"Le," panggil Khan pelan.
"Iya, Ayah," sahut Alim.
"Mainkan sulingmu njajal, Ayah mau dengar," ucap Khan.
Mendengar itu, Alim segera mengambil serulingnya dan mulai memainkannya, sementara sorot mata ayahandanya perlahan memudar.
"Terima kasih sudah jadi orang baik, Le. Lanjutkan, ya," ucap Khan lirih sebelum hembusan napas terakhirnya.
Begitu kematian menjemput, Alim langsung menutup wajah ayahnya dan mengantarnya ke sebuah padang untuk akhirnya dibakar, karena mengerti bahayanya tubuh penuh radiasi ayahnya. Malam harinya, Ihsan menemani Alim menyendiri di pinggir lautan.
"Alim, Ihsan, kita pulang dulu, ya," ucap Yusuf.
"Silakan, Yusuf, Mas Steve, Mas Lintang. Kalian boleh pulang. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menemani hari-hari terakhir ayahku," ucap Alim.
"Bapakmu orang yang baik, kau akan bertemu dengannya lagi di surga," ucap Steve.
"Aku tidak yakin aku akan tetap bisa berjalan di atas kebenaran selama menjalankan rencanaku sendiri," ucap Alim.
"Kau harus yakin, Cak. Kalau tidak, mau tinggal saja di sini. Kita semakin kuat bersama," ucap Ihsan.
"Ihsan, ini mungkin berita yang buruk, tapi tanda yogi yang menempel di tubuhku ini berasal dari Sakra. Akulah orang yang paling ingin menghabisinya, tapi harus membelanya untuk sementara agar bisa memahami cara kerja tanda yogi yang tersimpan di segel Srivatsa di dadaku ini," ucap Alim.
"Bagaimana kalau ternyata Sakra adalah orang baik? Bagaimana kalau Yudi adalah orang baik yang ingin menggunakan kekuatannya untuk memberikan keadilan pada dunia? Apa yang akan kau katakan setelah itu? Bukankah selama ini kita juga menjalankan dharma kita? Apa yang membuatmu berpikir bahwa dendammu akan membawa kebaikan, Cak?" ucap Ihsan.
"Bagiku, dharma adalah jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan. Adharma adalah tindakan yang melenceng selama menempuh jalan itu. Orang tidak pernah tahu niat mereka sebenarnya, tapi tindakan mereka perlu untuk diadili. Kalau misalnya ternyata tujuan mereka baik, maka akulah yang akan menanggung beban keadilan yang berada di mimpi mereka. Izinkan aku pergi, wahai Shangkara," ucap Alim.