Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #152

Tidur

Sebelum pertempuran hari kedelapan belas tiba, Alim mengirimkan sebuah surat kepada musuhnya. Surat itu dibawa oleh garuda miliknya yang menyerahkannya dengan penuh hormat.

"Salam dariku wahai lawanku yang terhormat. Bersama dengan surat ini kami menantang komandan para rakshasa atas nama Nanda untuk bertarung satu lawan satu melawan salah satu komandan kami. Jika kalian menerima pertempuran ini maka apabila kami memenangkan duel, kami akan mengampuni semua pasukan musuh dan aku akan memasuki Devaloka dengan damai. Apabila kalian memenangkan pertandingan ini maka kami akan mundur dari Devaloka dengan syarat penantang dari kami tidak boleh mati. Apabila ada kecurangan dan pelanggaran aturan, kami akan menyerang dengan kekuatan penuh kami. Tertanda, Alim," baca Nanda dengan serius.

"Apa ini, mereka meremehkan kita hanya karena kita sama jumlahnya dengan mereka, mereka pikir kita tidak bisa melawan balik di kondisi kita saat ini," ucap Dio dengan geram.

"Ini kesempatan terbaik kita Dio. Kalau kau memang tidak mau mereka memasuki Devaloka, biarkan aku mencoba menahan mereka hari ini dan mereka akan mundur. Tidak ada cara lain lagi yang adil jika kita ingin menang, kita harus memenuhi ajakan damai mereka ini. Sejauh ini mereka hanya menghabisi anggota apsara. Dengan ini kau akan bertahan hidup Dio, hiduplah dengan damai nanti jika aku gugur. Kalau sampai kita melakukan kecurangan, mereka bisa membabat habis kita, takkan ada yang tersisa. Pasukan sekuat narayani sena tidak akan bisa dilawan oleh kita yang sekarang. Kalau mereka menang kita juga akan mendapatkan seorang yang sangat berguna, seorang bangsawan baru yang mungkin bisa memuliakan negeri Devaloka dan sisa dari komandan di sini atau menghancurkan kita semua. Mereka bertujuh akan diperbolehkan untuk memasuki Devaloka kapan saja. Kalau aku gugur tolong hormati mereka, tapi kalau aku menang kita akan mendapatkan hak lebih dari tuan Sakra. Mau bagaimanapun aku kira diri kitalah yang serakah, menjadi penduduk kehormatan di Devaloka adalah hak mereka setelah kemenangan mereka kali ini. Jujur saja aku tidak yakin bisa menang melawan satupun dari mereka, tapi aku akan berusaha yang terbaik," ucap Nanda.

Setelah itu Nanda pun berangkat, membawa gadanya menuju medan tempur di hari terakhir pertempuran mereka.

...

Di medan tempur, ketujuh komandan narayani sena telah berdiri berbaris, menunggu dengan tenang.

"Kenapa kau membuat perjanjian seperti ini cak, gak seru ah," ucap Ihsan.

"Kau sudah hampir gila lagi Ihsan. Aku tak sanggup lagi menahan perkembanganmu. Kalau sampai kau kehilangan kontrol lagi, bukan hanya musuh yang akan musnah tapi kita juga. Kau perlu menenangkan diri kali ini. Kalau bertempur sendirian sih lakukan sesukamu," ucap Alim.

"Hhh baiklah, tapi paktanya berbunyi kalau kau kalah kau akan kembali, bukankah itu malah akan merugikanmu," ucap Ihsan.

"Sebenarnya aku mungkin sedikit berubah pikiran semenjak melihatmu yang sempat kehilangan kendali dalam konflik ini. Aku akan mengembalikan semua hadiah yang kalian beri kok," ucap Alim.

"Itu tawaran bagus Alim, tapi hakmu adalah hak kependudukan di sana, bukan berarti kau tidak bisa pulang ke rumah," ucap Yusuf.

"Hmm benar juga. Mungkin aku akan berkunjung untuk mengecek kesehatan orang tuaku, mengecek keadaan adikku ini, dan sekalian laporan bisnis hahaha. Tapi kalau ternyata kalah, aku akan tinggal di Tirtawangi seperti biasanya. Oiya sebenarnya kalau kita menang kalian juga mendapatkan hak kependudukan di Devaloka dan bukan aku saja," ucap Alim.

"Itu menarik. Aku akan sesekali ke sana untuk mempelajari beberapa hal baru, tapi aku akan tetap tinggal di Ngalam hahaha," ucap Yusuf.

"Karena itu kita akan dapatkan kursi ke Devaloka," ucap Bagas dengan penuh keyakinan.

Saat itu Nanda akhirnya tiba, menggenggam gadanya dengan mantap.

"Jadi Nanda, siapa yang akan kau lawan kali ini, aku, Ihsan, Yusuf, Gibran, Rasha, Bagas atau Rio," ucap Alim.

Nanda menatap mereka satu per satu dengan tajam.

"Siapa yang paling lemah di antara mereka, siapa yang sekiranya bisa kueksploitasi kelemahannya," pikir Nanda.

Pandangannya berhenti, lalu dengan mantap ia menunjuk Gibran.

"Sebenarnya wanita itu yang paling lemah, tapi aku lelaki, bisa tercoreng harga diriku kalau melawan seorang wanita," pikir Nanda sambil bersiap dengan gadanya.

Gibran pun maju ke depan dengan penuh keyakinan, melangkah menuju arena pertarungan.

"Ini tidak adil, kalian boleh membunuh dan kami tidak boleh, apa yang kalian pikirkan," teriak Dio.

"Diam kau. Kami sudah menang saat ini. Kami juga sudah mengusahakan pertandingan seadil mungkin dengan mempersilahkan kalian memilih lawan jawara kalian. Kalau aku mau, kita akan membantai pasukan kalian," teriak Alim, membuat Dio terdiam dengan kesal.

Lihat selengkapnya