Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #153

Mimpi

Alim perlahan membuka matanya setelah beristirahat cukup lama. Ia telah tiba di tanah para aditya.

"Jadi ini Devaloka, jauh lebih indah dari rumahku dulu, sungguh megah negeri para aditya ini," gumam Alim saat menjejakkan kaki di sana.

"Selamat datang di negeri kami wahai pemenang. Kami adalah pelayan barumu yang akan mengantarmu ke ibukota kami di Amaravati untuk bertemu tuan Sakra," ucap dua pria kembar sambil berdiri tegap dengan tombak di tangan mereka.

"Siapa nama kalian, orang-orang baik," tanya Alim.

"Nama saya Soma dan dia kembaran saya Sura. Kami akan mengantar anda ke tuan Sakra. Sura!!, cepat siapkan kencananya," ucap Soma.

"Baiklah Soma," jawab Sura.

"Terimakasih, bagaimana aku bisa membedakan kalian, kalian terlihat sama," ucap Alim.

"Sura sedikit lebih kekar dan lebih gelap dari saya. Pekerjaan kami juga berbeda, saya adalah juru masak dan adik saya seorang penggembala," jelas Soma.

"Kebetulan sekali aku juga seorang penggembala ternak dan juru memasak juga, kita bisa saling belajar. Oiya mereka juga akan kalian antar ke Amaravati kan," ucap Alim.

"Kalau itu kehendakmu kami akan membawa mereka tuan," jawab Soma.

"Baiklah bawa mereka juga," ucap Alim.

"Baik raden," ucap Soma.

"Dari mana kalian mendapatkan julukan itu," tanya Alim.

"Maaf tuan, saya lupa kalau anda orang luar. Kami terbiasa untuk memakai julukan itu disini untuk menghormati seseorang yang terpandang. Kalau engkau tidak berkenan kami tidak akan melanjutkannya," jelas Soma.

"Teruskan saja, tolong angkut yang lainnya juga ya," ucap Alim sambil mengembalikan garuda dan sheeshnaagnya.

"Raden ya, persis seperti di rumah, gimana kira-kira kabarmu raden mas," pikir Alim.

Ia pun diantar menuju Amaravati dengan kecepatan tinggi. Setibanya di sana, Sakra telah menunggu.

"Jadi engkau sudah tiba wahai govinda. Sudah kuduga engkaulah yang akan menjadi pemenangnya. Aku sudah lama menunggumu. Sebelumnya aku berterima kasih engkau tidak menghabisi putriku juga, kau memang anak yang baik. Sekarang kau boleh tinggal disini, kau akan kuberikan dua pelayan setia dan tiga permintaan, mintalah, aku akan berusaha memenuhinya," ucap Sakra.

"Permintaan pertamaku bebaskan Soma dari perbudakan. Permintaan keduaku bebaskan Sura dari perbudakan. Permintaan terakhirku, izinkan aku tinggal sebagai warga biasa dan bukan bangsawan. Cukup tiga hal itu saja," ucap Alim dengan mantap.

"Beraninya kau menolak pemberian tuan Sakra dasar anak congkak," teriak Seno.

"Aku bukannya menolak pemberian, aku hanya meminta keadilan untuk dua orang ini. Kalaupun mereka ingin tetap mengikutiku aku akan mempersilahkan mereka. Aku ingin tinggal sebagai warga biasa saja agar mengerti rasanya untuk meniti tangga perjuangan disini. Lagipula dengan bisnis yang kuurus sekarang gelar kebangsawanan akan memberatkanku. Dengan itu aku bisa pulang menuju negeriku sesuka hatiku, bertemu dengan orang tuaku, kekasihku tercinta dan saudara-saudaraku seperjuangan, terutama adikku yang nakal itu," ucap Alim.

"Kalau itu maumu nak, maka aku berikan kebebasan pada Soma, Sura dan juga padamu. Kini kalian bertiga bebas melakukan apapun," ucap Sakra.

"Terimakasih, sekarang izinkan aku pergi dari sini untuk mencari tempat tinggal," ucap Alim.

Ia pun meninggalkan istana. Soma dan Sura memilih ikut bersamanya.

"Mas, terimakasih atas pembebasan yang kau lakukan, apa yang bisa kami bantu," ucap Sura.

"Aku ingin mencari asrama dengan halaman yang luas untuk memulai kembali bisnisku," ucap Alim.

"Tidak ada tempat seperti itu disini, kau bisa tinggal bersama kami," ucap Sura.

"Iya, kami akan dengan senang hati membantumu. Kami mungkin tidak punya halaman yang luas tapi di dekat rumah kami ada balai warga yang halamannya bisa kau pakai berjualan," tambah Soma.

"Itu lebih bagus, terimakasih," ucap Alim.

Mereka pun berjalan menuju rumah sederhana milik Soma dan Sura. Sesampainya di sana, Alim memandangi sebuah musholla kecil di kampung itu.

"Sini mas, kau boleh tinggal disini," ucap Sura sambil menunjukkan rumah mereka.

"Apakah ada yang tinggal di musholla kecil itu," tanya Alim.

"Tidak ada mas, palingan hanya dipakai sholat jum'at, kenapa memangnya," jawab Soma.

"Aku ingin tinggal disana saja," ucap Alim sambil melangkah menuju musholla.

"Eh mas, kau seharusnya menjadi bangsawan disini, kenapa malah kesini," tanya Sura.

"Dulu aku juga tinggal di tempat seperti ini, bersama saudara-saudaraku. Izin ke siapa aku sekarang," tanya Alim.

"Kau hanya perlu tinggal disini saja dan bilang ke tetanggamu," ucap Soma.

Alim pun berkeliling dan meminta izin pada warga sekitar.

"Eh siapa dia," tanya seorang anak dari belakang.

"Eh Amra, gimana kabarmu, ini pendatang baru," ucap Sura.

"Aku baik-baik saja, udah ada beberapa kerjaan sih nanti malam, kalian kalau gak ada kesibukan ikutlah. Eh tapi kok kalian ada disini, bukannya jangka waktu penebusan kalian masih lama, ini juga bukan hari libur," ucap Amra.

"Kami dibebaskan oleh anak itu, sekarang kami warga mandiri," ucap Soma.

"Eh tunggu dulu, anak itu datang dari tantangan, ngeri wak, bukannya dia masih sangat kecil," ucap Amra.

Lihat selengkapnya