Hari kelima pertempuran.
“Sampai berapa lama mereka bertiga akan bertempur di sana?” tanya Rio.
Ia sedang memimpin pasukannya melawan Robi. Pukulan, tendangan, sayatan, ledakan, dan berbagai cara lain telah ia lakukan untuk melumpuhkan pasukan kloning itu, namun mereka terus saja membelah diri tanpa henti.
“Walaaah, curang sekali cara bertempurnya,” ucap Bagas.
Ia hanya mampu menahan beberapa serangan Robi dengan sisi tumpul pedangnya yang telah dipanaskan berkali-kali.
Sementara itu di garis depan—
“Yusuf, apa dirimu bisa ke barisan belakang? Kita akan bergantian di depan. Informasi tidak akan tersampaikan kalau kau terus di sini. Lagipula beberapa musuh di belakang memiliki kemampuan unik yang perlu ditanggulangi,” ucap Alim.
Ia menangkis beberapa peluru tulang yang ditembakkan oleh Dio.
“Baiklah, tapi gantian ya. Kau bilang ke Ihsan,” ucap Yusuf.
“Aku saja yang bergantian. Biarkan saja dia,” ucap Alim.
“Bwahahaha, ayooo!” teriak Ihsan.
Ia melepaskan beberapa serangan angin dan terus berusaha menghalau musuhnya tanpa henti.
“Eee… baiklah, aku akan bergantian denganmu, Alim,” ucap Yusuf.
Ia kemudian terbang cepat menuju barisan belakang.
Saat itu juga, Alim kembali mengaktifkan Sudharsana dan memanggil Sharanga untuk mulai melancarkan serangan jarak jauh.
...
Sesampainya di garis pertahanan, Yusuf langsung melihat Rasha yang telah keracunan. Tanpa ragu, ia melesat menolongnya dari terkaman Rika, lalu memukul Rika dengan keras hingga terhempas jauh.
“Apa yang terjadi di sini?” tanya Yusuf sembari menggendong Rasha menjauh dan mulai memberikan pertolongan pertama.
“Aku tidak apa-apa… aku akan bisa sembuh dan membuat tubuhku cukup kuat untuk menahan racun,” ucap Rasha, berusaha berdiri sambil memulihkan sebagian lukanya.
“Akhirnya terkena efeknya juga ya,” ucap Gibran yang baru saja berpindah ke sana.
“Apa yang terjadi saat kami bertempur di garis terdepan?” tanya Yusuf.
“Rasha terkena racun dari Rika beberapa jam lalu. Nampaknya tubuhnya belum sekuat Ihsan untuk menahan racun. Sekarang hanya Bagas, Rio, dan aku yang masih bertempur. Mungkin kalau mau… kita harus menggunakan darah Ihsan untuk mendapatkan antibodi yang dia punya,” ucap Gibran.
“Aku tidak bisa melakukan itu,” balas Yusuf.
“Kenapa tidak!?” tanya Gibran.
“Darah Ihsan berbahaya. Properti penggandaan selnya terlalu tinggi, bisa menimbulkan efek seperti ledakan saat dipindahkan. Belum lagi sebagian besar selnya yang membelah dalam kondisi rusak. Harus ada opsi lain kali ini. Mungkin Alim bisa, tapi kami akan bergantian di garis depan sampai dia lelah. Apa tipe darahnya?” tanya Yusuf.
“BB+,” ucap Rasha.
“Pas sekali darahku juga… eh tapi aku belum merasakan racunnya. Sebentar,” ucap Yusuf.
Ia menyayat tangannya sendiri, mengambil darah dari luka Rasha, lalu mencoba mencampurkannya.
“Apa yang terjadi, Suf?” tanya Gibran.