Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #127

Dunia Fana

Dua bulan telah berlalu sejak kematian Maharani. Sahasradwipa kini menjadi jauh lebih stabil. Para budak negara yang dahulu dijual sebagian telah berubah menjadi pekerja profesional di berbagai bidang, meski tidak sedikit pula yang masih tetap hidup sebagai budak. Sepuluh bulan sudah berlalu sejak kelulusan Ihsan, Alim, dan Yusuf, dan kini dua kota mereka di Yamawrata menjadi sangat ramai. Sebulan yang lalu bahkan datang sebuah grup penari yang sangat membantu Ihsan membuat usahanya semakin dikenal orang. Sayangnya klub sepak bola yang sedang mereka kembangkan masih belum terlalu dapat diandalkan. Meski begitu Ihsan sebenarnya tidak terlalu peduli dan justru sedang menikmati harinya ditemani alunan seruling dari Alim.

Beberapa bagian dari bisnis Ihsan yang cukup aktif menggeluti berita bola sempat menawarinya untuk mencari pemain baru. Namun tujuan Ihsan sejak awal hanyalah membantu para budak memperoleh pekerjaan, sehingga ia tidak mengganti timnya kecuali ada klub lain yang bersedia membeli para pemain itu. Bagi Ihsan, klub tersebut hanyalah cara untuk mengubah pandangan orang-orang terhadap para mantan budak.

“Aden, panjenengan yakin akan mempertahankan kami yang terus kalah begini? Dah banyak yang minta diganti loh,” ucap Riki, kapten tim yang kebetulan datang menemui Ihsan.

“Kenapa lagi, Mas Riki? Kalau kulepas sekarang bakal percuma aku membentuk kalian. Baru tiga minggu loh, masak udah nyerah. Dah menang sekali loh, hihihi,” ucap Ihsan.

“Apa pelatih kalian kurang atau gaji dan fasilitas yang kurang?” ucap Alim.

“Hilih Cak, semangat dan waktu mereka aja yang kurang,” ucap Ihsan.

“Semuanya cukup kok, Den. Kami gak punya komplain sedikit pun tentang makanan, fasilitas, dan pelatih. Saya kesini hanya untuk melaporkan kekecewaan kami pada diri kami sendiri,” ucap Riki.

“Oooh mungkin karena kalian terlalu serius latihan makanya performa kalian buruk,” ucap Ihsan.

“Hah!? Bagaimana bisa begitu, Aden? Bukannya kalau sering latihan bakal lebih baik? Kalian berdua juga berlatih sangat keras untuk menjadi lebih kuat, sedangkan kami yang masih biasa-biasa saja begini tidak segiat kalian. Kami malu, padahal kalian lebih muda dari kami,” ucap Riki.

“Ummm gimana ya menjelaskannya… mungkin eee… gimana ya Cak, kok bisa kita tambah kuat dengan latihan itu. Yang jelas kami bahagia saat berlatih, mungkin begitu. Iya gak Cak?” tanya Ihsan.

“Sepotong-sepotong terus aja infonya. Mau berapa kali kau memotongku memainkan seruling?” ucap Alim dengan geram pada Ihsan.

“Maaf Den, saya tidak bermaksud untuk mengganggu waktu kalian. Saya pergi dulu,” ucap Riki.

“Bentar Mas, jangan malah ditinggal. Sampean gak salah kok, namanya gak tau emang nanya. Yang bikin gemas memang anak ini aja yang tidak terlalu bisa menjelaskan,” ucap Alim sambil merangkul Ihsan keras-keras.

“Iya Cak maaf hehe,” ucap Ihsan.

“Bagus Ihsan. Nah jadi gini Mas Riki, secara mendasar tubuh kita terdiri dari banyak hormon. Ada yang dipantik oleh amarah, sedih, stres, dan lain-lain. Kita menyebutnya ekspresi pasif. Ada juga hormon yang terpicu karena semangat, ketertarikan, dan ekspresi serupa yang kita sebut ekspresi aktif. Terakhir ada ekspresi netral yang tenang dan arif. Masing-masing menghasilkan energi yang berbeda. Bagi kebanyakan orang, ekspresi netral adalah satu-satunya energi yang bisa dikontrol. Bahkan kami pun cukup mengandalkannya karena sangat aman. Energi ini disebut energi satvam yang konstan dan tenang,” ucap Alim.

“Ekspresi aktif akan menghasilkan energi rajas yang sangat kuat. Kalian boleh sesekali menggunakan tipe ekspresi ini. Terakhir ada ekspresi pasif yang sebenarnya tidak buruk, tetapi perlu dikendalikan karena menghasilkan energi tamasik. Energi ini dayanya sangat besar dan eksplosif, namun sangat sulit digunakan. Biasanya hanya para pejuang yang mampu memakainya secara sadar,” ucap Alim.

“Eh bukannya kita bisa membuat energi itu sendiri ya Cak tanpa harus melibatkan ekspresi? Itu pelajaran dasar kan,” ucap Ihsan.

“Emangnya kau pikir pemahaman tentang cakra tersebar luas? Di negeri ini saja hanya sedikit kadewaguruan yang mampu mengajarkan cakra dengan bijak. Itupun beberapa mematok biaya sangat mahal. Kadewaguruan Manasasagara adalah yang terbesar di negara ini. Tempat itu dibangun pada awal masa pemerintahan Maharaja Kertarajasa bersama timnya yang menetapkan aturan serta metode belajar yang akhirnya diilhami seluruh dunia sebagai metode paling efektif,” ucap Alim.

“Memang selama perkembangannya banyak perubahan metode untuk menyesuaikan zaman. Namun urutan belajar cakra per semester tetap sama sejak dulu, dimulai dari muladhara, swadishtana, manipura, anahata, ajna, lalu diakhiri dengan sahasrara. Orang normal pun sebenarnya bisa mempelajari cakra. Buktinya dulu di Kampung Kincir kau punya banyak murid yang belajar elemen angin. Itu berarti cakra mereka sudah aktif,” ucap Alim.

“Para atlet juga memiliki cakra aktif, hanya saja membuka seluruhnya sangat sulit tanpa bimbingan dan resonansi energi para guru. Dalam sepak bola sendiri banyak pemain yang memakai jurus tertentu untuk menang, tapi memang tidak ada yang setara dengan para pejuang, apalagi lulusan kadewaguruan yang diakui suatu negeri. Mereka bahkan mampu membuat seluruh muridnya membuka tujuh cakra dan menjadi rathi. Di Sahasradwipa saja ada ribuan yang sudah mampu melakukannya,” ucap Alim.

“Di dalam kadewaguruan itu juga ada berbagai rumah belajar. Di negeri ini ada empat belas rumah belajar yang dibedakan berdasarkan minat dan bakat. Namun hanya sebelas kadewaguruan yang diketahui memiliki empat belas rumah lengkap. Salah satunya Manasasagara yang berada di kota Amritakamandalu. Kadewaguruan lain yang pernah berjaya adalah Kapalaratna di kota Pancaraka, tepat di selatan Arunavati. Itulah yang membuat Arunavati sangat kaya karena didukung kerajaan maju dan gerakan para lulusan Kapalaratna,” ucap Alim.

“Kalau di Panditanagara mereka memakai empat rumah berdasarkan kepribadian dasar. Pernah dicoba direvisi menjadi enam belas atau delapan, tapi empat tetap yang paling umum. Rumah Vajra untuk orang tegas seperti aku. Rumah Nandha untuk orang teliti seperti Yusuf. Pasha untuk orang lembut seperti Mas Steve. Dan rumah Gadha untuk orang periang seperti Mas Lintang. Kalau dalam satu rumah muncul banyak sub-kepribadian maka akan dibuatkan sub-rumah,” ucap Alim.

“Sayangnya kurasa mereka bakal bingung menaruhmu dimana karena kepribadian anehmu itu. Ya tergantung saat kau masuk sih kalau begitu,” ucap Alim.

“Kalau di Manikabuana pembagiannya berdasarkan profesi atau bakat. Walau biasanya orang-orang di sana tidak terlalu mempermasalahkan profesi karena sering mengikuti pekerjaan keluarga. Para petani, peternak, dan nelayan ditempatkan di rumah Nandini yang biasanya menjadi rumah paling kaya. Orang yang ingin menjadi tenaga medis masuk rumah Garuda. Para ilmuwan di rumah Hamsa. Seniman di rumah Mushaka. Yang ingin mengabdi sebagai militer masuk rumah Paravani. Dan yang bergerak di industri jasa masuk rumah Ucaishrava,” ucap Alim.

Lihat selengkapnya