Begitu sampai di Tirtawangi, Ihsan dan Alim kembali membuka peta besar Sahasradwipa untuk menyusun pergerakan pasukan. Tiba-tiba notifikasi masuk ke gawai Alim.
“Pasar budak dibuka? Apa ini!? Kenapa pasar budak dibuka untuk umum? Bukankah ini berbahaya? Ini baru dua belas jam setelah pelantikan. Apa yang ada di pikiran Yaksharajan sebenarnya?” ucap Alim.
“Anggap saja itu pasar pekerja, Cak. Bagaimanapun para budak itu aset negara. Kalau dibebaskan begitu saja, negara akan rugi karena kehilangan pekerja gratis yang paling hanya perlu diberi makan,” ucap Ihsan.
“Hoi, kenapa kau dari tadi santai sekali menanggapi hal ini? Ini budak, Ihsan. Nyawa manusia. Kau tidak seharusnya menganggap mereka seringan itu,” tegur Alim.
“Memangnya kau pikir aku hanya mendapatkan karyawan dari penjahat dan gelandangan? Aku juga membeli dan memerdekakan para budak. Paling aku minta mereka kerja di awal hanya dengan makan, dengan sistem hutang dari penebusan harga,” ucap Ihsan.
“Apa maksudmu? Aku juga membebaskan mereka dan memberikan gaji penuh dari awal,” ucap Alim.
“Sayangnya negara ini, dan aku juga, perlu mengembangkan kekuatan sebesar mungkin. Ini hanya caraku untuk adil pada mereka dan pada diriku sendiri. Kebaikan hanya akan membawa perdamaian semu, dan hanya kebenaran yang akan membawa kemakmuran serta perdamaian sejati. Setiap orang harus punya keyakinan dan semangat untuk maju. Semua orang harus berusaha mencapai kebahagiaan mereka masing-masing. Semua orang harus menjalankan kewajibannya agar bisa sampai pada tujuannya. Aku tidak mau menyeret orang tidur ke meja makan. Mereka harus bangun dulu, baru mereka bisa makan,” ucap Ihsan.
“Mereka hanya orang lemah, Ihsan. Coba pikirkan dulu. Kita harus menyetarakan posisi mereka lebih dulu, baru bicara keadilan. Dan inilah dharmaku,” ucap Alim.
“Dharma? Jalan kebenaran, ya? Aku juga punya itu. Membantu orang sebanyak mungkin, memberikan mereka kesempatan yang sama. Tapi ada juga karma yang harus berlaku. Setiap kebaikan ada harganya, setiap keburukan ada harganya. Manusia berjalan di atas jalan dharmanya, tapi dunia akan memaksanya merasakan lingkaran karma. Banyak orang bilang kita bisa terlepas darinya, tapi tidak bisa. Menegakkan dharma adalah kebaikan, tapi mematuhi karma adalah kewajiban. Bagaimanapun itulah hukum Tuhan. Roda kala terus berjalan, Cak. Aku tidak punya waktu untuk berdebat panjang soal kebenaran denganmu. Aku berjalan di jalanku dan kau berjalan di jalanmu. Aku bertindak atas dasar keinginanku untuk berbuat kebaikan sebanyak mungkin, dan aku menyadari manusia lebih perlu semangat yang berkobar daripada dipaksa berjalan ke mana pun oleh sang penolong. Kalau jalan dharmamu adalah melenyapkan semua keburukan dari dunia, aku persilakan. Tidak ada yang salah. Pada akhirnya hasilnya tetap kebenaran juga. Bedanya hanya aku bertindak atas kemauanku, dan engkau bertindak atas dasar kasih sayangmu,” ucap Ihsan.
“Aku akan memulai perjalananku sebentar lagi untuk menumpas segala adharma yang ada. Kalau sampai dirimu juga melakukan tindakan adharma itu, aku juga akan melawanmu, Ihsan. Akan kuingatkan dirimu meski harus dengan menembakkan chakraku ke lehermu,” ucap Alim.
“Terima kasih masih mau terus mengingatkan orang lain untuk berbuat baik, Cak. Tapi aku juga akan melawan balik. Aku harap hal itu tidak terjadi sampai trisulaku harus menancap di dadamu. Jadi, apa rencanamu setelah kau berangkat ke Devaloka?” tanya Ihsan.
“Akan kutata ulang tempat itu. Lalu aku akan menjadi Ishvara di sana dan kusebarkan kebenaran ke seluruh dunia, baik dengan ucapanku atau dengan chakraku,” ucap Alim.
“Itu pasti melelahkan. Sapi yang kau coba gembalakan banyak sekali, Govinda. Serulingmu itu akan menyelamatkan dunia dari rasa sengsara. Semoga kau selalu berada dalam perlindungan Tuhan. Semoga selalu dikuatkan untuk mencapai tujuan muliamu itu. Aku hanya bisa berdoa dan melakukan tugasku untuk membantu orang-orang,” ucap Ihsan sambil tersenyum tipis.
“Saat dunia itu terbentuk, Mas Lintang akan menghiasi dunia dengan keadilan. Mas Steve akan membagikan kebijaksanaannya. Yusuf akan membuat dunia lebih maju. Dan aku bisa dengan tenang mengawasi mereka,” ucap Alim.
“Kau ingin menyatukan dunia ya!? Waaah menarik. Aku akan dengan senang melihat mimpimu berjalan. Tapi sebelum itu aku mau ke Vijayadwipa. Aku dapat kabar dari sana bahwa ada lelang budak kerajaan. Rata-rata artaguna mereka emas pula. Eh, itu alatnya sudah selesai. Bisa minta tolong buat disampaikan ke Yusuf untuk dibuatkan cetak biru? Tolong ya, Cak. Daaah,” ucap Ihsan sembari melesat pergi menuju bandara.
“Eh alah, sudah pergi begitu saja anak nakal itu. Padahal dialah yang paling dicintai orang-orang. Dia yang akan menjadi Maheshvara di dunia yang damai itu, tapi dia pergi begitu saja. Ah biarlah. Biarkan saja dia mengembangkan diri lebih jauh lagi,” gumam Alim sembari menatap Ihsan yang semakin menjauh di langit.
...
Sesampainya di Vijayadwipa, Ihsan segera menuju tempat pelelangan. Ia melihat berbagai kelompok budak berdiri berbaris—ada yang terlatih sebagai pengrajin, penjaga, penulis administrasi, hingga pelayan istana.
Tak jauh dari sana, ia melihat Sekar bersama beberapa putri bangsawan yang tampak serius memperhatikan daftar lelang.
“Yow, Sekar. Hai juga, Mbak-Mbak semua. Ngapain ke sini?” sapa Ihsan santai.
“Ya jelas kami mau membebaskan beberapa budak negara. Mumpung dilelang semua oleh Yaksharajan. Kabarnya sebulan sekali akan ada lelang seperti ini sampai semua budak negara habis dan digantikan tenaga profesional,” ucap Sekar.
“Tahu banget kayaknya kau, Kar,” ucap Ihsan sambil tersenyum miring.
“Iyalah. Ayahku kan diangkat jadi rshi. Memangnya mau apa anak biasa sepertimu ke sini? Nonton kah?” ucap salah satu putri dengan nada meremehkan.
“Ohh jadi rshi ya? Semoga ayahmu amanah ya, Sekar. Oiya Mbak, saya mau beli beberapa untuk dijadikan pekerja di usaha saya. Nanti saya gaji kok. Hitung-hitung mereka sudah terlatih bekerja untuk negara, hehe,” ucap Ihsan ringan.
“Hilih, paling dapat satu, Mas. Kau siapa sih?” ucap putri lainnya.
“Eh Alya, kayaknya aku tahu anak itu. Bulan sabit di kepalanya itu… mungkin dia Ihsan Sang Rudra. Buktinya Sekar kenal,” ucap putri lain dengan suara lebih pelan.
“Palingan cuma niru sih, Icha,” ucap Alya ragu.
“Hmmm Gian, Alya, Icha… dia memang Ihsan Sang Rudra. Memangnya kau pikir kenapa aku bisa mengenalnya?” ucap Sekar tenang.