“Kita sudah mendapatkan salinan informasi dari pasukan musuh. Apa kita perlu mengganti lagi pembagian pasukan?” tanya Bagas.
“Kita tidak perlu. Kita hanya perlu meningkatkan efisiensi pasukan dengan membaca data musuh. Oh iya Yusuf, ini data dari kavacha kundala,” ucap Alim sembari menyerahkan data tersebut.
“Baguslah, ini akan membantu pengembangan zirah selanjutnya. Makasih Alim,” ucap Yusuf.
“Jadi, pasukan musuh ada sebelas komandan. Kita akan bahas satu per satu malam ini, lalu istirahat sejenak, latihan formasi dan penyesuaian ulang dengan medan tempur, dan terakhir kita harus berjuang sekuat tenaga sambil berdoa agar semuanya selamat,” ucap Alim.
“Bagus, kita bisa mulai membahas musuh satu per satu dari yang belum kita punya datanya,” ucap Yusuf.
“Kenapa kita tidak minta pertempuran seimbang saja?” tanya Rio.
“Gak gitu, Rio. Justru ini akan menguntungkan kita. Mengetahui informasi musuh itu jauh lebih penting daripada jumlah. Mengambil kesempatan di awal hanya bisa dilakukan kalau kita memahami seluruh informasi musuh,” ucap Gibran.
“Hu’um… kau benar, Gibran,” ucap Ihsan sambil mengangguk pelan.
“Kau ketularan gila ya, Gibran!? Aku mana percaya dengan orang yang saat bertempur gak mikir dua kali untuk maju,” gerutu Rio.
“Kalau berdasarkan susunan pasukan Ihsan, strategi mencoba dan evaluasi memang sangat bagus. Dia bahkan masuk kategori pasukan liar, tipe pasukan baru yang belum pernah ada sebelumnya. Daripada itu, lebih baik kita mulai membahas pasukan musuh dari jenderal utama mereka. Hmm… nampaknya baru ini. Enam tambahan apsara lain ini cukup mengerikan. Kupikir lima saja sudah cukup ngeri,” ucap Alim.
“Jenderal pertama mereka, Gerald. Seorang pria sepuh yang merupakan dasar dari tanda yogi. Hmm, pantas saja. Dalam darahnya mengalir sel yang bisa meregenerasi tubuh secara otomatis, selain itu dia memiliki kecakapan memakai semua jenis senjata. Tapi kurasa yang paling mengerikan adalah pasukannya. Lihat saja ini… para pejuang langit yang bisa menggunakan berbagai senjata. Ini mirip pasukan Yusuf, tapi secara individu jauh lebih kuat,” lanjut Alim.
“Kalau kita tidak kalahkan segera, mereka bisa memukul mundur kita tanpa perlawanan,” ucap Yusuf.
“Cih… baru satu komandan saja sudah begini,” ucap Rio.
“Kalau begitu kita harus membunuh atau menghentikan orang ini terlebih dahulu, atau perang akan berlarut sangat lama. Segera cari posisinya, Gibran. Kita harus mengincarnya dari awal,” ucap Alim.
“Tapi kalau begitu musuh malah akan berkumpul di satu titik. Bisa terjadi perang habis-habisan, dan mungkin tidak ada yang selamat dari kedua pihak,” ucap Ihsan.
“Pasukan orang ini sangat gila, apalagi untuk posisi komandan tertinggi. Seseorang harus cukup cepat untuk menyerangnya tanpa ampun dan membunuhnya. Kalau aku atau Yusuf yang bergerak pasti akan ketahuan,” ucap Alim.