Seminggu telah berlalu sejak pernikahan antara Riki dan Hani berlangsung. Upacara itu berjalan sederhana namun khidmat, dengan Ihsan menjadi wali pengantin pria dan Alim yang bertindak sebagai wali pengantin wanita. Pada awalnya Alim sempat merasa canggung karena harus menjadi wali bagi seseorang yang usianya lebih tua darinya, namun setelah memikirkannya dengan tenang ia akhirnya menerima peran itu.
Ihsan sendiri tidak pernah terlalu mempermasalahkan soal usia, sehingga ia menerima tugasnya sebagai wali tanpa banyak pertimbangan.
Malam setelah akad, Ihsan dan Alim duduk berdua di bawah pohon rudraksa. Pohon itu tumbuh dari pot yang berisi abu jenazah Khan, dan kini ukurannya telah cukup besar karena lingkungan khusus yang diciptakan Ihsan dan Alim di planet tempat pohon tersebut ditanam.
“Bahkan sampai sekarang aku terus berada di pelukanmu ayah, aku merindukanmu,” pikir Alim.
“Cak, apakah kita perlu untuk menyusun pasukan sekarang juga?” tanya Ihsan.
“Ide yang bagus Ihsan. Kita memang harus mulai bersiap untuk itu. Sebelum melangkah lebih jauh, aku harus meminta izin pada maharaja untuk meninggalkan negeri ini,” ucap Alim.
“Ngapain izin, kita berangkat sendiri aja berdua ke sana. Pak Arya pasti mengizinkan kok kalau dijelaskan,” ucap Ihsan.
“Tidak bisa begitu Ihsan. Bagaimanapun juga dia adalah maharaja kita. Hanya dia yang berhak mengajukan tantangan kepada kerajaan lain atau memindahkan penduduknya. Selain itu kita juga belum benar-benar memahami apa yang dimaksud dengan tantangan kepada pasukan musuh itu. Kalau kita asal menyerang tanpa perjanjian, seluruh negara Devaloka bisa saja menyerang kita. Kita akan dianggap buronan, dan bukannya masuk ke Devaloka, kita malah diburu oleh seluruh Dunia bersamamu. Akui saja Ihsan, saat ini kita belum cukup kuat untuk melawan para Ishvara. Level mereka berada jauh di atas kita, baik dalam kekuatan maupun kecakapan bertempur. Mungkin suatu saat nanti kita bisa melawan mereka, tapi bukan sekarang waktunya. Lagi pula kalau hanya kita yang terkena masalah mungkin masih bisa ditanggung, tapi jika seluruh negeri Sahasradwipa ikut terseret maka itu akan menjadi bencana besar bagi semua orang,” ucap Alim sembari melesat pergi untuk menyiapkan pakaiannya.
“Ah benar juga. Aku masih berada di bawah bendera Sahasradwipa. Segala tindakanku dengan negara lain akan diatur oleh negara. Hmm, peraturan yang membosankan,” pikir Ihsan sembari kembali berjalan menuju gubuknya untuk bersiap menghadapi hari esok.
...
Keesokan harinya Ihsan menghirup udara pagi setelah menyelesaikan ibadahnya hingga matahari terbit. Ia berdiri sejenak menikmati kesejukan pagi sambil memandang kotanya yang mulai hidup oleh aktivitas penduduk. Setelah itu ia berjalan sebentar, memperhatikan keadaan sekitar, hingga pandangannya jatuh pada rumah Alim yang kini hanya dihuni oleh ibundanya serta dua adiknya yang masih kecil.
“Aden, mau ke mana?” tanya Hani yang kebetulan lewat di depannya karena hendak mengurus sanggar tari.