Pertempuran telah memasuki hari keenam. Medan tempur sudah dipenuhi bau bangkai bahkan sebelum pertempuran hari itu dimulai. Kali ini Alim berada di garis belakang untuk membantu keempat temannya. Beberapa tembakan panah api dari busur Sharanga melesat dan membakar ribuan pasukan musuh.
“Kau tahu, Alim, melawan orang bernama Robi ini sangat merepotkan. Sama seperti atmasena, setiap kali kita menghabisi salah satu kloning mereka, memori dari kloning yang mati akan berpindah ke semua tubuh yang tersisa. Sekarang mereka mulai membentuk berbagai model adaptasi untuk mengatasi serangan kita,” ucap Bagas.
“Apa karena itu mereka begitu fanatik dengan tuan mereka, Sakra? Padahal itu hanya peningkatan kemampuan biasa, tak ada yang spesial. Apa kalian sudah mencoba menggunakan racun dan virus?” tanya Alim.
“Kami sudah mencobanya. Membakar, memotong, mengubur… tidak ada yang efektif sekarang. Kurasa satu-satunya pilihan hanya menjadi semakin kuat,” ucap Rio.
“Dan bagaimana menurutmu caranya menjadi lebih kuat!? Menemukan metode bertempur musuh adalah salah satu cara untuk menjadi kuat,” ucap Alim.
“Kita bahkan tidak bisa mendapatkan sampel darahnya, karena mereka terus tumbuh menjadi individu baru,” ucap Gibran.
“Iya, Alim. Seperti bakteri,” ucap Rasha.
“Tunggu dulu… itu tidak seperti bakteri. Lebih mirip sel kanker, tapi terkontrol… ah, itu dia. Aku perlu mengambil sampel darah Ihsan,” ucap Alim sambil terus menembaki musuh.
“Apa maksudmu mengambil sampel darah Ihsan? Kau akan meracuninya dengan itu?” tanya Rasha.
“Kau tahu darah Ihsan berbahaya?” tanya Alim.
“Yusuf kemarin bilang pada kami saat akan mengganti darah kakak,” ucap Rio.
“Ah begitu ya… hmm mungkin saja. Cara kerja sel Ihsan mirip, malah kupikir jauh lebih cepat. Ini mungkin karena dia mengambil rute paling cepat untuk pembelahan sel, membuat selnya terlalu ringan bahkan dibandingkan sel manusia normal, dan membuat kecepatan pembelahannya sangat tidak masuk akal, sampai sempat membelah di luar tubuhnya dan menimbulkan efek seperti ledakan hanya karena proses pembelahan itu. Sel yang mati dalam satu milidetik di luar tubuh membuat efek seperti ledakan itu hampir mustahil. Kalau saja dia bisa menyebarkan kesadarannya ke seluruh selnya, dia bisa menciptakan versi yang jauh lebih berbahaya dari viraroopa yaksha. Karena itu, mempelajari selnya mungkin adalah kunci untuk mengalahkan viraroopa yaksha,” jelas Alim.
“Waktumu mempelajarinya hanya 0,001 detik. Kau harus sangat cepat melakukannya, Alim,” ucap Rio.
“Iya, bagaimana kau bisa melakukannya?” tanya Bagas.
“Hhh… dasar kalian berdua aneh. Selnya bisa dibekukan,” ucap Gibran.
“Kau benar, Gibran. Lintang juga sering melakukan itu. Tapi apa kau punya elemen es?” tanya Rasha.
“Hmmm… tidak sih. Tapi ada yang mungkin lebih efektif,” ucap Alim.
Ia kemudian melepaskan beberapa atmasena dan melesat menuju garis depan.