Shanka berbunyi dari kedua belah pihak pada hari ketiga pertempuran, bersamaan dengan majunya kedua pasukan yang saling mendekat.
“Kenapa kita harus berada di belakang begini sih, cak?” tanya Ihsan.
“Ini untuk mengamankan barisan infanteri kita. Meskipun pasukan akshauhini bisa terus bertambah, kita tidak bisa membiarkan terlalu banyak pasukan level tinggi kita mati. Kita mungkin bisa membuat kemajuan hari ini,” ucap Alim.
Saat itu juga, beribu meriam terdengar bersahut-sahutan dari pihak Narayani Sena.
“Inovasi dari Yusuf lagi ya?” tanya Ihsan.
“Ini meriam penghempas dari Gibran. Tujuannya untuk memundurkan musuh dan memberi kesempatan pasukan kita maju,” ucap Alim sembari terus menghajar musuh dengan gadanya.
“Hah? Dari Gibran!? Lalu Yusuf kemarin mengembangkan apa?” tanya Ihsan.
“Itulah yang ingin kubicarakan denganmu. Dia mengembangkan sistem penyembuhan untuk menanggulangi racun dari musuh. Setiap pasukan kita membunuh sejuta pasukan musuh, akan terjadi efek penyembuhan pada seluruh pasukan kita, satu poin, dua poin, tiga poin, dan seterusnya sesuai jumlah lawan yang terbunuh. Ini akan membuat pasukan kita sangat tangguh, apalagi jika dikombinasikan dengan sistem pertumbuhan jumlah pasukanmu,” ucap Alim.
“Pantas saja pasukan kita sekarang jauh lebih tangguh. Aku tidak heran sih… ini Yusuf, hahaha,” ucap Ihsan sembari menerobos musuh.
Sementara itu di pihak musuh—
“Hmmm… ada apa ini? Kenapa racun mulai tidak bekerja?” pikir Gerald.
“Meriam apa itu sebenarnya? Bagaimana desainnya bisa seperti itu?” tanya Nanda.
“Kenapa kau takut, Nanda? Tugas kita hanya berperang,” ucap Wira.
“Tunggu dulu, jangan maju sekarang. Statistik kedigdayaan musuh naik drastis. Pasukan harus dimodifikasi. Kurasa ada senjata yang bisa merusak itu. Sebelum kita maju, kita perlu memotong kedigdayaan mereka berdasarkan persentase. Meskipun sekarang pasukan level rendah kita tidak bisa mengatasinya, ini terlalu kuat untuk mereka,” ucap Gerald.
Ia kemudian meluncurkan beberapa senjata anti-tank.
“Sistem apalagi yang harus kita buat kalau begini?” tanya Maya.
“Akan kutarik mundur pasukan di bawah level seratus. Mereka belum bisa memakai senjata anti-tank,” ucap Gerald.
Ia membaca mantra dan membuat pasukannya mundur perlahan, yang seketika membuat pasukannya kembali mampu memukul mundur Narayani Sena.
“Orang tua sialan… pengalaman perangnya bukan main. Baru saja terpojok sedikit, sudah menemukan cara menangkal sistemnya,” ucap Bagas.
“Ya begitulah. Sekarang hanya pasukan yang memegang sistem pembunuh dari vishkanya saja yang bisa menghabisi musuh,” ucap Gibran.
“Tidak biasanya aku lihat kau terdiam seperti itu, Gas. Lawan saja brooo!” ucap Rio sambil merangsek ke depan menggunakan zirah petirnya.
“Hhh… aku takkan mau kalah dari penakut sepertimu,” ucap Bagas sebelum ikut menerjang ke depan.
“Oi bangsat… malah ceroboh di situasi seperti ini. Bukannya memikirkan strategi balik, malah maju terus saja,” ucap Gibran.
“Biarkan saja mereka. Hmm… informasi dari Alim, mereka menarik pasukan musuh berlevel kurang dari seratus. Ini bagus sekali. Kita mengurangi jumlah musuh dalam skala besar. Lihat, jumlah kita sudah seimbang. Sekarang tugas kita hanya menghajar pasukan level tinggi itu dengan senjata anti-tank,” ucap Rasha.
“Tidak perlu. Kita maksimalkan saja kecepatan serangan kita. Yang harus kita lakukan adalah mengeksploitasi pasukan pembunuh,” ucap Yusuf.
Ia membentuk mudranya, lalu mulai melafalkan mantra.
“Sekarang aku mengerti kenapa mereka bisa dipuji banyak orang… pikiran mereka bisa sejernih ini dalam situasi seperti ini,” pikir Rasha sembari terus menghadang proyektil musuh.
Sementara itu di garis depan, Ihsan dan Alim akhirnya dipertemukan kembali dengan Dio yang tampak begitu marah bersama dengan beberapa kloning Robi.
“Tcih… aku tidak berharap akan bertemu secepat ini,” pikir Alim.
Ia segera mengeluarkan kekuatan penuhnya.
“Hahahaha, kau membawa bapakmu ke sini rupanya, jerangkong. Tapi aku akan menggunakan semuanya hari ini,” ucap Ihsan.