Pertempuran hari ketujuh belas dimulai dengan keputusasaan dari kubu aditya sena. Mereka bertarung secara membabi buta, kehilangan arah setelah menyaksikan senjata terkuat mereka dihancurkan pada hari sebelumnya. Wira bahkan mulai kehilangan kendali, tidak pernah menyangka musuhnya benar-benar memiliki pashupatastra. Di sisi lain Ihsan dan Dio sama-sama harus kehilangan senjata terkuat mereka untuk sementara waktu.
"Ihsan, kita berdua bertarung dari belakang saja, kau sudah kehilangan pashupatastra dan perlu banyak energi untuk mengisi ulang senjata itu," ucap Alim sembari terus menyerang musuh menggunakan gada dan pedangnya.
"Hhhh aku belum benar-benar menguasai senjata itu, tapi sekarang tujuan kita sudah tercapai. Dio juga sudah melepaskan mantra mukta astra miliknya, berdasarkan data seharusnya kita sudah menang. Kau juga punya narayanastra, Yusuf bisa menembakkan brahmandastra miliknya kapanpun untuk mengakhiri pertempuran," ucap Ihsan.
"Aku tidak akan menggunakan senjata berbahaya itu untuk perusakan Ihsan, itu terlalu berbahaya. Kenapa kemarin kau langsung saja melepaskan pashupatastra? Alim sudah mengatakan cara lain untuk menetralisir narayanastra. Kenapa kau menghancurkan astra mengerikan itu dan membuat kehancuran seperti ini? Sekarang bahkan tak ada lagi bintang yang bisa dilihat, kita juga harus membuat sendiri tanah untuk dipijak. Sebenarnya kalau mau menetralisir astra lain, mungkin brahmandastra milikku bisa menelannya, tapi itu masih sebuah pertanyaan karena aku belum punya koleksi senjata lain dan belum tentu juga aku sekuat orang yang menembakkan narayanastra itu," ucap Yusuf.
"Sekarang tinggal membelah kavacha kundala, baru kita bisa benar-benar menghabisi Wira. Satu-satunya opsi yang tidak destruktif adalah pedang Bagas yang sudah semakin rapi. Kita tidak bisa biarkan kehancuran yang masif seperti kemarin terulang kembali. Gibran, Rio dan mbak Rasha sudah terluka parah. Kini hanya tinggal aku, kau, Ihsan dan Bagas dari kubu kita yang masih bisa bertempur. Sedangkan dari pihak musuh hanya ada Dio, Wira, Nanda, Xavier dan Nel, sisanya harus dirawat. Ini tidak baik bagi kedua kubu. Hanya sedikit dari kita yang bisa menahan dampak benturan dua mantra mukta astra. Ini juga sudah terlalu kacau untuk berperang. Tidak boleh ada mantra mukta astra lagi yang terlepas dari pihak kita kecuali brahmandastra versi defensif, dan itu termasuk rudrastramu yang destruktif itu Ihsan. Kita pakai jurus biasa saja," ucap Alim sembari menyalakan matanya.
"Opsi yang bagus cak, aku juga ingin menggunakan kekuatan asliku tanpa bantuan senjata aneh itu hehe," ucap Ihsan.
"Dan aku juga tidak mengizinkan kau memakai trisulamu untuk berperang lagi. Senjata itu meskipun shastra tetap terlalu destruktif untuk kondisi kita saat ini yang sudah kelimpungan karena benturan pashupatastra dan narayanastra," ucap Alim sembari menerjang maju.
"Bahkan saat ini kau masih memikirkan teman-temanmu Cak Alim," gumam Ihsan sembari memanggil busurnya dan mulai menghujani musuh dengan panah.
"Akhirnya ketemu juga kau bocah sialan, beraninya kau mengadu senjata seperti itu," ucap Dio dengan marah pada Ihsan.
"Biarkan aku yang menanganinya Ihsan, kau majulah ke depan untuk menerobos barisan musuh," ucap Yusuf.
"Baiklah Yusuf, aku percayakan ini padamu," ucap Ihsan sembari melesat ke depan menemani Alim dan mengambil pedang yang berserakan di tanah sebagai senjatanya.
Sementara itu di belakang, Yusuf dan Dio saling berhadapan.
"Aku harus menghadangmu ya, inovasimu terlalu menyusahkan. Sebenarnya aku masih ingin melawan anak sialan tadi, tapi apa boleh buat," ucap Dio.