Pertempuran hari kedelapan telah dimulai. Ihsan dan Yusuf berada di garis depan, menghadapi delapan komandan musuh sekaligus.
“Dua orang ini benar-benar sulit sekali dikalahkan. Teman-teman mereka juga terus menyerang saat salah satu mulai tumbang… ya meski yang tumbang cuma Pak Gerald itu sih,” ucap Yusuf.
“Itu wajar saja, Suf. Ada alasan kenapa mereka dikirim negara mereka untuk menghadang kita. Untung saja negara mereka belum sekuat itu. Lagipula, orang bodoh mana yang mau melihat salah satu komandannya tumbang begitu saja hanya untuk membuktikan kekuatan?” ucap Ihsan sambil tersenyum tipis.
“Apa katamu!? Kau berusaha menghina kami lagi ya, bocah!” teriak Dio.
“Oh iya, ada om-om tulang pemarah di sini. Aku lupa kalau dia tidak suka negaranya dihina… nasionalis sekali paman satu ini,” ucap Ihsan dengan nada sedikit meninggi.
Tak lama setelah itu, Dio langsung menyerangnya. Ihsan pun mengaktifkan seluruh kekuatannya untuk menghadang, namun ia tetap terdorong cukup jauh.
“Masih kurang efektif… energiku masih terlalu banyak bocor untuk efek ringan ini. Ayo terus bertarunglah, paman tulang. Kau hanya akan membuatku semakin kuat,” teriak Ihsan saat tubuhnya terpental dan menghantam medan tempur dengan keras.
Tak lama kemudian, Ihsan kembali dihantam hingga terlempar ke garis belakang, mendekati pasukan yang dipimpin Alim, sementara Yusuf ditinggalkan menghadapi tujuh orang sekaligus.
“Mulut lenturnya itu memang manjur untuk memancing amarah musuh… hmm, sekarang aku harus menghadapi tujuh orang ini. Ah, biarkan saja, mereka tidak sekuat Dio tadi,” pikir Yusuf.
Ia kemudian membuka beberapa fitur resonansi cahaya barunya dan mulai menyerang Gerald bersama enam komandan lainnya.
Sementara itu di garis belakang, Ihsan yang terus ditekan oleh Dio akhirnya dibantu oleh Alim.
“Heh, kau ini mulai lagi. Dia akan semakin kuat seiring emosinya,” tegur Alim sambil menahan beberapa serangan musuh.
“Itu dia maksudku. Kalau kau juga memasukkan emosimu ke medan pertempuran ini, kau tidak akan terkalahkan. Naranetra dan evolusinya juga bereaksi pada emosi. Percuma saja kau punya kalau tidak bisa memakainya, cak Alim,” ucap Ihsan.
Ia langsung melesat kembali untuk beradu serangan dengan Dio.
Beberapa serangan tulang milik Dio membuat Ihsan kewalahan, namun Ihsan tidak tinggal diam. Ia menciptakan beberapa atmasena dan membentuk pilar-pilar tanah untuk mengacaukan pijakan Dio. Meski begitu, Dio hanya membalas dengan melayang di udara.
Ihsan kemudian menggunakan taktik lain. Ia mengaktifkan dan menonaktifkan bholenath tamasiknya secara bergantian, menghemat tenaga sambil tetap menyerang dan menghindar. Senyum lebar terlihat di wajahnya, seakan menikmati pertempuran itu.
Ia melesat cepat, melayangkan beberapa pukulan ke arah perut Dio hingga membuatnya terpental. Tanpa membuang waktu, Ihsan memanggil trisulanya dan mengarahkannya ke jantung Dio dengan kecepatan tinggi.
Namun, Dio segera memanggil pedangnya dan menahan serangan itu.
Dengan cepat, Dio kembali bergerak. Ihsan menembakkan energi tamasik ke arahnya, namun Dio menembus serangan itu dengan pedangnya, menghamburkan cahaya merah di udara.
Pertarungan jarak dekat kembali terjadi di antara mereka. Namun meskipun Ihsan telah mengeluarkan seluruh kekuatannya, ia hanya mampu mengimbangi Dio untuk beberapa saat.
Tak lama kemudian, Dio kembali mendominasi.
Sebuah tusukan mengenai perut Ihsan, membuat tubuhnya tertahan dan jatuh ke tanah.
Alim hanya bisa tertegun melihat saudaranya dihajar.