Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #136

Racun

“Gibran, kelihatannya musuh mengincarmu. Bisakah kau terus bersamaku hari ini? Teknik sepi anginmu itu juga akan sangat berguna untuk memindahkanku ke berbagai tempat. Yusuf, bagaimana? Apakah sudah kau masukkan perlengkapan anti kavacha itu ke detail pasukan kita?” ucap Alim.

“Baiklah, Alim,” jawab Gibran.

“Kemampuan akshauhini milik kita telah kumasukkan efek khusus. Setiap seribu kematian pasukan musuh akan menambah kekuatan serang pasukan kita sebesar satu poin untuk semua pemegang efek. Efek ini bisa ditumpuk dan memungkinkan kita menghancurkan pertahanan mereka, bahkan mungkin menembus kavacha, meski untuk suryakavacha tetap butuh komandan seperti kita,” ucap Yusuf.

“Haha, sekhawatir itu kalian dengan kavacha. Padahal yang perlu kita lakukan hanyalah memperbanyak pasukan berlevel tinggi,” ucap Ihsan.

“Oi Ihsan, ini pasukan Narayani Sena, bukan Kala Sena. Kami juga bisa memberikan data yang kami dapatkan. Tapi hanya satu poin, apa gunanya? Itu kombinasi yang buruk, apalagi syaratnya harus menghabisi seribu pasukan,” ucap Rio.

“Ckckck, adikku yang lucu. Itu efek yang bagus untuk skala global. Lagipula untuk mengaktifkannya, aku juga punya efek yang kudapatkan selama di Vishkanya,” ucap Rasha.

“Heh, efek apa itu? Hantaman ketiga akan menimbulkan dampak setara dengan level tertinggi pasukan. Itu berarti seluruh pasukan kita akan memiliki daya hancur yang cukup untuk melenyapkan lawan berlevel rendah. Itu menarik sekali,” ucap Bagas.

“Bagus, itu akan sangat cocok dengan data basis kita untuk membuat pasukan sebanyak mungkin dari Ihsan,” ucap Alim.

“Hahaha, itu baru seru. Ayo maju!” ucap Ihsan.

Ia segera mengangkat trisulanya dan memanggil pasukannya ke medan tempur yang hari itu tampak jauh lebih timpang dibandingkan hari sebelumnya.

“Hahaha, masih berani maju saja kau, bocah ingusan. Kukira kau salah memasuki medan laga. Hari ini kami akan menang cepat,” ucap Dio.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pasukan kecil mereka semuanya akan mati,” ucap Rika.

“Kau yakin sekali, mama ular. Bukankah pasukan kalian yang akan musnah duluan?” ucap Ihsan.

“Hanya pertempuran yang akan membuktikannya,” ucap Gerald.

Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke langit dan memanggil pasukannya. Saat itu juga Alim datang dengan Garudanya bersama pasukannya dan meniupkan terompet kerangnya dengan keras, disambut oleh Gerald.

“Kau tak perlu meniup shankamu sekuat itu, cak. Nanti pecah lagi,” ucap Ihsan.

“Ini kerang terbaik yang pernah kumiliki. Selain itu, kau tidak bisa maju sesuka hati seperti itu, Ihsan!” teriak Alim.

Pasukan pun turun dari langit. Saat itu juga Ihsan melesat mundur, mengarahkan kedua jarinya ke arah kepala Dio, lalu menembakkan bholenath yang berwarna agak kuning dibandingkan hitam kelam biasanya.

“Itu dia… satva bholenath,” pikir Rio.

Lihat selengkapnya