Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #146

Wabah Mematikan

Pertempuran di hari kedua belas telah berkobar, dan pasukan narayani masih terus terdesak akibat penyamaan strategi yang diterapkan oleh Robi.

“Alim, kenapa ini!? Semua strategi, sistem, dan formasi kita disalin lalu diimprovisasi oleh mereka dengan pasukan mereka yang lebih kuat dan banyak. Ini mustahil untuk dikalahkan,” ucap Yusuf.

“Kau sudah mengatakan itu sejak kemarin, Suf, tapi ada benarnya juga,” ucap Gibran.

“Karepmu opo, cok, kukira ada solusi,” ucap Yusuf.

“Kita tidak bisa membiarkan ini terus berlarut. Jujur saja, ini tidak seberbahaya jenderal sebelumnya. Cara untuk mengalahkan mereka hanya dengan memahami kelebihan pasukan kita dibanding pasukan mereka. Setiap strategi yang mereka terapkan pasti memiliki kelemahan,” ucap Alim.

“Apa maksudnya ini? Aku tidak paham maksud mustahil yang kau bilang itu, Suf. Aku tidak tahu kelebihan dan kelemahan pasukan musuh, tapi pasukan kita jauh lebih banyak terdiri dari manusia acak. Aku tidak menspesialisasikan apa pun pada mereka. Kalau mau, lepaskan saja wabah, musuh akan mati, dan pasukan kita akan lebih banyak bertahan karena komposisinya acak. Setelah pemusnahan itu, kita bisa membangun ulang pertempuran,” ucap Ihsan.

“Kau gila ya, Ihsan. Kita tidak ingin pasukan kita mati, kita harus mempertahankannya. Aku tidak mau mengulang dari awal semua pasukan yang kubangun. Para rakshasa itu adalah aset luar biasa dan aku belum bisa membuatnya sendiri. Apa kata devaraja jika aku memusnahkannya begitu saja di pertempuran ini,” ucap Rasha.

“Kita menangkan dulu pertempuran ini, nanti akan kuurus devaraja itu,” ucap Ihsan.

“Lebih baik aku mati daripada membahayakan negaraku,” ucap Rasha.

“Rasha benar, Ihsan. Kita harus memikirkan cara agar tidak terjadi apa pun pada beberapa macam pasukan,” ucap Bagas.

“Hhh, ketergantungan kalian pada satu macam kemampuan itu perlu dihindari. Selalu sisakan ruang untuk adaptasi dan variasi. Baiklah, kalau kalian tidak mau, aku akan maju sendiri. Tarik pasukan kalian perlahan, aku akan memulai wabahnya,” tegas Ihsan sembari membawa lembu dan ularnya melesat ke depan bersama pasukannya.

“Hhh, sifat spontannya itu masih belum bisa hilang. Tunggu, Ihsan. Hei Yusuf, aku akan menyusul Ihsan, kau jaga barisan belakang,” ucap Alim yang segera bergerak mengejar.

“Mungkin wabah itu memang satu-satunya cara. Kita harus memikirkan bagaimana agar strategi ini efektif,” ucap Yusuf.

“Tapi Yusuf, aku belum bisa menggunakan kekuatanku saat ini untuk membentuk pasukan rakshasa. Semua bagian akshauhini rakshasa milikku tidak bisa kuhasilkan sendiri dan hanya merupakan salinan dari satu akshauhini rakshasa yang diberikan devaraja. Bukankah mereka membantu,” ucap Rasha.

“Kak, kurasa kau harus kembali ke gaya awalmu untuk menggunakan pasukan pembunuhmu itu. Kita bisa merahasiakan hilangnya pasukan rakshasa milikmu,” ucap Rio.

“Rio!? Hadiah utama dari kompetisi devasena adalah aset bagi jawara sekaligus tanda hubungan baik. Kalau aku sudah menemukan kode untuk pembentukan pasukan rakshasa, silakan saja untuk melakukan strategi sapu bersih itu. Ini pasukan dari seorang Ishvara, kalau sampai hilang mau ditaruh di mana mukaku. Kenapa pula Ihsan itu sangat impulsif, kenapa kalian tidak sesekali mengingatkannya atas sifat cerobohnya itu,” ucap Rasha.

“Sudah dua bulan sejak tragedi itu. Hadiah bagi para jawara memang hanya bersifat sementara. Kalau boleh jujur, kupikir itu hanya untuk menetapkan standar baru pada pasukan seseorang, lalu orang itu menyesuaikan diri dengan caranya sendiri untuk membangun pasukan dengan nilai yang serupa,” ucap Yusuf.

“Lintang tidak pernah kehilangan pasukannya, Yusuf. Dia masih mempertahankan akshauhini pasukan pemburu itu, aku juga sudah melihatnya lagi,” ucap Rasha.

“Kalian bukan orang yang sama. Kau tidak perlu mengikuti setiap cara orang lain untuk berkembang, lakukan caramu sendiri. Ini bukan soal aku mengajarimu atau memaksakan ideologiku, tapi jika kau bergantung pada kemampuan buatan orang lain, suatu saat kau akan sadar bahwa kemampuan itu tidak lagi dibutuhkan. Para Ishvara hanya mencari cara terbaik untuk berkembang. Saat ini, caramu berkembang adalah dengan bangga pada apa yang kau miliki. Ihsan tidak pernah mempermasalahkan pasukannya yang lemah dan acak, yang dia cari hanya cara agar pasukannya efektif. Jika kau ingin kembali menggunakan pasukan rakshasa, maka buatlah dengan tanganmu sendiri. Saat ini panglima perang kita hanya satu, kau harus menerima keputusannya. Terimalah bahwa mungkin sebentar lagi pasukanmu itu akan musnah. Terima dulu kenyataannya. Lagi pula, apa salahnya pasukan pembunuhmu yang biasa itu? Bukankah itu pasukan yang kau gunakan untuk meneror arena? Bukankah itu yang membawamu menjadi kapten vishkanya? Itulah pasukan yang kau bangun sendiri. Jika kekuatanmu hanya bergantung pada pasukan pemberian, bukankah itu berarti tanpa mereka kau bukan apa-apa? Padahal kau lebih dari itu, Kak Rasha. Memang butuh satu semester agar kau bisa memiliki akses penuh untuk menghasilkan pasukan setara dari akshauhini pemberian, tapi selama kau hidup kau bisa mendapatkannya lagi. Selama kau gigih, pasukanmu bisa sekuat milik Ishvara. Memang butuh waktu, tapi kau tahu ini mungkin dilakukan,” tegas Yusuf.

Rasha terdiam, tak lagi mampu membalas perkataan itu.

...

Sementara itu di tempat Ihsan dan Alim—

Lihat selengkapnya