” ucap seseorang dari sana.

“Tapi mereka adalah penjahat yang harus dibasmi, mana mungkin aku bisa diam melihat mereka hidup, Ibu. Aku akan ke sana, menuju para pembantai itu,” ucap Dio sambil melepaskan tangan ibunya dan melesat menuju ruangan evakuasi.

“Biarkan saja dia, Rika, kita harus mengurus urusan kita sendiri,” ucap lelaki di belakangnya.

Lihat selengkapnya