Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #141

Ashura

Pertempuran hari ketujuh berlangsung dengan sengit.

“Cukup!! Aku akan menghancurkan zirahnya dengan pashupatastraku!” teriak Ihsan dengan penuh amarah.

“Jangan, Ihsan. Dia hanya memancing emosimu,” ucap Alim.

“Orang itu dan pasukannya sangat menyebalkan. Mereka harus dimusnahkan,” ucap Ihsan sambil mulai menyalakan pinakanya.

“Pashupatastra kah? Aku akan merasa terhormat jika mati di tangan senjata agung itu,” ucap Wira.

Ia meraih beberapa anak panahnya dan membidik ke arah Ihsan.

“Tidak, Ihsan. Kita berperang untuk mencapai masa depan yang lebih baik, bukan sekadar memusnahkan masa lalu. Turunkan senjatamu,” ucap Alim.

Ia menepuk bahu Ihsan sambil menyiapkan beberapa panah untuk menangkal serangan dari Wira yang baru saja dilepaskan.

“Kenapa, Ihsan? Kau takut melepaskan senjata penghancurmu itu? Atau kau sebenarnya tidak punya? Aku tahu kau hanya menggertak. Kau hanya anak kecil yang mudah marah. Aku tidak akan percaya pada gertakanmu itu. Kalian bertiga bisa memegang senjata Trimurti saja sudah mengagumkan. Kini kalian menggertak bisa memakai versi terakhir dari senjata itu. Kebohongan lucu macam apa yang kudengar? Sekarang lihat senjataku… brahmastra yang agung,” ucap Wira.

Ia menarik busurnya, membuat sekeliling bergetar hebat. Badai mulai bersahutan, udara memanas, dan cahaya terkumpul membentuk panah yang mengerikan.

“Orang ini punya banyak sekali koleksi senjata mistis. Busur tipe vijayanya bukan sesuatu yang mudah dipatahkan, apalagi dengan dua busur tipe baru kami. Kustomisasi yang kami lakukan masih jauh dari pengembangan tipe sebelumnya. Ini memang membuat kami nyaman, tapi sejak Ihsan mendaftarkannya saja aku sudah ragu ini akan cocok untuk banyak orang. Pada akhirnya hanya mereka yang fanatik pada kami yang menggunakannya… hhh,” pikir Alim.

Namun di saat yang sama, Ihsan juga telah menyiapkan serangannya.

“Tenang saja, cak. Fokus dari pinaka adalah memastikan panah berada dalam kontrol penggunanya seratus persen. Brahmastraku tidak akan semematikan itu,” ucap Ihsan dengan tenang.

Ia menarik busurnya tanpa ragu. Saat Wira melepaskan brahmastranya, Ihsan langsung membalas dengan brahmastra miliknya.

Panah Ihsan melesat lurus tanpa celah, menembus brahmastra Wira yang meledak dahsyat di angkasa. Ledakan itu mengguncang ruang di sekitarnya, namun panah Ihsan tetap melaju tanpa terhentikan.

Serangan itu tepat mengenai Wira, mendorongnya sangat jauh tanpa merusak lingkungan di sekitarnya, kecuali jalur tembak yang menghempaskan tubuh Wira hingga melintasi jarak ribuan galaksi.

“Itu akan cukup untuk menahannya sementara. Aku mengganti perintah brahmastra menjadi momentum akselerasi penuh. Dia akan terbang pada kecepatan jarak ekspansi U, tapi zirah kavacha itu mungkin takkan hancur begitu saja,” ucap Ihsan.

“Bagus, sekarang kita punya waktu untuk mengatasi dua lainnya,” ucap Alim.

“Hhh… selalu saja memamerkan brahmastranya. Mau sampai kapan orang itu melakukannya? Apa dia tidak sadar juga kalau semakin kuat penggunanya, semakin kuat pula astranya? Kavacha kundalanya itu takkan lama lagi akan hancur juga, busur vijayanya itu akan patah juga. Kini brahmastranya sudah dikalahkan… tinggal menunggu waktu saja sampai zirahnya itu dipotong-potong,” gumam Gerald.

Sementara itu, jauh dari medan tempur, Wira melayang di angkasa dengan zirahnya yang retak.

“Ah sialan… zirahku hampir rusak lagi. Kupikir hanya tombak Dio yang bisa merusaknya. Namun sudah dua anak lagi yang bisa membuatnya rusak begini. Tepat dua bulan lalu anak bernama Lintang itu mengoyak zirahku dengan tombaknya dan menyeret mukaku di tanah. Wajar sih… dia anak dari Damar,” ucap Wira dalam hati.

Lihat selengkapnya