Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #150

Mantra Mukta

Malam sebelum pertempuran di hari keenam belas pasukan aditya kembali dilanda kegalauan karena sekali lagi harus kehilangan panglima perang mereka.

"Aku akan menjadi panglima perang hari ini, akan kumusnahkan mereka semua," teriak Dio.

"Kau takkan bisa memerintah hanya dengan emosi saja Dio," bentak Wira.

"Tenangkan dirimu Wira, orang ini jauh lebih kuat dari sisa komandan kita yang lain termasuk kita sendiri. Jadilah panglima perang, kita tidak bisa biarkan orang ini diincar oleh tiga orang anak itu. Kita sudah jauh lebih kuat dari hari pertama pertempuran," ucap Nanda.

"Kau benar Nanda, satu-satunya alasan aku ingin Gerald menjadi panglima adalah dia lebih berpengalaman dariku sehingga kemampuan bertempurnya sangat rapi. Kini aku mungkin bisa merapikan pasukan lebih baik darinya," ucap Wira.

"Kenapa kita menunjuk orang yang lebih lemah dariku lagi," bantah Dio.

"Dio, kami punya hal spesial untukmu. Bukankah panglima perang tak bisa banyak bergerak selama di medan pertempuran, bagaimana dirimu akan bertarung dengan leluasa kalau dirimu menjadi panglima? Saat ini bahaya terbesar kita bukan hanya dari panglima perang mereka. Sebagai panglima, Alim harus dihadapi dengan penggunaan strategi dan formasi yang seimbang, apa kau bisa mengatasinya?" tanya Nanda.

"Tidak, aku tidak bisa melakukannya," ucap Dio.

"Berarti tugasmu bukanlah memimpin pasukan. Kau tak bisa menangkal Alim jika hanya dengan kekuatan, tapi ada seseorang yang bahkan lebih berbahaya lagi, dia Ihsan. Dialah sang pembawa kekacauan utama dalam pertempuran ini, dewa haus darah yang selalu ingin bertempur di garis depan. Meskipun otak pasukan mereka adalah Alim, tapi sebenarnya inti strategi mereka terletak pada Ihsan, dan saat ini hanya kau yang bisa memusnahkannya. Luapkan amarahmu saat ini padanya dan mungkin lepaskan senjata terkuatmu itu ke arah pasukan musuh, hancurkan mereka tanpa sisa," ucap Nanda.

"Kau benar, aku akan menggunakannya, narayanastra, senjata pamungkasku," ucap Dio dengan penuh amarah sembari mulai merapalkan mantra dan pergi dari tempat itu.

"Kau yakin dengan ini Nanda? Dengan kekuatannya saat ini mungkin Dio sudah mencapai kekuatan setara dengan maharathi. Aku mungkin baru atirathi sembilan saat ini, potensi anak itu sangat mengerikan. Kalau saja dia lebih bisa mengontrol emosinya itu, dia mungkin sudah jadi kesayangan tuan Sakra. Andai saja dia yang sekarang hadir saat pertempuran Makarapura hari itu mungkin kita akan menang," ucap Wira.

Lihat selengkapnya