Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #119

Kopi Hitam

Setelah kepulangan Ihsan dan para saudaranya, Shafa, Shifa, dan Sekar berjalan ke arah kerumunan orang yang sedang mengumpulkan abu jenazah Sukma.

Mereka semua pulang dengan perasaan bercampur aduk.

Bowo, sebagai anak, memegangi pot berisi abu jenazah ibundanya. Ia ditemani oleh anggota keluarga lainnya, juga diikuti oleh para vishkanya yang telah seperti anak-anak Sukma sendiri.

Iring-iringan para raja pun bergerak untuk memberikan penghormatan terakhir kepada maharani mereka.

Pasukan berjalan menuju tempat pendaratan sebagai satu barisan petarung Sahasradwipa. Ribuan saubha vimana berjejer rapi di sana, membentuk pemandangan megah.

Itulah vimana terbesar yang pernah dibuat manusia yang datang untuk mengantar sang ratu menuju liang peristirahatannya berpisah dengan pushpaka vimana milik Ihsan dan saudara-saudaranya yang telah melesat pergi sejak tadi.

Dengan demikian, pasukan Sahasradwipa pulang bersamaan dengan terbitnya fajar.

...

Di saat bersamaan, kelima Pushpaka Vimana milik Ihsan melaju menuju desa mereka di Tirtawangi.

Alim memapah ayahnya yang mulai merasakan efek samping dari radiasi waktu itu, lalu berjalan menuju ibundanya. Sementara itu, Ihsan menemui Pak Rik untuk mengabarkan kematian Pak Buwang dan kondisi kritis Pak Khan. Setelah itu, ia kembali ke rumah Alim sambil menyiapkan tenaga medis sebisanya, hasil pengalamannya saat pertempuran pembebasan Tirtawangi bersama Shifa.

Siang itu juga, Ihsan dan keempat saudaranya bergerak tanpa banyak suara. Mereka berusaha melanjutkan kegiatan seperti biasa, namun di saat yang sama mulai menyiapkan langkah-langkah untuk masa depan.

Ihsan kemudian mengeluarkan hadiah yang ia siapkan sebagai tempat mereka berlima berkumpul bersama.

“Aku tidak bisa membiarkan hal ini terus-menerus berulang. Kurasa selain menegakkan dharma, kita juga harus menumpas habis adharma,” ucap Alim.

“Iya, Cak. Tapi kita harus merawat Mbah Khan terlebih dahulu sebelum menjalankan tugas menumpas adharma,” ucap Ihsan.

“Setelah itu aku ingin kau menyusupkanku ke Devaloka. Aku ingin menumpas habis Swargapati, lalu memadamkan nyala kehidupan Narendra,” ucap Alim penuh amarah.

“Jangan menceburkan diri ke bahaya, Alim. Negeri para Aditya bukan tempat yang aman bagimu,” ucap Lintang.

“Ada yang mau kopi?” ucap Steve sambil membawa teko dan menuangkan kopi ke cangkirnya, lalu menyiapkan empat cangkir lainnya.

“Aku akan menyiapkan beberapa teknologi yang akan membantu kita menjadi lebih maju, mungkin juga persenjataan untuk bekal Alim di Devaloka,” ucap Yusuf sambil menuangkan kopi hitam ke gelasnya.

“Kuambilkan satu untukmu, ya, Cak,” ucap Ihsan.

“Terima kasih, Ihsan. Hmm, tapi Suf, kalau mereka sadar aku datang untuk menghabisi Sakra, mereka akan segera menghabisiku,” ucap Alim sambil mengambil dan menyeruput kopinya.

“Sebelum itu, ada yang perlu benar-benar kita benahi. Kekuatan tempur kita masih sangat rendah. Tidak mungkin rasanya menyentuh pejuang sekelas Atimaharathi seperti mereka. Tapi aku dengar orang-orang di Devaloka memberlakukan sistem pembentukan kelompok untuk menyaingi Maharathi, dan ini kurasa sangat efektif. Kita diperbolehkan menantang dan mengalahkan salah satu kelompok untuk mendapatkan akses ke Devaloka,” ucap Steve.

“Kalau begitu, kita akan menantang grup itu, para Apsara,” ucap Alim penuh ambisi.

...

Sementara itu, di Kusumapura, iring-iringan maharani telah tiba tepat di tengah malam.

Lihat selengkapnya