“Apa-apaan orang ini, dia mengejarku dengan tatapan mengerikan itu,” pikir Dira yang terus berusaha menghindari Sukma yang terlihat semakin ganas mengejarnya, hingga akhirnya Sakra menyerang Sukma dengan petirnya sampai Sukma terpental.
“Kau tak apa, Dira?” tanya Sakra yang khawatir.
“Aku tak apa-apa, Tuanku Sakra,” jawab Dira.
“Bagaimana kita akan membunuh maharani, dia nampaknya abadi,” ucap Seno.
“Ini sama sekali berbeda denganku yang bisa mengubah titik kesadaran ke bagian tubuh lain. Ini murni kemampuan regenerasi dibantu dengan pengetahuan medis, tubuh yang sangat kuat, dan energi yang cepat sekali pulih,” pikir Sakra.
“Pasti ada cara untuk menghabisinya, Nak. Regenerasinya terlalu cepat dan bersih, adaptasinya juga sangat menakjubkan. Kita perlu waktu untuk mengatasi penyembuhannya yang luar biasa itu,” pikir Dira.
“Itu dia, regenerasi yang cepat dan bersih. Aku bisa merusaknya dengan menggunakan virus yang memanfaatkan pembelahan selnya dan mengganti seluruh selnya dengan sel terkontaminasi,” ucap Sakra yang kemudian membentuk atmasena daging miliknya.
“Heh, apa yang kau lakukan, Tuan?” tanya Seno.
“Seno, Dira, saat ini atmasenaku akan mencoba membuat serangan virus yang bisa menghancurkan satu sistem dalam tubuhnya. Kita perlu menghadangnya sampai sistem virusnya matang dan siap untuk menghabisinya,” ucap Sakra.
Sakra kembali menyerang Sukma bersama Seno dan Dira, diikuti koloni lalat miliknya yang terus dimodifikasi. Pukulan demi pukulan Sakra beradu dengan Sukma, dibarengi tebasan pisau angin dan tusukan trisula, lalu dengan cepat Sukma kembali beregenerasi.
“Hmm, menyusahkan sekali orang ini. Jeevamani bisa membuat energinya pulih dengan sangat cepat, apalagi dia juga punya energi kosmik dalam tubuhnya. Aku belum menggunakan mode yogiku, tapi ini sudah sangat luar biasa,” pikir Sakra sambil terus melancarkan serangan dari bajranya.
Sementara itu, Salman masih menahan Baskara di tempat lain menggunakan elemen pasirnya untuk bertahan, namun untuk menyerang, Salman memakai elemen baterai yang diledakkan di muka Baskara. Meski begitu, Baskara masih mampu menahan dan bahkan membalas serangan.
“Tch, bahkan dengan kondisi mayat sanjivani yang membuatmu lebih lemah, kau masih sekuat ini, Baskara. Nampaknya aku harus mengganti strategiku,” pikir Salman sambil mundur ke arah medan tempur Sukma dan Sakra.
Saat itu, Baskara hanya bisa menyerang Salman karena tidak memiliki kesadaran. Melihat hal tersebut, Dira menyadari sesuatu.
“Seno, apakah kau bisa memindahkan kesadaranmu ke mayat sanjivani?” tanya Dira.