She

Yunda pramukti
Chapter #2

MENGENAL RASA DAN CINTA

Masa-masa sekolah dasarku usai sudah. Sekolah dasar, masih cukup kecil, tapi aku dan teman-temanku sudah mulai lirik-lirik kepada lawan jenis, memang sama sekali belum mengerti mengenai cinta. Hanya perasaan yang dianugerahkan Tuhan itu datang begitu saja secara tiba-tiba. Akhirnya saat SMP pun datang. Aku sering di cap sebagai anak yang sombong dan judes entah mengapa. Padahal menurut aku, aku orang yang baik. Aku selalu diantar sekolah dengan supirku. Kalau pulang sekolah, kadang aku dijemput lagi, tapi lebih sering aku pulang sekolah sendiri, bukan benar-benar sendiri, tapi naik kendaraan umum bersama teman-temanku, juga pacarku yang pasti. Kami selalu berjalan dari sekolah, sampai tempat kendaraan umum itu, cukup jauh, karena untuk menghemat ongkos, jadi supaya bisa naik 1x angkutan umum saja. Kenapa harus sama teman-teman dan pacar? Karena seringnya, setelah pulang sekolah, rumahku jadi tempat berkumpul untuk bermain sekaligus belajar. Orang tua ku selalu terbuka dengan aku. Mereka juga selalu membuka pintu rumah untuk teman-temanku. Aku setuju dengan mereka. Cara mendidik mereka. Karena dengan begitu, anak dan teman-temannya akan lebih apa adanya. Tidak ditutupi. Mereka melihat langsung bagaimana pergaulan kami. Depan rumahku ada lapangan basket, tapi bukan kami gunakan untuk bermain basket, tapi untuk duduk-duduk mengobrol bersama. Kami juga berteman dengan kelompok atau biasanya disebut dengan geng laki-laki. Kami semua bergaul secara positif. Dan sering juga kita bermain ke basecamp mereka. Dulu saat duduk di bangku SMP, aku adalah pengurus OSIS. Ada beberapa acara yang kami berhasil buat. Pensi, acara ulang tahun sekolah, acara valentine day, masa orientasi siswa. Kamu tau siapa yang jadi pejabat osis saat itu? Coba tebak. Pacar? Salah. Yang benar adalah sahabat-sahabat satu geng aku. Kok bisa? Aku juga bingung. Jadi waktu kelas 1 SMP, kita mulai berkenalan, dekat, suka main bareng, cocok, jadilah satu kelompok bermain atau dulu disebut dengan geng. Kita menamakannya sign. Kenapa? Karena kita semua berbeda karakter, punya ciri nya masing-masing, terbentuk dari ketidaksempuraan kita. Ada yang pintar, dia jadi ketua OSIS. Ada yang pintar berbahasa inggris, dia jadi wakilnya. Ada yang pintar menulis, dia jadi sekretaris. Ada yang pintar mengelola keuangan, dia jadi bendahara. KKN? Tidak juga, karena kita semua dipilih berdasarkan hasil voting. Dimana posisi aku? Betul, aku suka menulis. Disitu aku. Sebelum jadi pengurus OSIS, aku bukan siapa siapa. Hidup seperti layaknya siswa seperti yang lain nya. Bedanya, aku dulu kadang di bully. Entah salah ku apa. Mungkin nama hits saat itu adalah di labrak oleh teman seangakatanku. Mulai saat itu, ada satu kakak yang iba terhadapku dan perhatian kepadaku. Dia perempuan. Aku diarahkan untuk menjadi lebih baik, menjadi siswa yang aktif sehingga aku bisa menjadi pengurus OSIS. Sekretaris 1, jabatanku saat itu.

Pagi ini pukul lima pagi. Aku terbangun oleh alarm kamarku. Aku segera mematikan nya, lalu bergegas untuk segera mandi, dan memakai seragam putih biru tua sekolahku. Ini adalah hari pertama sekolahku. Aku harus mengikuti MOS (masa orientasi siswa), beruntung MOS kali ini tidak terlalu pagi jadwalnya. Aku diantar oleh supir pribadiku, aku segera turun dan berjalan menuju lapangan tempat berkumpulnya murid-murid baru. Ada satu papan ada ditempel pengumuman, yaitu nama-nama murid baru beserta dengan kelas-kelasnya masing-masing. Aku hanya kenal dua orang teman disini yang berasal dari sekolah dasar yang sama. Satu temanku, dan satu lagi adalah orang yang kusuka saat sekolah dasar. Lucu karena seperti takdir. Tidak lama, para panitia MOS beserta guru-guru mengumpulkan kami di lapangan untuk membuat barisan sesuai urutan kelas. Lalu acara MOS pun dimulai selama tiga hari. Aku perlahan mulai berkenalan dengan teman-teman baru. Kemudian lama-lama menjadi dekat, menjadi teman dekat, menjadi teman satu permainan.

Beberapa hari setelah MOS berakhir, karena awalnya aku cuma punya teman dua orang, orang yang aku suka itu mendekati aku, dan ternyata diam-diam dia juga menyukaiku. Jaman aku mulai masuk SMP, baru saja mulai masuk jaman-jaman nya ada teknologi yang bernama telepon genggam. Masih langka, karena harganya yang cukup mahal. Belum menjadi kebiasaan anak SMP harus mempunyai telepon genggam. Kegunaan nya pun hanya untuk sms dan telepon, lebih kepada kepentingan kepada orang tua. Nah, aku kebetulan saat masuk SMP dibelikan telepon genggam untuk pertama kalinya. Aku awalnya tidak berpikir bahwa banyak dari murid-murid disekolahku mempunyainya. Ternyata aku salah. Banyak murid disini yang sudah mempunyai telepon genggam, termasuk dua orang temanku itu dan teman-teman baru yang baru aku kenal. Dia, tiba-tiba menanyakan nomor telepon genggamku. Ya karena masih SMP, jadi tanpa basa basi. Aku pun memberikan nomor ku. Ternyata ini yang namanya pendekatan. Dia mulai mengobrol lewat telepon dan sms selama beberapa hari, dan akhirnya dia langsung mengungkapkan isi hatinya lewat telepon. Dan aku menjawab tanda setuju kita pacaran. Dia adalah pacar pertamaku. Pacar yang kusuka semenjak sekolah dasar. Ya, usia 13 tahun saat itu. Aneh, akhirnya orang yang kusuka bisa jadi pacar, dia masuk ke sekolah yang sama. Semenjak SD, aku suka lirik-lirik dia dengan jemputannya. Melihat dia turun dan naik dari jemputannya saja sudah sangat menghibur. Ya memang, sebelum suka dengan dia, aku juga pernah suka dengan yang lain juga, tapi sayangnya bertepuk sebelah tangan. Membagi waktu antara belajar, aktifitas, dan pacaran, bukan hal yang sulit. Aku selalu dapat ranking lima besar, mengurus segala aktifitas OSIS, dan.. berganti ganti pacar. Tapi bukan cewek matre, lebih condong kepada aku yang tidak bisa sendirian. Mungkin karena aku anak tunggal. Dengan teman seangkatan beda kelas pernah, dengan teman seangakatan di kelas yang sama pernah, dengan kakak kelas pernah. Dengan pemain band pernah, dengan pemain basket pernah, dengan pemain sepak bola pernah. Semua ekskul hits di sekolah. Tapi aku anti berondong.

Hari ini saat jam istirahat, aku diam duduk di kelas mengobrol dengan teman. Tiba-tiba pacar pertamaku, berkelahi dengan orang lain karena merasa aku direbut oleh orang itu. Mungkin saat itu dia ingin terlihat seperti penolong tapi dengan caranya yang salah. Akupun langsung berlari melerainya, aku melihat mereka babak belur. Aku ikut terlibat dipanggil keruangan guru untuk menjelaskan perkaranya. Beruntung aku tidak sampai dipanggil orang tuaku. Akhirnya karena peristiwa itu, aku pun putus dengan dia. Karena aku sangat tidak suka dengan laki-laki yang suka berkelahi. Apalagi penyebab nya hanya karena salah paham, dia hanya teman, bukan sebagai perebut pacar. Sebagai penghibur hati, beberapa kali aku pernah mengikuti berbagai perlombaan model, ikut di acara modeling sekolah, bermain musik di acara sekolah, sampai dengan model majalah. Tidak ada yang sampai menang sih, tapi, aku pernah masuk majalah, dan pernah ada tawaran bermain sinetron kala itu. She juga dari dulu orang yang suka sekali dengan belanja kalau sedang galau. Sepatu, tas, baju, mulai dari yang tidak bermerek sampai dengan yang bermerek, sampai dengan designer lokal, She suka mengkoleksi minimal satu merek satu designer. Lemariku sampai tidak cukup untuk menampung. Semua dilakukan oleh She, saat-saat tertentu. Saat sehabis putus cinta misalnya, atau sedang stres dengan pekerjaan nya, ataupun hanya untuk bersenang-senang.

Libur kenaikan kelas hampir tiba. Aku suka sekali mengisi waktu luangku dengan membaca majalah. Di suatu majalah, ada pengumuman bahwa akan ada open studio untuk majalahnya. Aku tertarik untuk mencoba. Akupun berangkat dengan temanku dan driver ke Jakarta. Banyak sekali yang mencoba untuk ikut, karena lumayan, dapat pengalaman, dan jika beruntung, foto kita dapat masuk ke dalam majalah dan juga mendapatkan hadiah menarik lainnya. Beberapa hari mereka membuka studio nya, dan ternyata minggu depannya di majalah episode selanjutnya, terbitlah berita tentang open studio itu, dan betapa kagetnya bahwa ada wajahku menjadi cover majalah dari cerita tersebut. Awalnya aku berpikir inilah awal ku untuk memulai karir yang kusuka. Aku mulai intens mengikuti berbagai perlombaan modelling, akting, mojang jajaka di kota Bogor. Beberapa kali aku masuk menjadi semifinalis, tapi aku selalu gagal menjadi finalis dan menang. Aku tetap berbesar hati, karena ini memang tidak mudah, hitung-hitung menambah jam terbang juga. Ditengah-tengah kesibukan itu, tiba-tiba telepon rumahku berdering dan aku tercengang bahwa yang menelepon itu adalah dari pihak agensi. Jelas aku kaget, karena tidak ada satu perlombaan pun yang aku menangkan, tapi mereka ternyata melihat potensi dan bakatku di bidang modelling dan akting. Cuma sayang, orang tua ku menolak karena bentrok jadwal dengan aku harus ujian akhir. Akupun menuruti nasihat dari kedua orang tuaku untuk mengurungkan niat untuk menerima tawaran itu. Memang bukan jodoh untuk terjun ke dunia itu.

Lihat selengkapnya