Hari kesembilan telah tiba. Alim menatap ke atas bersama pasukan Narayani Sena, berjalan dengan tenang sambil meniup shanka mereka sebelum akhirnya mulai maju ke medan pertempuran. Hari itu, hanya Ihsan seorang yang menerjang ke depan, memimpin pasukan pengacau yang telah berkali-kali diperkuat dengan berbagai sistem yang mereka bertujuh kembangkan selama pertempuran. Secara mengejutkan, pasukan mereka mulai menunjukkan perlawanan meski masih terpojok, dan hanya Ihsan yang mampu menimbulkan kehancuran massal pada pihak musuh.
Sementara itu, Alim dan Yusuf bekerja sama untuk mempertahankan barisan formasi mereka. Saat itu mereka menggunakan kraunchavyuha untuk menghasilkan efek serangan yang jauh lebih cepat. Begitu formasi berhasil menembus barisan musuh, pasukan Narayani Sena langsung memusatkan konsentrasi ke kepala kraunchavyuha dan membentuk chakravyuha tepat di depan musuh. Di saat yang sama, pasukan di bagian belakang membentuk garudavyuha untuk mempertahankan tekanan sekaligus menutup titik lemah, sembari mempersiapkan puluhan senjata di belakang.
“Kenapa aku ditempatkan di belakang!?” teriak Bagas.
“Hari ini tujuan kita adalah mengeksekusi jenderal perang Gerald yang abadi. Kau memang kami perlukan untuk menjatuhkannya, tapi kita juga harus mempertahankan barisan belakang. Aku membutuhkanmu, Bagas,” ucap Yusuf.
“Tapi kenapa juga Alim membawa dua anggota yang memakai rsinetra ke depan?” tanya Gibran.
“Yang Alim butuhkan adalah dua pasukan itu untuk membentuk chakravyuha berkecepatan tinggi. Tolong tetap perhatikan formasi pasukan, Gibran. Komandonya ada padamu saat ini,” ucap Yusuf.
“Kau bisa mengandalkanku untuk itu,” ucap Gibran sambil tersenyum tipis.
Fokus pasukan belakang saat itu adalah memberikan bantuan sebanyak mungkin, memperkuat serangan utama mereka.
Sementara itu di barisan depan—
“Kita buat chakravyuha membelah menjadi tiga. Pastikan barisan terluar saja yang meningkatkan pertahanan mereka. Pasukan dalam harus terus mengoptimalkan serangan. Hari ini kita akan memburu Gerald,” ucap Alim.
Ia mengaktifkan naranetranya bersamaan dengan kedua timnya yang menyalakan rsinetra mereka, lalu mulai memburu Gerald.
“Tunggu dulu… aku bisa terus menyembuhkan mataku. Ini akan ditanggulangi oleh pemulihan energi dari teknik Shiva,” pikir Alim.
Ia kemudian membuka rajanetranya sekaligus, menghancurkan sebagian besar musuh dengan jurus yang telah diperkuat oleh ketiga peningkatan dari matanya. Dengan cepat, Alim mengarahkan jarinya ke langit dan memanggil sudharsana. Senjata itu memanas di angkasa, menciptakan badai api yang mengamuk di langit.
Pada saat yang sama, Rasha akhirnya menemukan Gerald dan segera menginformasikan lokasinya kepada pasukan.
Tak lama kemudian, pasukan rakshasa mengelilingi mereka berdua, bersamaan dengan pasukan pembunuh yang dipimpin oleh Rio.
“Kalian berdua ada di sini juga, anak-anak nakal,” ucap Gerald sambil mengaktifkan kekuatannya.
“Hari ini kami sudah lebih kuat dari kemarin. Kau tidak akan bertahan kali ini, kakek tua,” ucap Rio.
“Nampaknya berada di dekat Ihsan membuat kemampuan memancing emosimu meningkat, adikku. Tolong jangan sering-sering kau lakukan itu kalau di rumah,” ucap Rasha.
Ia segera memasang kuda-kuda dan menyerang Gerald dengan cepat. Rio menyusul dengan menghancurkan pijakan mereka untuk memisahkan Gerald dari keretanya.
Gerald tidak tinggal diam. Ia membalas dengan gadanya, memantulkan keduanya menjauh, lalu menembakkan panah ke arah mereka.