Pertempuran pada hari ketiga belas akhirnya pecah, aroma amis dari tubuh-tubuh manusia yang berserakan akibat wabah sejak hari sebelumnya menyengat begitu kuat di udara. Pasukan Narayani melaju dengan sigap berkat kemampuan adaptasi mereka, sementara pihak lawan hanya menyisakan sedikit prajurit yang masih mampu bergerak setelah kejadian mengejutkan kemarin. Kini, hanya segelintir dari mereka yang bertahan, dan kesempatan itu dimanfaatkan sepenuhnya oleh pasukan Narayani untuk terus mendesak maju.
Dengan trisula tergenggam di tangan, barisan infanteri menembus pertahanan lawan yang telah melemah, bahkan mengangkat tubuh musuh untuk menebar rasa gentar. Hingga akhirnya Ihsan, Alim, dan Yusuf meledakkan garis depan demi menciptakan momentum serangan.
"Tiga anak itu sangat berbahaya. Yusuf adalah inovator yang akan membuat pasukan musuh semakin sulit dihadapi seiring waktu. Alim, sebagai panglima, adalah komandan yang sangat adaptif. Tapi yang paling berbahaya adalah anak bernama Ihsan itu. Dia selalu tahu cara meruntuhkan mental lawannya, dan sepertinya dia juga sangat menikmati pertempuran ini," gumam Robi.
"Kita harus segera menjatuhkan mereka, tapi bagaimana caranya? Mereka sudah berkembang di luar kendali kita. Bahkan Dio sekarang hanya mampu menahan satu dari mereka," ucap Wira.
Di sisi lain, empat komandan belakang yang ditugaskan untuk memburu Robi justru menemui jalan buntu karena dihadang oleh Nanda dan Rika.
"Dua orang ini benar-benar merepotkan. Siapa yang bisa menangani mereka?" ujar Rio.
"Aku sudah terbiasa menghadapi rakshasa," jawab Rasha.
"Aku mungkin akan membantu, untuk mempercepat perpindahan dan agar bisa segera menyusul kalian berdua," tambah Gibran.
"Baiklah, kami percayakan pada kalian," ucap Bagas sebelum segera melesat ke depan menuju Ihsan, Alim, dan Yusuf.
Namun saat Rio hendak maju, Robi telah lebih dulu muncul dan melemparkannya ke belakang. Sementara itu, Bagas tetap bergerak maju karena mengira Robi dan Wira berada di depan, melupakan kemampuan Robi dalam membelah tubuh.
"Arghh sialan, sekarang kita bertiga harus menghadapi mereka di sini," ujar Rio.
"Pria yang bisa membelah diri itu panglima mereka, bukan? Tidak heran, dia sangat cerdas dalam menyusun strategi," kata Gibran sembari menyebarkan drone miliknya dan menandai Rio serta Rasha.
"Teleportasimu seharusnya bisa mengatasinya, Gibran," ucap Rasha.
"Kalian siap?" tanya Gibran dengan senyum tipis.
"Tentu saja," jawab Rio dan Rasha bersamaan.
Seketika mereka melesat menuju musuh, sementara Gibran berpindah cepat ke atas. Rio langsung diserang oleh Rika, sedangkan Rasha berhadapan dengan Robi. Namun tiba-tiba posisi mereka berubah—Rio melancarkan pukulan berapi ke arah Robi, sementara Rasha menendang Rika tinggi ke udara.
Sekali lagi posisi mereka ditukar. Gibran muncul menembakkan bom asap, lalu berganti kembali dengan Rasha yang langsung menghujani Rika dengan serangan bertubi-tubi. Nanda yang berada di belakang sempat ikut terkena hujan pukulan itu, namun dengan sigap ia memindahkan Rika yang terpojok dan mencoba membalas dengan pukulan ke arah Rasha.