Setelah dirawat dengan baik, pohon kecil yang ditanam Ihsan dengan air matanya akhirnya mulai tumbuh. Pagi buta itu, saat Ihsan baru saja bangun dan mempersiapkan harinya, ia tiba-tiba mendapat kabar dari gawainya.
“Eh, Pak Arya diangkat menjadi maharaja. Bagus sih, tapi ini sepertinya karena tidak ada kandidat yang benar-benar layak di negeri ini. Dia dan maharani adalah Atimaharathi terakhir di negeri ini. Jadi sebelum pengukuhan, dia harus mendapatkan pengakuan kesetaraan oleh para Ishvara lainnya. Kalau tidak, kita bisa dalam masalah. Negeri sebesar Sahasradwipa adalah ladang emas. Kalau orang-orang di dalamnya tak bisa memanfaatkan, negeri lain bisa menyerang. Hmm… tapi ini juga merupakan kesempatan besar bagiku. Bisnis Kailash sudah menyebar ke setidaknya sebelas negara. Kalau Alim benar-benar bisa sampai ke Devaloka, aku bisa saja mengangkat mereka ke kancah dunia dan tidak terus menjadi jamur di dalam bayangan hutan seperti sekarang,” pikir Ihsan.
Ia membuka peta wilayah dan memfokuskan perhatiannya pada Sahasradwipa yang, meski luas dan terdiri atas banyak kerajaan yang tergabung, ternyata sebagian besar hanyalah lahan kosong yang sering dipakai para siswa untuk menjalankan ujian. Bahkan di kerajaannya saat ini, di Yamawrata, tidak banyak ditemukan kehidupan selain di Makarapura dan Ngalam. Tirtawangi baru saja bangkit dari keterpurukan setelah bertahun-tahun dianggap sebagai wilayah tak berperadaban.
Saat ini Ihsan sedang menjalankan proyek besar untuk mereklamasi sebagian besar lahan Tirtawangi dengan fokus ke sebagian besar lahan yang kurang terurus. Ia juga ingin membuat inovasi baru untuk menciptakan bintang di langit dan sedang mengerjakannya saat itu. Meski Ihsan tahu bahwa dengan menggunakan energinya sendiri ia bisa menyusun bintang dengan mudah, yang ia coba lakukan adalah membuat alat yang mampu mengaktifkan fusi nuklir di angkasa untuk menciptakan bintang. Selain bisa digunakan sebagai sumber energi tingkat tinggi bagi warga, bintang itu juga dapat menjadi bekal agrikultur Alim selama di Devaloka.
Ihsan juga memaksudkan bintang baru ini sebagai tempat daur ulang sampah. Ia mencapai kesimpulan tersebut karena mengingat bahwa artaguna adalah jagatpati, material paling dasar di seluruh jagat raya.
Begitu waktu subuh mendekat, Ihsan menyempatkan diri menyiram pohon-pohon dan bunga yang ia miliki, lalu berangkat menuju musholla terdekat.
...
Seusai kegiatan pagi, Ihsan kembali ke gubuknya dan membuat alat fusi nuklir yang segera ia terapkan pada pemakaian partikel jagatpati miliknya untuk menciptakan bintang.
“Heeeh, masih belum berfungsi juga. Padahal tenaganya sudah kutingkatkan berkali-kali memakai lingga yoni. Hmm, apa yang salah, ya? Apa tumbukannya tidak terjadi?” pikir Ihsan sembari terus mengotak-atik alat barunya.
Beberapa saat kemudian matahari pagi mulai terbit, bersamaan dengan kedatangan Alim yang membawakan banyak barang yang ia dapat dari orang-orang yang berkabung.
“Hei, Cak. Eh, banyak sekali barang yang kau bawa,” sapa Ihsan.
“Hmm, ini dari orang-orang yang berkabung. Tapi ada beberapa gadis yang membawakan bunga berisi surat-surat cinta sih. Kurasa efek kaustubamani memang nyata. Kau ngapain cuma pakai sarung begitu?” ucap Alim.
“Biasalah, lagi bikin sesuatu. Hmm, sudah seminggu semenjak kita pulang dari kompetisi, ya? Oh iya, aku dapat laporan dari Anas bahwa usaha kita laku keras di Garudapura dan rencananya untuk membuat garis suplai lancar kini berjalan. Garudapura sudah jauh lebih hidup dibandingkan dulu,” ucap Ihsan.
“Aku juga sudah dengar tentang itu. Yang ingin kuberitahukan padamu adalah pengangkatan Pak Arya menjadi maharaja selanjutnya akan dilakukan nanti malam. Kau dapat undangan resmi selaku pemilik Grup Kailash,” ucap Alim.
“Kau bisa mewakilkan diriku kah, Cak? Aku tidak terlalu suka acara formal seperti itu. Bilang saja kalau aku sedang menyusun alat baru. Lagipula kegunaan kaustubamani memang untuk meningkatkan pesonamu, kan? Cocok itu untuk acara formal,” ucap Ihsan.
“Sebenarnya aku juga sudah mengira kalau dirimu akan menolak undangan ini. Nanti siang aku berangkat. Eh, aku boleh bantu tidak?” ucap Alim.
“Boleh, ayo saja,” ucap Ihsan.
Beberapa saat kemudian Alim menemukan ada yang aneh pada alat Ihsan.
“Wei, Ihsan, kau tidak mau pakai logam naksatranitaka buat pemantiknya?” ucap Alim.
“Heh, iya juga. Belum ada logam itu yang kupasang. Pantas saja kok tidak berfungsi,” ucap Ihsan.
“Kau ada atau tidak logamnya?” tanya Alim.
“Tidak sih. Kau ada atau tidak, Cak?” tanya Ihsan.
“Mana tahu aku kau mau bikin alat pembuat bintang. Tidak ada lah. Kau tahu sendiri kalau teknologi bukan bidangku. Yusuf mungkin punya, aku bisa hubungi dia. Eh, atau aku beli saja di Garudapura mumpung nanti aku juga ke sana,” ucap Alim.
“Minta tolong ya, Cak,” ucap Ihsan.
“Atau dirimu ikut juga,” ucap Alim.
“Lah, ngapain?” ucap Ihsan.
“Heh, cah kangkung, undangan ini buat dirimu. Kenapa maksa banget tidak mau ikutan sih? Lagian kalau tidak mau ke tempat pengangkatan, kau bisa di Arunavati saja ngobrol sama Anas, atau sekalian ke rumah Shafa. Mereka pasti kangen,” ucap Alim.