Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #129

Narayani Sena

Pushpaka vimana milik Ihsan akhirnya berangkat menuju Garudapura untuk menemui sang maharaja dan meminta izin darinya. Begitu tiba di Keraton Dharmaraja, Ihsan dan Alim melihat Yaksharajan sedang menyirami bunga setelah menyelesaikan rutinitas paginya.

“Eh kalian di sini Ihsan, Alim. Mau membantu aku pindahan ya? Tenang saja, setelah ini ibu kota akan kupindah ke Makarapura. Ini hanya sementara kok. Aku ingin mengawasi kalian bertiga, murid-muridku yang lucu,” ucap Arya.

“Bisakah kami menemuimu sebagai maharaja, Tuanku Yaksharajan?” ucap Alim.

“Tentu saja engkau bisa melakukannya, Govinda,” ucap Arya sembari berjalan menuju ruang takhtanya, diikuti oleh Alim dan Ihsan.

“Jadi, untuk apa kalian menemuiku? Apakah urusan bisnis?” tanya Arya.

“Bisa dikatakan begitu Pak Arya. Kami berniat melakukan ekspansi,” ucap Ihsan.

“Yang bisa pihak kerajaan bantu hanya sampai hubungan, bukan pendanaan. Kalau kalian minta pendanaan, mohon maaf, yang kalian dapat hanya pukulan gadaku di kepala. Uang negara hanya untuk urusan negara. Kalian jangan memintanya. Mau seperti apa pun janji kalian, tetap ada pejabat yang harus diberi upah, ada karyawan negara yang harus makan, ada anggota militer yang harus dihargai keberaniannya, juga pengembangan teknologi, medis, dan pangan yang harus kami urus. Aku bisa meluangkan waktu, tenaga, bahkan hartaku untuk kalian, tapi bukan sebagai maharaja,” ucap Arya.

“Aku paham itu Yaksharajan. Kas kami sudah cukup untuk melakukan ekspansi sendiri. Tidak perlu menggunakan harta negara atau sponsor negara. Aku hanya ingin meminta izin untuk meninggalkan negeri ini,” ucap Alim.

“Apa yang anak seperti kau inginkan dengan meninggalkan negara ini? Negeri ini membutuhkanmu nak. Mau ke mana kau dan untuk apa?” tanya Arya.

“Aku akan pergi ke Devaloka untuk menegakkan dharma. Di sana aku bisa mengetahui cara mengendalikan dan mengembangkan tenaga yogi yang tersimpan di dadaku. Selain itu aku juga ingin mengembangkan mataku, jurusku, tubuhku, energiku, dan seluruh kekuatanku agar bisa menumpas seluruh adharma di dunia ini. Tolong bukakan jalan menuju Devaloka wahai Yaksharajan,” ucap Alim.

“Selain itu Alim masih bisa mengembangkan bisnis di sana. Lahan tanpa persaingan seperti Devaloka adalah tempat yang sangat berpotensi untuk berkembang pesat,” ucap Ihsan.

“Untuk para pejuang seperti kalian memasuki Devaloka, kalian harus menjalani apa yang mereka sebut penyambutan. Sebuah tim maksimal tujuh orang akan dibentuk, lalu dengan tim itu kalian harus menerobos benteng pertahanan Devaloka yang dikelilingi pasukan mereka dalam jumlah besar. Syaratnya, pasukan penghadang akan memiliki level yang sama dengan level para penantang saat pertama kali memasuki gerbang tantangan,” ucap Arya.

“Itu bisa diatur. Kami sudah memiliki lima orang: aku, Alim, Yusuf, Mas Steve, dan Mas Lintang. Kurang dua,” ucap Ihsan.

“Steve tidak boleh ikut karena dia bukan dari negeri ini. Selain itu, dia dan Lintang sudah setara dua belas atirathi, yang berarti mereka telah tercatat sebagai maharathi. Jika kalian membawa mereka, maka orang-orang kuat seperti Seno akan ikut menghadapi kalian. Bahkan sebelum dia mencuri tubuh mulia Suryabaskara, dia sudah hampir setara denganku waktu itu. Apalagi sekarang. Jika kalian benar-benar ingin menerobos ke sana, jangan membawa Lintang atau Steve,” ucap Arya.

“Kalau begitu apakah engkau punya data mengenai para pejuang di Sahasradwipa yang bisa membantu kami wahai Yaksharajan?” tanya Alim.

Lihat selengkapnya