“Pembukaan sanggar tari Manasadevi? Hah, menarik sekali anak ini,” ucap Reva dengan tangan berlumur darah. Di hadapannya, Shafa terkapar lemah di lantai.
“Ibu Guru, bukankah engkau terlalu keras pada Shafa?” tanya Shifa sembari menyembuhkan temannya.
“Salahnya sendiri tidak fokus saat makan. Membaca berita bisa setelah berbuka. Untuk apa melihat gawai sambil makan? Bukankah sudah kubilang untuk menghargai makanan? Kalau masakanku kurang sesuatu, katakan. Percuma kuberi kalian latihan kekuatan kalau tata krama dasar saja tidak dipahami,” tegur Reva.
“Tapi dia hanya membaca berita dari laki-laki kesayangannya,” ucap Shifa.
“Lalu itu alasan untuk melupakan tata krama? Tanggung jawab kalian sebagai pemegang kekuatan besar bukan hal sepele. Kalian sedang berada dalam pelatihanku. Vishkanya saat awal terbentuk jauh lebih baik dari ini. Kenapa sekarang isinya bocah-bocah tak becus seperti ini?” ucap Reva.
“Tapi…” bantah Shifa lagi, lalu dicegah Sekar yang menggeleng.
“Sudah, jangan dibantah. Tidak menghormati makanan memang bukan hal baik, If,” ucap Sekar.
“Maafkan aku, Guru. Aku salah,” ucap Shafa yang mulai sadar.
“Habiskan makananmu,” ucap Reva sambil menyerahkan piring Shafa yang ternoda darah.
“Bu, tapi itu penuh darah,” ucap Shifa.
“Tidak apa-apa, Shifa. Itu darahku sendiri,” ucap Shafa sambil menghabiskan isi piringnya.
“Shafa… apa yang kau lakukan,” pikir Shifa menahan mual, sementara Sekar memalingkan wajah.
“Bagus. Sekarang berdiri dulu, akan kupel lantainya,” ucap Reva.
“Ibu Guru, apakah ini karena Shafa adalah keturunanmu sehingga kau keras padanya?” tanya Sekar sambil membantu Shafa berdiri, sementara Shifa membersihkan piring.
“Di sini dia muridku, tidak kurang, tidak lebih. Ini bukan soal keturunan, Mbak Sekar. Ini soal disiplin dan tata krama. Kalian bertiga sangat cantik. Saat dewasa nanti, mungkin jauh lebih cantik dariku. Kalian akan dikagumi banyak orang. Tapi dunia ini tidak hanya berisi orang baik. Ada juga mereka yang hidup dikuasai nafsu. Gadis seperti kalian bisa saja dipandang hanya sebagai objek. Karena itu kalian harus kuat untuk melindungi diri. Namun kekuatan tanpa tanggung jawab tidak ada artinya. Bagaimana aku bisa percaya pada tanggung jawab kalian kalau cara makan saja tidak benar?” jelas Reva.
“Bukankah nanti akan ada orang yang melindungi kami?” gerutu Shifa.
“Hanya Tuhan dan diri kalian sendiri yang bisa diandalkan sampai akhir. Orang-orang kuat tidak selalu bersama kalian,” ucap Reva, lalu duduk dengan wajah muram.
“Kau kenapa, Ibu Reva?” tanya Shafa.
“Aku tidak apa-apa, Nak. Bersiaplah, kita lanjut latihan setelah Isya’,” ucap Reva lalu meninggalkan ruangan.
Di depan kolam, ia bergumam sendiri.
“Berapa kali aku harus melindungi diriku sejak kematianmu, Bhatara. Mungkin seharusnya aku bersembunyi dalam bayangan agar tanganku tak terus berlumur darah. Tapi kau memintaku menjaga kota ini, suamiku,” gumam Reva.