Pertempuran hari keempat belas dimulai dengan penuh perasaan, Dio dan Robi mengamuk saat itu setelah melihat Rika dihabisi dengan brutal dan melepaskan jutaan kloning ke angkasa serta hutan tulang yang tak berhenti tumbuh.
"Bagaimana ini, mereka malah mengamuk," ucap Gibran.
"Itu pantas bagi mereka Gibran, mereka pantas merasakan neraka," ucap Alim yang mengingat kembali kejadian di akhir devasena dan juga kematian ayahandanya yang membuat matanya menyala semakin kuat seiring waktu. Bersamaan dengan itu Alim menembakkan jutaan agneyastra ke arah musuh dan membumihanguskan medan tempur.
"Paman Yudi, apa ini kekuatan yang kau rasakan selama ini, tunggu saja, aku akan membawakan neraka untukmu juga," pikir Alim sembari terbang dengan cepat dan membuat dua buah sayap dari apinya hanya untuk meningkatkan efek bakarnya sekaligus menakut-nakuti musuh.
Alim melesat dengan cepat dan mulai membantai pasukan musuh hanya dengan panas yang terpancar dari tubuhnya. Dengan itu dia memanggil nandakanya dan mengalirkan apinya ke dalamnya sehingga pancaran panasnya terfokus ke pedang itu, lalu dia menebaskan pedang itu ke arah musuhnya. Saat itu Robi, Wira, dan Nanda terkena serangannya dan membuat mereka terpental sangat jauh serta mengalami luka bakar yang mengerikan.
Di saat itu Ihsan memanfaatkan hal ini untuk menyerang Dio yang sedang dikuasai amarah.
"Hahaha, mau ke mana kau paman tulang," ucap Ihsan sembari tertawa keras dan menghajar Dio yang kelimpungan.
"Mana kekuatanmu yang kemarin, kenapa sekarang aku merasa seperti berburu binatang saja, oh aku tau, kau lemah," teriak Ihsan sambil melemparkan beberapa tebasan angin ke arah Dio yang berhasil dihalau dengan zirah tulangnya.
Lalu Ihsan menembakkan rudrastra tepat ke dada Dio dan menghancurkan zirahnya.
"Hahahaha, kau memang kuat Dio, kau masih bisa menahan rudrastra dariku, sayang sekali kau sedang dalam keadaan bodoh saat ini," ucap Ihsan sembari melesat dan menghajar Dio sambil mengaktifkan kekuatan penuhnya.
Ihsan dan Alim terus membantai musuh dengan memegang busur di tangan mereka. Nandi yang sangat kuat menerabas pasukan musuh dengan membawa Ihsan yang terus menembaki Dio dan seluruh pasukan di sekitarnya dengan astranya sambil tertawa, sementara garuda dengan sangat cepat mengitari medan tempur dengan membawa Alim yang membakar medan tempur tanpa ampun hari itu.
Lalu tanpa aba-aba tiba-tiba seorang pria memanjangkan tangannya untuk menyentuh garuda, untung saja Alim sempat menghalaunya.