Tiga hari telah berlalu sejak pertama kali Ihsan dan Alim mengajukan permohonan pindah kepada sang maharaja. Kini mereka hanya bisa menunggu dengan perasaan cemas sambil terus berlatih.
“Alim, aku sudah melakukan negosiasi dengan para rshi dan mereka tidak masalah dengan kepindahanmu. Setelah itu kami kirimkan Pak Damar sebagai utusan untuk menyampaikan tantangan. Hari ini surat tantanganmu seharusnya sudah sampai di sini,” ucap Arya.
“Alim, apa kau masih bersikeras untuk pindah? Bahkan setelah kabarmu mulai tersebar, para pengelola lahan sudah mulai membicarakanmu. Kau sedang trending sekarang. Kau benar-benar mau pindah, Govinda? Kau yakin mau meninggalkan mereka? Kau yakin mau meninggalkan gurumu ini?” lanjut Arya.
“Yaksharajan, aku sudah teguh dengan pendirianku. Aku akan berangkat. Kami juga sudah mengumpulkan pasukan, Yusuf yang sedang mengurusnya sekarang. Aku memang meminta Ihsan untuk tinggal menemaniku, dan… guruku, aku akan mengamalkan ilmu yang kudapat selama ini di tempat lain,” jawab Alim.
“Tidakkah kau ingin menemani ibumu mengurus adik-adikmu? Dia sudah sendirian,” tanya Arya.
“Itu juga yang membuatku gusar, Pak Arya. Tapi kurasa aku memang harus banyak berkorban untuk mencapai tujuanku,” jawab Alim.
“Lalu bagaimana dengan Ihsan? Kau yakin ada orang lain yang bisa menenangkannya selain dirimu? Kalau sampai aku menghabisinya karena tidak sanggup menangani ulahnya bagaimana?” tanya Arya.
“Ihsan ya… aku juga tidak terlalu yakin dengan itu. Tapi kalau kau sudah terlalu kerepotan, masih ada satu cara sebelum kau menghabisinya, wahai yaksharajan. Dekatkan dia dengan orang yang sangat menyayanginya… prajnaparamita itu sendiri,” ucap Alim.
“Aku tidak bisa seenaknya memindahkan seorang putri dari ayahnya. Aku juga seorang ayah. Aku tahu rasanya khawatir ketika putri kecilku mulai berangkat ke sekolah untuk pertama kali meninggalkan rumahnya, bahkan dengan semua kekuatan yang dia miliki sekarang,” ucap Arya.
“Oh iya, Isel sudah sekolah ya? Selamat ya, Pak Arya. Hmm… anakmu cantik juga sih. Kalau kau mau, mungkin dia juga bisa menghentikan Ihsan. Tapi kau harus terus menjaganya dari kobaran amarah prajnaparamita sih, Prabhu… kalau mau sih,” ucap Alim sambil tertawa kecil.
“Aku mau saja punya menantu seperti Shangkara. Tapi masalahnya bukan melindungi dari Shafa… tapi dari Ihsan itu sendiri. Aku tahu betapa sulitnya seorang wanita secantik dan sebaik itu meluluhkan hati Ihsan. Anakku tidak seperti itu. Aku tahu seperti apa Ihsan. Bahkan sekarang saja dia masih keluyuran meski kau sudah memintanya tinggal. Entah apa yang sedang dilakukannya sekarang. Dengan sikap semaunya itu, anakku bisa apa?” ucap Arya.
“Mungkin kau belum tahu ini, Pak Arya. Tapi Ihsan itu sangat baik. Meski memang kepekaan asmaranya hampir nol,” ucap Alim.
“Mimpi menjadi yang terbaik itu sebenarnya hanya mimpiku. Menegakkan dharma itu juga cuma mimpiku. Anak itu tidak punya mimpi yang rumit. Dia hanya ingin membantu lebih banyak orang lepas dari penderitaan… membantu mereka menghilangkan keputusasaan… membunuh rasa malas mereka. Hanya itu yang dia inginkan.”
“Meski pada akhirnya ketidakpekaannya membuatnya sering disalahpahami. Keputusannya kadang ambigu. Dia juga sering membuat masalah. Tapi jauh dari lubuk hatiku, aku paham betapa baiknya anak itu… betapa kuat tekadnya untuk merubah dunia.”
“Jauh sebelum aku bermimpi menegakkan dharma dengan caraku, dia sudah mencoba membangunnya sedikit demi sedikit. Tugasku hanya menyingkirkan pengganggu saja. Tinggal menunggu waktu sebelum bangunan itu selesai.”
“Coba pahamilah dia, Pak. Kau tidak akan kecewa. Coba pahami maksudnya, dan kau akan mengerti tujuannya. Ajari juga caranya, karena dia akan mencoba berbagai cara sampai berhasil. Jangan sampai dia memakai caranya yang kadang sadis itu.”
“Aku titip adikku itu ya, Pak,” ucap Alim.
“Aku tidak yakin dengan itu, Alim. Aku tidak yakin bisa melakukannya,” jawab Arya pelan.
“Yang penting kau mencobanya, Pak,” ucap Alim.
Arya hanya mengangguk pelan, menyetujui perkataan itu, meski keraguan masih jelas terlihat di wajahnya.