Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #145

Perbedaan Tipis

Malam hari sebelum hari kesebelas tiba, pasukan musuh tampak diliputi kebingungan.

“Apa yang akan kita lakukan? Kita kehilangan pasukan Pitamaha. Sekarang hanya tersisa sepuluh jenis pasukan di Aditya Sena. Ini tidak terlihat baik, mengingat pasukan Pitamaha adalah opsi terkuat kita,” keluh Nanda.

“Yang harus kita lakukan hanya terus menyerang mereka dengan pasukan abadiku,” ucap Dio.

“Satu-satunya yang bisa dilakukan pasukanmu itu hanya menahan serangan lebih lama. Kalau terkena prajurit level tinggi, mereka tetap mati. Apalagi mereka punya efek serangan ketiga yang mematikan itu. Kau pikir ini mudah, nak?” ucap Rika.

“Diam dulu. Kita masih punya sepuluh jenis pasukan. Yang perlu diingat, sistem yang sudah kita susun tidak akan hilang. Kita hanya perlu menggantikan pasukan penyerang utama kita dengan pasukan lain, yaitu pasukan rakshasa. Dibandingkan milik mereka, pasukan rakshasa kita jauh lebih ganas dan cocok untuk penyerangan. Lalu pasukan kembarku dan Rika akan menggantikan peran pasukan abadi milik Dio. Yang perlu diingat, kita tidak boleh kehilangan tiga komandan lagi, atau mereka akan memenangkan tantangan ini jika memutuskan untuk mengakhirinya, dan anak itu akan masuk menjadi warga Devaloka sebagai prajurit dengan perlindungan penuh. Bahkan mungkin dia akan membangun wilayah provinsinya sendiri,” ucap Robi.

“Tenang saja, Ayah. Akan kubantai dia,” ucap Dio.

“Akui saja, Dio. Kau juga takut pada anak itu, kan? Di tim kita sekarang hanya ada dua yang memiliki gelar kebangsawanan dan bisa memimpin wilayah, yaitu Tuan Gerald dan aku. Aku pun membaginya dalam satu tim bersama ibumu, Paman Wira, dan Paman Nanda. Kau tahu, bahkan Tuan Putri Nel harus menjalani ujian yang sama untuk mendapatkan gelar itu. Jika dia menjadi bangsawan di Devaloka, otoritasnya akan lebih tinggi dari kita semua saat ini—jelas lebih tinggi darimu. Meski kau lebih kuat, kau belum pernah bisa menjadi bangsawan karena sifat pemarah dan cerobohmu itu. Jika salah satu dari kami berempat mati, dia bisa meminta Tuan Sakra untuk mengeksekusimu kapan saja. Sejujurnya, selama ini Tuan Sakra tidak terlalu peduli padamu. Dia tidak suka memiliki pengacau sepertimu. Akan kukatakan hari ini juga—kau masih ada di Devaloka karena perlindungan kami berempat. Tuan Sakra tidak pernah menyukaimu, nak. Hanya karena kami bisa membuat keberadaanmu terlihat berguna, dia masih membiarkanmu hidup,” ucap Robi.

“Sudah, kita tidak perlu mempermasalahkan itu. Dengarkan aku. Saat ini yang paling dekat dengan gelar bangsawan adalah diriku, dengan kontribusi pembangunan yang kulakukan. Sepertinya mereka hanya akan mengincar panglima utama kita. Bagaimana kalau sekalian dirimu saja yang menjadi panglima kita, Robi? Kita hanya perlu menyembunyikan salah satu tubuhmu di tempat lain agar rencana mereka tidak berjalan. Sekarang kita bisa mulai menyusun strategi,” ucap Nanda.

“Ya, ide Nanda bagus. Harus diakui, meski dia agak kurang tajam pemikirannya, dia adalah yang paling disayang Tuan Sakra di sini dan yang paling banyak berkontribusi. Robi, pilihan panglima tertinggi kami berdua adalah kau,” ucap Wira.

“Baiklah kalau begitu… tapi kumohon bantu aku,” ucap Robi sambil berlutut dan menangis di hadapan rekan-rekannya.

Lihat selengkapnya