Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #134

Berpamitan

Malam hari di Tirtawangi sebelum pertempuran dimulai.

“Nak, bukannya seharusnya kalian berdua sudah bertempur? Bagaimana kalian masih di sini?” tanya Nita.

“Biarkan saja, bu. Mungkin mereka hanya ingin menghibur kita. Setelah ini mereka akan berpisah… kita bahkan tidak tahu apakah Ihsan akan kembali lagi setelah pertempuran ini,” ucap Ikal.

“Bapak!? Jangan begitu! Anakku pasti akan pulang dengan selamat, dan Alim akan melanjutkan mimpinya di Devaloka… iya kan, Mbak Tin?” ucap Nita.

“Aku tidak tahu, Nita. Ayahnya yang selalu menjadi temannya itu juga sudah pergi… aku bahkan belum sempat bertanya sekuat apa anakku ini,” ucap Tin sembari mengusap kepala Alim.

“Buk, aku sudah cukup kuat untuk bertahan sendiri kok. Kalaupun nanti aku kalah… aku akan bertemu ayah lagi,” ucap Alim.

“Jangan dulu, nak. Ibu masih ingin membaca pesanmu, masih ingin mendengar ceritamu di sana. Bertahanlah sebentar… setidaknya sampai ibu melihatmu menikah dan punya anak. Ibu ingin melihat itu,” ucap Tin.

“Sok kuat kau, cak. Paling nanti dipukul sandal ibu lari,” ucap Ihsan.

“Kalau itu beda cerita, Ihsan! Sampai kapan pun rasanya akan sakit kalau dari hati,” ucap Alim.

“Hahaha… kau benar. Pak, buk, budhe… pamit berangkat dulu ya,” ucap Ihsan.

“Hati-hati, le. Kalau pulang, bawa oleh-oleh senyummu seperti biasanya,” ucap Nita sembari mengusap kepala Ihsan.

“Oke, buk,” ucap Ihsan.

“Semangat, le. Jadilah lebih kuat lagi,” ucap Ikal sembari menepuk pundak Ihsan.

Tak lama kemudian, atmasena Ihsan itu perlahan menghilang menjadi abu.

“Buk, aku pergi agak lama ya. InsyaAllah kita akan bertemu lagi. Minta restunya ya,” ucap Alim sembari mengusap air mata ibundanya.

“Anakku sudah besar… kau tidak perlu minta izin lagi. Yang memberi makan ibu dan adik-adik sekarang juga kamu. Pergilah, nak… restu ibu selalu bersamamu,” ucap Tin.

Atmasena Alim perlahan berubah menjadi abu, meninggalkan ibundanya bersama keluarga Ihsan di Tirtawangi.

...

Sementara itu di Kurukshetra—

“Kau sudah merasakannya, cak?” tanya Ihsan.

“Ya, Ihsan. Besok kita akan bertempur… ini tidak akan mudah,” ucap Alim sembari mulai mengenakan persenjataannya.

“Apa pesan orang tua kalian? Aku cuma diminta terus membuat inovasi… ayahku memang agak nyentrik,” tanya Yusuf.

“Ibuku melarangku bertemu ayah dulu. Aku harus berusaha menurutinya,” ucap Alim.

“Hati-hati kata ibu… jadilah lebih kuat kata bapak,” ucap Ihsan dengan senyum kecil.

“Sudah, kalian bertiga ayo bersiap. Enam jam lagi kita berangkat,” ucap Rio.

“Data medan tempur sudah kudapat seluas perkampungan. Kurukshetra memang gila… dengan debu kosmis, komet es, dan bintang, kelima elemen dasar akan jauh lebih mudah digunakan di sini,” ucap Gibran.

“Jadi begitu ya… aku tidak sabar untuk mengayunkan pedangku ke kavacha kundala,” ucap Bagas.

Lihat selengkapnya