She

Yunda pramukti
Chapter #3

DYA

Usia ku saat ini 16 tahun. Aku kini duduk di bangku SMA kelas 1. Ini adalah minggu-minggu pertama ku masuk sekolah sejak kenaikan kelas. Perjalanan hidupku sebelum masuk SMA sudah lumayan berwarna. Sekarang, lebih berwarna. Tidak jauh berbeda dengan yang dulu, aku tetap She. Hanya saja, kali ini aku bersekolah di sekolah negeri yang sebelumnya di swasta, untuk mengejar beasiswa kuliah. Aku termasuk siswa yang pintar, sejak SD aku selalu ranking 10 besar, di SMP bahkan ranking 3 besar. Masuk SMA pun, aku bisa mempertahankan ranking ku di 5 besar hingga akhirnya saat lulus, aku bisa dapat beasiswa yang diincar.

Aku baru saja selesai mengikuti kegiatan MOS beberapa hari yang melelahkan. Aku mulai berkenalan dengan teman-teman baru, mencoba untuk mencari teman sepermainan yang cocok dikelasku, lama-kelamaan kita saling kenal dan dekat, kenal dengan beberapa teman dikelas lain juga, menjadi dekat, menjadi teman main, teman belajar, sampai kami suka berkumpul bersama di sekolah. Jumlah kami ada ber sepuluh. Cukup banyak teman sepermainanku, yang diberi nama plus. Aku pun tidak detil darimana nama itu disematkan pada kami, tapi aku setuju saja. Seperti biasa, kegiatan kami suka jalan bersama, nonton bersama, nongkrong bersama, curhat bersama, mereka juga suka main dirumahku. Temanku pun semakin bertambah di kelas dua. Karena kelas kami terpencar dengan teman-teman kelas satu, kami pun dipaksa untuk berbaur dengan yang lain. Aku mencoba kembali untuk mendapatkan teman sepermainan di kelasku, dan aku mendapatkan lima orang teman sekelasku yang dekat denganku. Sama seperti pada jaman kelas satu, teman di kelas dua ini juga suka bermain bersama, belajar bersama, nongkrong bersama, nonton bersama, dan main kerumahku. Karena berbeda kelas dan pelajaran dengan teman sepermainanku pada saat kelas satu yang dahulu, jadi aku kadang tidak berkumpul dengan teman sepermainanku itu. Sehingga tidak sedekat seperti dulu. Teman-temanku semasa SMA memang dekat, tapi tidak se intens dengan teman-teman di SMP ku. Jika dengan teman-teman SMP ku, aku masih suka menjalin komunikasi dengan mereka. Kalau dengan teman-teman SMA ku, sudah mulai jarang-jarang berkomunikasi.

Pagi ini sama seperti kebiasaan ke sekolah dari dulu, aku diantar sampai depan pintu gerbang dengan mobil, lalu akupun berjalan melewati sebuah lapangan dan masuk ke kelas yang berada di koridor kiri. Awal-awal aku masuk SMA, ada kakak kelas di kelas 3, dia mendekati aku, mengajak berkenalan. Dia sama denganku, dia melihat aku dari acara keagamaan disekolah. Aku nyaman dengan dia, senang bertemu dengan dia. Semakin intens, bukan cuma sekedar dekat di sekolah, tapi kita jalan bersama. Suatu hari, dia ingin mengajak aku pergi di akhir pekan. Aku pun meng iyakan ajakannya. Pagi itu dia menjemput aku dengan mobilnya. Mengenakan kemeja yang super rapih dan wangi. Kami berkeliling ke salah satu mall di Jakarta pada siang hari. Kami duduk di salah satu taman yang ada di mall tersebut setelah menyantap makan siang bersama. Pada saat itulah dia mengutarakan perasaan nya padaku. Dia menatapku dan memegang tanganku. Aku pun mencoba sebenarnya untuk bisa suka dengan dia. Tapi aku tidak bisa memaksakan diriku, aku nyaman dengan dia sebagai teman dan kakak. Dengan halus aku langsung dengan yakin untuk menolaknya. Dia tetap sabar mendekati aku, sampai tanpa sepengetahuan aku, dia mendekati mama aku. Dia bercerita apa adanya tentang kita. Bahkan sampai bertanya apakah dia layak dengan aku. Aku pun baru mengetahuinya bertahun-tahun setelah kejadian itu. Karena aku kaget, ternyata dia se serius itu dengan aku. Saat aku dan mama saling bertukar cerita, mama ku memberi jawaban kepada dia saat itu secara bijak. Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Layak atau tidaknya, yang menjadi penilaian adalah takut dengan Tuhan, serta bibit, bebet, dan bobotnya. Persoalan ganteng dan tidak itu relatif, karena rasa di hati itu timbul dengan sendirinya. Tapi karena aku sudah terus terang dengannya, dia pelan-pelan pun mundur. Awalnya pun aku sempat merasa kehilangan. Tapi, tidak lama setelahnya, siang itu saat pulang sekolah, ada beberapa kakak kelas laki-laki dikelas 2 datang menghampiriku. Sekadar mengobrol dan mengajak makan siang bersama. Aku meng iyakan.

Seseorang tertarik padaku. Sebut saja dia Tom. Sayangnya, aku tidak jatuh cinta pada pandangan pertama. Terasa rumit saat itu, karena pada saat yang sama, ternyata ada satu teman Tom, dia juga tertarik padaku. Entah, awalnya aku merasa biasa saja. Aku hanya ingin bergaul, dan punya teman. Bukan karena aku cantik, atau yang lain nya. Awalnya Tom menghampiri aku di depan kelasku disaat jam istirahat. Aku tidak kenal, tapi dia mengajak berkenalan. Karena tidak enak karena dia kakak kelas, akupun berkenalan. Sebenarnya aku tidak terlalu nyaman dengannya, tapi saat sepulang sekolah dia mengajak aku jalan bersama, nonton, dan akhirnya aku diajak ngeband bersama dengan Tom, tapi ada Dya disana, karena kami berkelompok dan kebetulan kami punya selera yang sama. Dya namanya, dan biasa dipanggil dengan sebutan Dy. Dy adalah teman dekat Tom, yang juga suka ngeband bersama. Setelah ngeband, Tom mendekati aku dan bicara tentang hatinya, dan saat itu aku berpikir aku harus jujur juga dengan hatiku sehingga aku menolaknya, karena aku mau diajak ngeband, jalan, ya hanya sebatas untuk menjadi teman. Dia pun merasa kecewa, tapi menerima keadaan ini. Tidak lama kemudian, Dy yang berada disekitar kami pun mengetahui kalau aku menolak Tom. Dy perlahan mulai mendekati aku, dengan mengunjungi kelasku, mengajak pulang bersama, nonton bersama, main bersama dan bermusik bersama teman-teman sekelompoknya dirumahnya. Dia membuat beberapa lirik lagu yang aku suka. Sampai satu titik, tanpa janjian terlebih dulu, dia main kerumah ku, jujur aku kaget dia tahu rumahku, tapi aku senang Dy berkunjung ke rumahku. Kami duduk di depan teras rumah dan bicara dari hari ke hati. Aku mulai merasakan debaran jantung yang tidak biasa. Tapi aku mencoba untuk seperti biasa. Kami melakukan pendekatan, banyak obrolan santai seperti pertanyaan seputar hobi, apa yang disukai dan tidak, dan banyak yang lainnya. Aku menyambutnya dengan penuh antusias, karena aku sebenarnya pun menyukai dia karena dia secara fisik adalah tipe aku. Tak terasa hari mulai memasuki malam, dia pun pamit untuk kembali ke rumahnya, sambil dia mengajak aku untuk besok sepulang sekolah jalan bersama. Lagi-lagi aku sangat menyambutnya.

Keesokan hari sepulang sekolah, dia menghampiri kelasku. Satu kelaspun langsung bersorak ramai karena aku didatangi cowok kakak kelas yang lumayan terkenal, padahal aku baru saja masuk sekolah sekitar satu bulan. Aku menghampiri, dan kita jalan bersama. Kita memang belum bergandengan tangan, tapi kita berdua sebenarnya saling bersikap salah tingkah saking senangnya. Kami berjalan keluar sekolah melewati banyak pohon yang rindang, sambil dia mengajak aku untuk nonton. Dy memang tidak membawa mobil ataupun motor. Jadi kami naik angkutan umum menuju bioskop. Setelah kami nonton bersama di bioskop siang itu yang dimana dia mulai kasih sinyal asmara, dia duduk di samping aku, kami pun berkumpul bersama di rumahnya yang menjadi tempat kumpul. Hari ini ramai dengan teman-teman yang lain. Tapi tetap, perhatian kami satu sama lain memiliki sinyal lain. Dia mendekatiku, duduk disampingku dan dia mengutarakan isi hatinya. Aku duduk di samping rerumputan taman rumahnya. Dia berkata, "She, aku tahu kamu baru saja ditembak dengan temanku sendiri. Dan akupun tahu kamu baru saja menolaknya. Akupun tahu kalau mungkin ini waktu yang kurang tepat, mungkin terlalu cepat untuk kamu. Tapi aku tidak bisa memendam terlalu lama rasa ini. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku dan temanku punya rasa yang sama kepada kamu. Tapi aku harus ungkapkan rasa ini kepada kamu. Aku sayang kamu, She. Apakah kamu mau menjadi pacar aku?" Dia berkata sambil memegang tanganku. Akupun menjawab, "ini sulit untukku karena dia teman kamu, aku tidak mau merusak hubungan persahabatan kalian, tapi aku juga bingung karena aku tidak bisa menutupi rasa yang aku punya untuk kamu, rasa yang sama." Karena dia berjanji untuk memperbaiki perlahan hubungan persahabatan mereka, bak gayung bersambut, akupun sepakat tanpa lama berpikir. Hei, kita jadian, Dya. Walaupun, dengan adanya aku, hubungan persahabatan Tom dan Dya sempat retak. Tidak sampai adu fisik, hanya adu mulut. Aku tau rasa hancurnya Tom. Maaf. Dan termasuk, pelan-pelan aku menyadari, sebenarnya, kakak-kakak kelas yang awalnya mendekati aku itu sama, tidak berbeda denganku, yang seharusnya bisa berjalan lebih mudah.

Lihat selengkapnya