Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #115

Narendra

Pertempuran di garis depan semakin mencekam. Para Ishvara harus berhadapan dengan dua makhluk setengah dewa, Sakra yang sangat sulit mati dan Yudi yang hampir belum terluka sama sekali.

“Yudi, pasukan Amartasena mulai berdatangan ke sini,” ucap Jack yang baru saja tiba.

“Kita harus lebih serius. Oh ya, beberapa orang sudah mulai mengakuimu sebagai pejuang yang setara denganku. Mungkin kau bisa melawan orang bernama Peter itu sekarang. Toh, kau pasti paling paham tentang orang dari negara asalmu sendiri,” ucap Yudi.

“Heissh, kalau soal tingkatan, orang-orang ini memang sekelas denganmu dan Maharsi Gifar, tapi kekuatannya masih jauh di bawahmu, apalagi Maharsi,” ucap Jack.

“Aku minta tolong padamu, Jack. Tiga Ishvara sangat menyusahkan. Bisakah kau mengatasi salah satunya untukku?” ucap Yudi.

“Baiklah, kalau kau yang memohon, aku akan berusaha,” ucap Jack.

“Terima kasih, kawan,” ucap Yudi sembari melesat ke arah Qin dan Nostradamus, sementara Jack langsung menyerang Peter.

“Permintaan dari orang itu sangat sulit untuk ditolak. Kenapa rasanya seperti itu ya? Padahal dia tidak memakai ilusi sedikit pun,” pikir Jack sembari bertarung habis-habisan melawan Peter.

“Kurasakan memang tidak semudah itu melawan monster seperti Narendra. Orang ini sangat kuat. Aku perlu menggunakan seluruh kemampuanku,” pikir Nostradamus sembari membentuk elemen debu di tangannya.

Saat itu Qin terus berusaha menyerang Yudi secara langsung, namun setiap tinju dan tendangannya selalu berhasil ditangkis atau dihindari. Yudi kemudian menciptakan ledakan api di sekitar tubuh Qin dan dengan cepat membentuk atmasena api darinya. Di sisi lain, Nostradamus menembakkan beberapa bola elemen debu.

“Elemen debu, ya. Gabungan tanah, api, dan angin yang bisa melenyapkan apa pun. Menahannya akan sangat berbahaya bahkan bagiku. Aku perlu menggunakan strategi lain,” pikir Yudi.

Ia membentuk energinya menjadi sebuah tinju api dan meluncurkannya ke arah Nostradamus. Sang tsar berhasil menghindar dan mengendalikan ulang bola-bola elemennya. Namun tiba-tiba sebuah avatar energi menyelimuti tubuh Yudi, menahan seluruh ledakan debu, lalu membentuk sosok pejuang raksasa setinggi ratusan meter dengan sayap dan ratusan persenjataan.

“Aku harus memperkecil jarak. Nostradamus akan sangat berbahaya kalau berada dijarak aman. Qin masih bisa kuhadapi,” pikir Yudi.

Ia mengambil pedang dan perisai, lalu menyerang Nostradamus sambil menahan Qin.

“Sial, pedang api itu tidak masuk akal panasnya,” pikir Nostradamus.

Arena di bawah mereka terkoyak hingga membentuk ruang hampa akibat tebasan itu. Nostradamus membalas dengan laser elemen debu, namun perisai Yudi berhasil menangkisnya.

“Ho, Yudi sudah mengamuk rupanya. Sepertinya waktuku bermain-main hampir habis. Padahal aku masih ingin menyiksa wanita ini,” ucap Sakra sambil menghajar Sukma.

“Tuanku, apa-apaan ini? Panas sekali,” tanya Dira.

“Kau sedang menyaksikan Narendra bertarung. Ini kesempatan langka. Tahan saja panasnya,” ucap Sakra.

Bibir Dira mulai pecah karena panas ekstrem. Narendra membentuk beberapa bola api dengan teknik Aghni dan menyerapnya ke dalam sayap avatarnya, membuat wilayah itu semakin membara.

Lihat selengkapnya