Begitu selesai dilantik, Arya langsung mengumpulkan para rshi untuk melakukan rapat kerja, sementara para hadirin lainnya kembali ke kediaman masing-masing.
Tepat pukul dua pagi, Alim mendarat di Kota Arunavati. Ia segera mendapatkan kabar bahwa seluruh terdakwa korupsi yang tertangkap telah dieksekusi dan harta mereka akan dikembalikan sebagai kas negara.
Alim kemudian menemui Anas yang baru saja bangun dan tampak memulai harinya dengan gembira.
“Hai, Pak Anas. Ihsan mana, Pak?” sapa Alim.
“Eh, Mas Alim. Mas Ihsan lagi di kantor baru kita di Jatayusagiri. Dia tidak mau pulang kemarin,” ucap Anas.
“Hmm, berarti aku harus menjemputnya ke sana. Kau ada petanya, kan?” tanya Alim.
“Oh ada, Mas. Ini petanya,” ucap Anas sembari membagikan lokasi kantor baru mereka.
“Oh, kantornya yang ini? Sudah pindah saja,” ucap Alim.
“Iya, Mas. Kami butuh kantor untuk manajemen yang lebih santai. Kalau mau, saya temani kok,” ucap Anas.
“Tidak perlu. Kau lakukan saja seperti biasa di sini. Aku percaya padamu,” ucap Alim sembari menaiki pushpaka vimananya untuk menuju Jatayusagiri.
“Hmm, Raden Alim pasti sangat khawatir dengan Raden Mas Ihsan. Mereka memang seperti saudara sendiri. Lucu deh anak-anak itu,” pikir Anas sembari melihat Alim pergi.
...
Sementara itu di Jatayusagiri, Ihsan baru saja selesai membersihkan diri. Para karyawati sempat dibuat terpesona melihatnya yang baru selesai mandi dan berebut ingin mendandaninya. Namun tanpa mereka sadari, Ihsan sudah selesai merapikan dirinya sendiri dan hanya memperhatikan mereka yang saling bersitegang.
“Kalian ngapain bertengkar dari tadi? Ada masalah apa?” tanya Ihsan.
“Lah kau sih, Fitri. Sudah selesai kan jadinya,” ucap salah seorang karyawati.
“Memangnya cuma kau yang mau pegang Aden? Ini kesempatan langka, Mila,” jawab Fitri.
“Mereka kenapa dah, Pak Rendi?” tanya Ihsan.
“Saya tidak tahu, Aden,” jawab Rendi.
“Aden iki sopo? Kok dari tadi jadi rebutan?” tanya Ihsan.
“Eee itu kan panggilan kami ke panjenengan, Raden Mas Ihsan,” jawab Rendi.
“Oh, aku? Bisa panggil Ihsan saja sih. Bapakku susah-susah menamai, kalian ganti begitu saja,” ucap Ihsan.
“Baik, Mas Ihsan. Saya usahakan,” ucap Rendi.
“Kau curang, Pak. Tidak bilang-bilang kalau Raden Mas sudah di bawah,” ucap Fitri.