Malam hari sebelum hari kelima belas pertempuran.
"Apa yang kau buat itu Ihsan?" tanya Rio.
"Ini kampak perang, kita akan menggunakannya untuk menghabisi panglima perang musuh," ucap Ihsan.
"Hah, apa maksudmu, bukannya panglima musuh kebal terhadap serangan fisik?" ucap Rio.
"Itu benar, karena itu aku hanya ingin pertempuran ini agak seru. Kampak ini kubuat dengan menumbuk inti dari senjata-senjata terbaik para prajurit yang gugur di sini. Karena campuran darah di dalamnya dan potongan dari kavacha, dia bisa memiliki properti khusus untuk menyerap darah musuh dan memperkuat dirinya sendiri berkali-kali. Apalagi di sini ada orang yang bisa membelah diri itu, senjata ini akan meminum darahnya terus menerus sampai menjadi sangat perkasa," ucap Ihsan.
"Tapi Ihsan, itu tidak akan membunuhnya," ucap Rio.
"Iya, ini tidak akan membunuhnya, tapi ini akan menyiksanya dan cocok untuk membantai musuh, hahaha," ucap Ihsan.
"Kau maniak perang Ihsan, seharusnya senjata itu digunakan untuk menghadapi musuh seefektif mungkin," ucap Rio.
"Aku lebih suka memanfaatkan kekuatan musuh untuk memperkuat diriku sendiri, inilah namanya berkembang," ucap Ihsan.
"Kau berniat menghabisi Robi dengan tanganmu sendiri Ihsan?" tanya Alim.
"Aku hanya ingin menguji coba senjata ini, hanya ingin mengujinya," ucap Ihsan sembari menyeringai kegirangan.
...
Keesokan harinya saat pertempuran dimulai Ihsan langsung mengangkat trisula dan kampak perangnya dan berlari dengan senang sambil membantai pasukan musuh dengan keduanya. Terlihat semakin banyak musuh yang dibunuh oleh Ihsan semakin kuat pula dirinya dan kampaknya. Tanpa berlama-lama akhirnya panglima musuh menghadapinya.
Ihsan dengan sengaja membacoknya dengan kampaknya dan menari-nari saat pasukan panglima musuh mulai tumbuh dari darah mereka yang ada, Ihsan malah semakin brutal menggunakan kampaknya.
"Kenapa orang gila itu tidak memakai elemen apapun untuk memusnahkan musuh, tunggu dulu, apa dia sengaja melakukannya," pikir Alim yang sedang mengudara bersama garudanya dan terus membombardir musuh.
Kali ini Alim juga harus menghalau Dio sementara Ihsan menggila dengan kampak barunya dan berputar-putar semakin cepat seiring dengan kampaknya yang semakin kuat. Trisula miliknya nampaknya juga diberikan mantra yang serupa sehingga keduanya menyala sangat dahsyat di medan tempur.
"Inikah alasan kenapa dia dipanggil rudra," gumam Rio.
"Dia memang pantas mendapat nama itu," ucap Rasha yang melihat pembantaian yang dilakukan Ihsan sendirian.
"Kita tidak bisa membiarkan hal ini, kita harus menyerang sebelum panglima perang musuh menjadi semakin banyak karena ulah Ihsan," ucap Bagas sembari menyalakan pedangnya.
"Oi Rio!!, ini senjata untukmu," ucap Yusuf sembari menyerahkan sebuah pedang besar pada Rio.
"Apa ini, kenapa kau serahkan padaku," ucap Rio.
"Itu pedang hasil eksperimenku dengan tubuh Xavier dan juga mayat Rika, kini aku sudah melepaskannya, mungkin dia akan berguna untuk Alim nanti di Devaloka, itu pedang yang memiliki kemampuan untuk membuat racun semakin cepat semakin sering dia membunuh, ini adalah senjata yang cocok untuk menghadapi pengguna kemampuan regenerasi, ayunkan pada musuhmu dan habisi mereka, oiya lakukanlah sebelum situasi terlalu kacau gara-gara Ihsan yang mengamuk itu," ucap Yusuf.
Saat itu juga Rio mengiyakan dan melesat ke arah musuh sambil membabat mereka, dan betapa terkejutnya Rio melihat senjata itu membuat racunnya semakin mematikan seiring waktu.