Hari kesepuluh telah tiba. Pasukan yang kemarin gagal menghabisi Gerald kini bertempur dengan brutal untuk menembus garis depan musuh dan kembali memburunya. Pasukan Narayani sepenuhnya mengganti strategi mereka, dari yang sebelumnya bertahan menjadi penyerangan aktif. Mereka ingin mengakhiri pertempuran hari itu secepat mungkin. Bahkan kali ini mereka bergerak bersama pasukan Ihsan yang sebelumnya digunakan untuk mengacaukan strategi musuh.
Perubahan metode menjadi ofensif itu membuat pasukan musuh terkejut dan dengan cepat mulai dihancurkan.
Memanfaatkan momentum tersebut, Rasha melesat cepat sambil melemparkan ratusan tombaknya ke depan. Begitu ia berhasil mendekati Gerald, ia langsung menggunakan tombaknya untuk bertarung dalam jarak dekat.
Mengetahui Gerald telah ditemukan, Bagas segera menuju ke sana sambil menebas seluruh pasukan musuh yang menghalanginya. Sementara itu, Gibran dan Rio membentuk lingkaran penghalang agar Gerald tidak bisa melarikan diri.
Di sisi lain, Ihsan, Alim, dan Yusuf menghadang para komandan musuh.
“Kalian bodoh… kenapa kalian meminta komandan yang lebih lemah dari kalian untuk menghadapi komandan utama kami?” tanya Dio.
“Mereka tidak lemah, Dio. Mereka akan cukup kuat untuk menjatuhkan semua komandan perang di sini, asalkan diberi waktu,” ucap Alim.
“Lagipula kami bertiga perlu menghemat tenaga untuk terus menghadang kalian bersepuluh… iya kan, Ihsan?” ucap Yusuf.
“Entahlah… tapi aku cuma risih dengan batu yang menempel di kepala Dio itu. Aku ingin mencopotnya. Pria mana yang suka pakai perhiasan?” ucap Ihsan.
Ia mengambil kuda-kuda dan kembali menyerang. Kali ini Ihsan juga kembali bertarung bersama kedua wahananya yang selama ini ia tinggalkan di medan tempur untuk membantu pasukan.
Namun tujuh kuda perang yang menarik kereta kencana Wira berhasil menghadangnya. Gajah milik Dio juga menjadi ancaman yang sangat merepotkan, memaksa mereka beberapa kali melompat dari wahana untuk bertarung langsung tanpa membahayakan tunggangan mereka.
Kali ini Ihsan mencoba memojokkan musuh dengan kemampuan memanahnya yang luar biasa. Dengan pinaka di tangannya, panah-panahnya meluncur cepat dan halus, menciptakan hujan serangan yang membuat banyak pasukan terkecoh, bahkan mengira ia menggunakan busur tipe gandiwa.
Sementara itu, Alim melesat ke arah Dio sambil membawa kaumodaki di tangannya, lalu terlibat dalam pertarungan gada yang sengit.
Yusuf juga tidak tinggal diam. Ia menciptakan beberapa atmasena dan bersama mereka menjaga lingkaran pemusnahan Gerald dari delapan penjuru, menembakkan astra demi astra dari kedua pistolnya.
Tak lama kemudian, pasukan Narayani membentuk lapisan demi lapisan chakravyuha yang menyatu dengan lingkaran pertahanan Yusuf, menjadikannya hampir mustahil untuk ditembus.