Kedua kubu akhirnya mencapai medan tempur mereka, padang penuh bintang. Mereka segera mengeluarkan seluruh pasukan, lalu tepat pukul 07.00 shanka berbunyi sebagai tanda dimulainya pertempuran.
“Hahahaha akhirnya dimulai juga!” teriak Ihsan dan Dio sembari merangsek kedepan.
Keduanya dari kubu yang berbeda merangsek maju bersama pasukan mereka, sementara itu Alim dan Yusuf menyusul dari belakang dengan seluruh pasukan dalam formasi chakravyuha yang menahan ribuan proyektil musuh sembari terus menerobos ke depan.
“Alim!? Gerald sudah terlihat, dia berada di belakang Dio!” ucap Gibran.
“Yusuf, tembakkan aindrastra saat ini juga,” ucap Alim.
Yusuf segera meluncurkan senjata itu ke langit, menciptakan hujan petir yang mengguncang medan pertempuran. Namun tak lama kemudian, gunung-gunung raksasa jatuh dari langit menuju pasukan mereka.
“Tch… ini orang bernama Wira itu ya,” gumam Bagas.
Ia mengayunkan tebasan pembelah langitnya dari kereta kencananya, menghancurkan gunung-gunung itu menjadi serpihan.
“Tenang dulu, Bagas! Pasukan, tembakkan senjata angin kalian ke depan!” teriak Alim.
Pasukan segera menembakkan serangan angin, dan Alim memanfaatkannya untuk melesat bersama Garuda yang baru saja ia panggil, menuju Ihsan yang tengah terpojok oleh Dio.
“Bukan waktunya kagum, majuu!!” teriak Yusuf.
Ia menghentakkan kakinya ke tanah, mencuatkan ribuan bukit dari permukaan medan tempur.
“Pria abadi itu yang akan kita bunuh… menarik,” pikir Yusuf.
Gerald melayang tenang di udara, mengisi busurnya dengan beberapa panah perak yang ia lapisi agneyastra, lalu melepaskannya ke arah para komandan. Ledakan demi ledakan memaksa mereka terpental ke belakang, terlebih karena perhatian mereka terpecah oleh hujan batu dari atas.
Yusuf dengan sigap melesat, melindungi Gibran yang memegang kendali komunikasi.
“Anak itu menahan agneyastra milikku hanya dengan elemen air biasa… Srsta ya levelnya. Dan dua orang yang bertempur dengan Dio itu berbeda dengan yang lain,” pikir Gerald.
Gerald lalu melesat menuju Rio yang sempat terkena agneyastra miliknya.
Rio masih sadar dan berhasil menghadang pukulan Gerald, diikuti beberapa anak panah dari Yusuf yang menancap di dada musuh. Yusuf kemudian menghujani Gerald dengan petir tanpa henti.
Saat itu Robi maju dengan ratusan wujud transformasinya.
“Hhh… sialan, tanda yogi tipe yaksha ini sangat merepotkan. Mereka seperti hantu,” ucap Bagas.
Ia menebas beberapa tubuh Robi, namun tubuh itu justru membelah menjadi lebih banyak.
“Hentikan itu, Bagas! Mereka tidak bisa dipotong, kita malah akan membuat mereka semakin banyak!” ucap Rasha.
Rasha menciptakan atmasena dan meniupkan badai ke arah musuh, tetapi hasilnya sama—mereka tetap membelah semakin banyak.
“Tch… sama saja, kak. Apa ini yang disebut maju salah, mundur salah?” ucap Rio.
“Bakar mereka,” ucap Gibran.
Gibran menghujani musuh dengan bola api dari dronenya, lalu melesat ke depan. Namun ia segera menyadari Rika telah berada di atasnya, menyerang dengan jemari beracun.
Dengan cepat, Gibran menguapkan racun itu menggunakan panas dari serangan apinya, membuat Rika hanya terluka cukup parah.
Tiba-tiba Nanda membesar dan menghantam Gibran dengan keras ke tanah, diikuti Wira yang menembakkan vayavastra ke arahnya.
Beruntung, Rasha sigap memotong serangan itu di udara.
Namun serangan tak berhenti.
Nel memasuki medan tempur dan menendang Rasha dengan keras, membuatnya sempat kehilangan keseimbangan. Meski begitu, Rasha berhasil menguasai dirinya dan memanfaatkan momentum jatuhnya untuk menendang balik Nel hingga terlempar ke udara.
“Kakak, ayo!” ucap Rio.
Rio mengaktifkan mode petirnya dan melesat bersama Rasha untuk menyerang Nel. Namun mereka justru diburu oleh Maya dan Hartono yang telah mengaktifkan viraroopa mereka.