Pertempuran di hari keempat pun tiba. Seperti biasa, Ihsan, Alim, dan Yusuf kembali maju ke garis terdepan—Yusuf yang ingin mengumpulkan sebanyak mungkin data tentang musuh, Alim yang berusaha mengontrol barisan perang, dan Ihsan yang sudah haus pertempuran.
Sementara itu, di belakang mereka, keempat rekan mereka sibuk bertahan dari rentetan serangan musuh.
“Aku sudah tidak paham lagi kenapa anak itu jadi seperti ini. Pertama kali aku mengenalnya, dia terlihat sangat logis,” ucap Gibran.
“Pria logis mana yang mengajarkan elemen angin ke seluruh wilayah, bahkan ke para penjahat mereka?” ucap Bagas.
“Hmmm… dia memang pintar dan logis. Hanya saja tidak mau repot. Aku dulu sekelas dengannya, jadi aku sedikit banyak tahu tentang dia,” ucap Rio.
“Apa yang kalian bicarakan sih? Fokus bertahan saja. Instalasi sistem terbarunya belum terintegrasi, jadi kita harus menahan pasukan mereka sendiri,” ucap Rasha.
Tiba-tiba, sebuah kaki raksasa turun dari langit dan menjejak tepat di depan mereka berempat.
“Mak… gimana ini? Kita belum siap menghadapi yang satu ini,” ucap Rio.
Di hadapan mereka berdiri sosok raksasa yang tubuhnya diselimuti uap panas. Tanpa ragu, raksasa itu langsung melayangkan pukulan.
Rasha segera membalas dengan pukulan angin, menghantam balik serangan itu dan memantulkan mereka berdua ke belakang. Beruntung, Rio sempat menangkap tubuh Rasha sebelum terhempas lebih jauh.
Raksasa itu kembali menyeimbangkan dirinya, lalu bersiap melancarkan pukulan berikutnya.
Kali ini Rio menahannya dengan kedua tangan, sementara Bagas melesat dan mencoba menebasnya. Namun raksasa itu hanya tertawa, lalu menghantam mereka dengan tangan lainnya.
Gibran segera menyentuh ketiga rekannya dan memindahkan mereka ke tempat aman, meski ia tetap merasakan hempasan angin yang luar biasa kuat.
“Bagaimana cara kita menghadapi makhluk itu?” tanya Rio.
“Ssst… jangan bersuara keras,” ucap Gibran.
“Aku akan menghadapinya,” ucap Bagas.
“Aku menghargai keberanianmu, Bagas. Tapi memotong tubuh raksasa itu hanya akan membuatnya menjatuhkan lebih banyak pasukan kita dalam prosesnya. Lagipula, kalaupun kau menjatuhkannya, itu hanya akan memancing temannya datang kemari,” ucap Rasha.
“Teknik fotografiku akan berguna kalau aku menggantikan cahayanya dengan sinar radioaktif. Kurasa paparan sinar X cukup,” ucap Gibran.
“Itu sangat berbahaya, Gibran. Kau unit komando di sini,” ucap Rasha.
“Aku tahu. Tapi dia menghancurkan sebagian besar pekerjaanku kalau terus mengamuk seperti ini,” ucap Gibran.
Tanpa menunggu lagi, Gibran melesat keluar, membawa beberapa drone miliknya. Ia mulai menembaki raksasa itu dengan laser sinar X yang tak kasatmata.