"Kau menyukai ini kan kak Sukma, bukankah kau yang memerintahkan vishkanya untuk membantai orang-orang tak bersalah ini, bukankah kau juga yang menggunakan nama kakekmu, ayahmu, suamimu, anak-anakmu, murid-muridmu, semua orang yang kau kenal untuk mencari kenyamanan, oh Suryanisukma, kau bahkan dengan sengaja membuatkan distrik merah bagi pedagang bejat itu dan alasanmu hanya untuk mengontrol penyakit, lalu kenapa kau mengambil keuntungan dari bisnis itu sementara dirimu sendiri adalah dokter, sepuluh tahun engkau memimpin Sahasradwipa sampai Mandaraka kering dengan sumber daya, sampai Makarapura hancur karena teknologi, sampai semua orang bernaung di sayap Garudapura, tentu saja orang-orang mengemis di depan rumahmu yang bak istana itu, kau bahkan menyuruh anakmu mengambil kamadhenu agar bisa melakukan bisnis baru, Kusumapura kota kelahiran kakek kita yang agung, dibangun atas jerih payah nenek kita kau jadikan kota berlendir dasar wanita gila, aku tau kau lemah dan harus melindungi negara sebesar Sahasradwipa adalah beban di pundakmu sehingga kau tidak mentolerir sedikit pun hal yang menentangmu, berapa banyak korban dari kekejamanmu itu Suryani, coba lihat emas di Guhyaksetra yang sudah kering akibat keserakahanmu itu, lihatlah kakak, negara besar Sahasradwipa hanyalah bualan kosong belaka, kini dia hanyalah peti harta kosong saja," ucap Dira sembari kembali menyalakan trisulanya.
Sukma hanya menghela napas dan menatap adiknya dengan penuh keseriusan.
"Kau sudah beberkan semua fakta tentangku adikku, terima kasih atas kejujuranmu tapi pendosa ini sudah sadar, aku sudah melihatnya anak-anak yang luar biasa itu, Mandaraka sudah hijau lagi karena cahaya kebaikannya, hubungan dengan Panditanagara membaik karena wangi kerja kerasnya, Ngalam sudah menjadi tenang lagi karena hangatnya senyumannya, Tirtawangi sudah menjadi indah karena tarian kebebasannya, meski dia hanya anak kecil yang kepalanya berhiaskan bulan sabit, namun di matanya tergambar langit yang indah, namun di saat yang sama dialah sang penghancur yang selalu menghabisi siapa pun orang yang mengacaukan permainannya, aku bersyukur pendosa sepertiku akan dihabisi oleh kalian karena jika anak itu tau akan bobroknya Dunia ini dia akan menghancurkannya, namun aku tak sanggup menghalanginya karena kebaikan yang dia lakukan selama ini, dia Shangkara yang baik hati dan Rudra yang menghancurkan segala keburukan di depannya dan hari ini kalian telah memantik amarahnya, kini tinggal menunggu waktu sampai dia memulai menarikan tandavanya, terima kasih telah ingin menghabisiku sekarang karena mungkin aku takkan sanggup melihat pralaya yang akan dia mulai untuk mentransformasi dunia," ucap Sukma.
Sukma memanggil bajranya lalu menyalakannya dengan energi miliknya dan segera menggunakannya untuk menyerang adiknya, sehingga kedua senjata mereka berbenturan di angkasa. Damar dan Arya segera mengikuti dari belakang dan berusaha menyerang Sakra yang mulai menembakkan ribuan monster ke arah mereka dan pasukan sanjivani dari Gandaberunda yang disambar oleh para vishkanya. Sambaran petir dari bajra Sakra bergema dan mulai memutar badai awan kosmik yang sangat kuat.
Sementara itu, kedua kakak beradik itu masih saling jual beli serangan. Beberapa serangan dari Sukma berhasil mengenai tangan dan tubuh Dira dan melemparkannya begitu jauh.
"Ada apa pahlawan, bukankah dirimu ingin mengalahkanku," ucap Sukma dingin sambil berjalan kearah adiknya.
"Dasar wanita gila, apa yang akan dia lakukan padaku sekarang," pikir Dira.
Sukma menyambar wajah Dira dengan cengkeraman yang kuat dan membantingnya ke tanah sampai tempat mereka mendarat hancur. Disaat Seno mulai sadar dia segera melihat ibundanya diseret oleh Sukma yang membenturkannya dengan banyak sekali benda langit sambil tertawa keras.
"Ayo kita mulai adikku," ucap Sukma sembari melemparkan Dira ke langit lalu mengumpulkan energi di tinjunya.
"Tidak mungkin maharathi lemah sepertimu bisa melawan seorang maharani sepertiku," ucap Sukma.
Sukma melepaskan tinjunya dari jarak jauh dan mendorong Dira sangat jauh. Dimana pada saat itu juga Seno membentuk pedang angin di kedua tangannya dan melesat cepat ke arah Sukma untuk memberikan perlawanan. Seekor monyet jadi-jadian milik Sakra menghentikannya dan berteriak.
"Jangan melawan Suryani dari jarak dekat," ucap Sakra lewat mulut monyet itu.