Pada malam hari pukul delapan, Alim dan keluarga Kerajaan Mataram berangkat menuju Keraton Dharmaraja untuk menghadiri pelantikan yang akan digelar tepat tengah malam.
“Kau akan kuantar ke ruanganmu ya, Alim. Anak dan istriku bakal langsung ke ruangan khusus kerajaan,” ucap Dani sembari menuntun Alim menuju ruang para undangan.
“Jadi begini bentuk Keraton Dharmaraja saat digunakan. Aku pernah ke sini, tapi tidak semegah ini. Seolah ada yang berbeda,” pikir Alim sembari menyaksikan Keraton Dharmaraja yang menyala indah dan dipenuhi para pejuang serta tamu undangan.
“Aku tinggal dulu ya. Baik-baik di sini,” ucap Dani sembari meninggalkan tempat itu.
“Iya Pak. Hati-hati,” ucap Alim.
Alim kemudian memasuki ruangan yang berisi para pebisnis dan keluarga mereka. Meski baru datang, orang-orang langsung mengenalinya, bukan hanya karena permata paling berharga yang terpasang di dadanya, tetapi juga karena bisnis besar yang saat itu ia wakili.
“Hei, Alim, lama tidak jumpa,” sapa Rafi yang saat itu sedang bersama keluarganya.
“Oh, hei Rafi, Shafa, Pak, Bu,” sapa Alim.
“Sendirian saja nih? Tidak biasanya melihat kalian tidak kumpul berlima, atau minimal biasanya dirimu bareng Ihsan. Selamat ya karena dapat juara tiga kompetisi kemarin. Permata itu terlihat indah di dadamu,” ucap Rafi.
“Ihsan!? Oh iya, mana Ihsan?” tanya Shafa cepat.
“Iya, ini sendiri. Biasalah, Ihsan tidak suka acara beginian, jadi aku yang mewakili. Yusuf sedang sibuk melakukan riset, Mas Steve bukan warga Sahasradwipa, dan Mas Lintang paling sedang sibuk menjalani latihan,” ucap Alim.
“Wah begitu ya, sayang sekali,” ucap Pak Akhmad.
“Hhmh, harusnya Ihsan yang ikut kan,” keluh Shafa pada ayahnya.
“Heh, Shafa. Kalau dia yang ikut bisa hancur tempat ini. Bukannya kau sendiri pernah lihat anak itu menghancurkan inti galaksi hanya demi seru-seruan? Hih, kau gimana sih bisa tahan setim dengannya, suka pula,” ucap Rafi.
“Kau cuma iri karena tidak dapat hadiah kejuaraan,” balas Shafa.
“Sudah-sudah, kalian ini kok malah bertengkar sih,” ucap ibu mereka.
“Memang kenyataannya Rafi tidak menang,” sahut kakak mereka.
“Jangan begitu. Kalian tidak perlu terlalu larut dengan masa lalu. Saat ini sudah berbeda. Eh, Mas, mau duduk sama kami tidak?” tanya Pak Akhmad.
“Mau sih, Pak. Tapi kan kami disediakan tempat duduk sendiri. Daripada kosong, mending kuisi,” ucap Alim.
“Eh begitu ya, suka sendiri nampaknya,” ucap Rafi.
“Eh, maksud dari ini apa, Pak Akhmad? Kok ada barisan seperti ini? Aku jadi bingung,” ucap Alim.
“Itu baris Mandala di sini. Di tengah ada maharaja dan wahananya yang akan dinobatkan, bersama sapi terbaik untuk dikorbankan dan dimakan. Baris pertama disebut Brahmani, berisi para rshi yang membantu maharaja, duduk di padmasana. Baris kedua Vaishnavi, para raja pelindung wilayah, duduk di nagasana. Baris ketiga Rudrani, para pebisnis besar seperti kita, duduk di singasana.
“Baris keempat Aindri, para seniman, duduk di gajasana. Kelima Kartiki, para jenderal dan penertib mandala. Keenam Varahi, pengelola tanah dan air seperti petani dan nelayan, duduk di makarasana. Ketujuh Yami, petugas keamanan dan penyelenggara, menghadap keluar dan siap bertempur kapan saja di atas kereta kencana mereka.
“Di paling luar ada tempat duduk para Ishvara. Biasanya empat, tapi karena ini pelantikan, akan banyak Ishvara hadir. Mereka boleh membawa wahana untuk bertempur kapan saja. Bisa dibilang ini ajang pengakuan,” jelas Pak Akhmad.
“Hah, kita boleh bertempur kapan saja? Berarti perang juga bisa terjadi di sini?” tanya Alim.
“Ya, Sakra juga diundang. Bagaimanapun dia seorang Ishvara,” ucap Rafi.
“Bukankah itu sangat berbahaya?” tanya Alim.
“Itu memang berbahaya. Karena itu hanya sedikit orang yang diundang. Jika Ishvara lain tidak setuju dan menyatakan perang di sini, maka maharaja dan seluruh mandalanya harus berperang saat ini juga, termasuk kita. Kalau kalah, pemimpin negeri ini tidak akan diakui sebagai Ishvara,” ucap Shafa.
“Eh Kak Shafa, tidak semua hal ditentukan militer. Kalau begitu tiap hari ada perang. Biasanya para Ishvara hanya ingin mengakui kedaulatan. Mereka tidak sebodoh itu untuk saling menantang di penobatan,” ucap ibunya.
“Kau benar, Rani. Tapi kemungkinan perang tetap ada, meski kecil,” ucap Pak Akhmad.