Ketujuh vimana tempur pasukan Narayani Sena akhirnya melayang di atas Kurukshetra.
“Jadi ini Kurukshetra… tempat para pejuang terbaik bertarung,” tanya Rio dari atas vimana yang perlahan turun menuju padang itu.
“Tanah di wilayah ini agak berbeda… kenapa semuanya kering dan merah?” tanya Bagas.
“Kandungan besinya sangat tinggi. Tidak salah lagi, ini darah yang mengering. Tapi ini bukan hanya di satu planet saja… seluruh padang Kurukshetra berwarna merah. Bintang-bintang di sini juga aneh, mereka merah seperti darah dan membelah diri seperti bakteri. Tempat ini tumbuh sampai sebesar ini dalam waktu singkat,” ucap Rasha.
“Jadi ini Kurukshetra… besar sekali tempat ini. Jauh lebih besar daripada arena kita di Devasena dulu, dan juga sangat berbeda. Ini seperti sebuah karya seni. Tempat sebesar kerajaan ini luar biasa mengagumkan. Arena kita tidak ada apa-apanya. Bagaimana padang ini dulu dipakai oleh para leluhur kita saat bertempur hingga bisa memerah seperti ini?” ucap Gibran.
“Semburat di langit itu bukan darah. Itu material jagatpati yang sangat banyak, bereaksi dengan benturan energi luar biasa dari para pejuang yang pernah bertarung di sini,” ucap Yusuf.
“Kau benar, Yusuf. Mirip sekali dengan artaguna Ihsan,” ucap Alim.
“Berarti tempat ini akan sangat mudah untuk bertempur… menarik sekali. Eh, bukannya jagatpati berwarna putih?” tanya Rio.
“Warna jagatpati bukan putih, Rio. Itu material yang meneruskan warna cahaya apa pun. Jadi lebih tepatnya bening. Kalau terkena efek reaktor energi, cahaya yang melewatinya jadi lebih intens dan bisa tampak putih, merah, biru, atau kuning, tergantung dominasi energi di sekitarnya. Di Kurukshetra, karena banyak pertempuran dengan darah segar, warnanya jadi merah,” ucap Ihsan.
“Bagaimana caramu tahu itu, Ihsan?” tanya Yusuf.
“Aku kan punya material itu, Suf. Kucoba-coba saja, sekalian memperkuat teknik bholenath milikku. Sekarang selain tipe satvam, aku sudah punya tipe rajas dan tamas, hehehe,” ucap Ihsan.
“Ya sudah… kurasa musuh juga sudah mulai datang,” ucap Alim.
“Eh tunggu dulu, kenapa musuh ada sebelas? Bukannya ini tidak adil?” tanya Rio.
“Kau tidak membacanya kah, adik bodoh? Kita harus membuat jumlah komandan yang bertahan hidup seimbang dengan jumlah kita. Kalau kita tidak kehilangan siapa pun, kita hanya akan membunuh empat komandan musuh,” ucap Rasha.
“Kenapa tidak membawa medis kalau begitu?” tanya Rio.
“Medis!? Hahaha… kita tidak memerlukan itu, Rio. Kita hanya tujuh orang. Kalau satu jadi medis, kita tinggal berenam dan justru memperbesar risiko. Kita masih punya regenerasi pribadi. Untuk tim sekecil ini, penguasaan anahata sudah cukup. Ini bukan perang sebesar itu sampai butuh medis,” ucap Bagas sambil menyeringai.
“Lagipula pasukan Narayani Sena ini punya Alim dengan pasukannya yang multifungsi. Kalau kurang, ada pasukan Ihsan yang akan menyerang membabi-buta di depan. Kau bahkan bisa memanfaatkan mereka sebagai tameng kalau masih ketakutan seperti itu, dasar pengecut,” lanjut Bagas sambil menarik pedangnya dari sarung.
“Dengarkan aku,” seru Alim.
“Lawan kita ada sebelas komandan dan memiliki keunggulan jumlah variasi pasukan. Tapi ingat, Narayani Sena punya tujuh pasukan yang sangat kuat. Pasukan pimpinan Ihsan akan berjalan di depan, dan itu pasti. Kita tidak bisa mengatur mereka, jadi manfaatkan kekacauan yang mereka buat sebagai momentum.”
“Pasukan Yusuf akan menjadi ujung tombak dengan kemampuan mencipta dan memanfaatkan senjata dari akshauhini musuh. Pasukan Bagas akan jadi barisan pengejut dengan penguasaan senjata mereka. Pasukan Gibran menjadi pengintai sekaligus pusat komando. Pasukan Rasha menjadi ksatria utama. Pasukan Rio sebagai pemanah. Dan pasukanku akan menjadi pelindung serta pendukung bagi lima pasukan utama itu.”